Kini manik gelap mereka saling bersitatap. "Bulanku, sayangku, kekasihku, cintaku, hidupku... Please... Jangan pernah tinggalkan kakak..." Pinta dia tidak bisa dia bayangkan Perth pergi dari hidupnya.
"Ceraikan aku atau bunuhlah aku!"
"Ceraikan aku atau bunuhlah aku!"
"Ceraikan aku atau bunuhlah aku!"
"Ceraikan aku atau bunuhlah aku!"
"Ceraikan aku atau bunuhlah aku!" Itulah yang selalu Perth ucapkan berulangkali hingga akhirnya Meen meminta dokter yang merawat Perth untuk memberi Perth obat penenang.
Meen tidak bisa menyalahkan Perth, tidak akan pernah bisa sebab ini semua terjadi karena ulahnya sendiri.
Meen pikir, dengan membawa Perth berobat ke psikiater, Perth akan kembali seperti semula. Itu akan terjadi, jika orang tuanya tidak ikut campur.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita mengenai istrimu yang gila?" Teriak mamanya baru datang langsung marah-marah, beruntung kantor Meen kedap suara.
Kening Meen mengernyit setelah berhasil menenangkan dirinya dari keterkejutannya.
"Jika bukan Ping yang cerita, mama dan daddy tidak akan pernah tahu mengenai istrimu yang gila!" Tambah dia lagi lebih keras nada bicaranya dari tadi.
Degh, dada Meen berdebar-debar. Selama ini dia sudah berusaha menyembunyikan fakta mengenai Perth yang sedang menjalani perawatan mental.
"Adek tidak gila ma, dad. Semua yang dikatakan oleh Ping itu bohong!" Tukas Meen setelahnya dia rasakan beberapa lembar foto mendarat di wajah tampannya. Itu foto mengenai Perth yang sedang menjalani perawatan.
Daddynya yang melempar foto tersebut.
"Ceraikan dia!"
Meen menggeleng, "Aku gak akan pernah menceraikan dia. Lagipula dia lagi hamil dad!" Tolak Meen sampai kapanpun dia tidak akan pernah menceraikan istrinya.
Mendengar perkataan Meen, ekspresi orang tuanya semakin memburuk, "Kalau begitu bawa dia pulang!" Ini perintah dan harus di turuti, orang tuanya tidak menerima penolakan.
Perintah yang kembali membuat Meen menyesal.
Malam hampir berganti pagi ketika Meen terbangun karena tubuh Perth mulai gelisah dalam pelukannya. Tubuh mungil itu berkeringat, menggeliat kecil, lalu mengerang lirih. Meen membuka matanya sepenuhnya, jantungnya langsung berdegup tak karuan saat mendengar suara lirih dari bibir Perth.
"Jangan... jangan sentuh aku... jangan..."
Jeritan kecil itu membuat Meen bangkit duduk, tangannya sigap mengguncang tubuh Perth dengan hati-hati.
"Sayang! Sayang, bangun! Itu cuma mimpi!" Suaranya panik tapi lembut. Ia menepuk perlahan pipi Perth yang kini mulai menjerit lebih kencang. "Sayang, bangun! Kakak di sini, itu cuma mimpi!"
Mata Perth mendadak terbuka, napasnya memburu, tubuhnya gemetar. Ia terlihat kebingungan sejenak, sebelum akhirnya menyadari bahwa ia tengah berada di kamar rumah sakit—dan dalam pelukan Meen. Cahaya lampu remang-remang, suara monitor jantung, dan wajah Meen yang menatapnya penuh khawatir membantu menenangkannya perlahan.
Nunu yang sempat terbangun karena jeritan itu juga langsung menghampiri mereka, berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi khawatir.
"Perth... kamu gak apa-apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Unconditionally - The End
FanfictionMereka menikah di kehidupan ini... Namun hanya Meen yang tahu, ini adalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semua luka yang dulu ia torehkan. Perth... kembali dengan kenangan yang sama perihnya. Tubuhnya gemetar saat disentuh, jiwanya p...
