15 : Come Back To Me

485 52 10
                                        

Sorry for typo dan kata yang hilang

❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

05:00 am.
Meen bangun ketika dia merasakan badannya sudah mulai panas dengan hasrat birahi yang mulai membumbung tinggi. Sepertinya efek obatnya sudah habis.

Segera dia bangun, di vila ini hanya ada dia sendiri sehingga kalau dia mau sesuatu harus dia lakukan sendiri.

Sebenarnya ada pelayannya, cuman dia minta pergi selama dia ada di sini.

Setelah minum obat dia pergi mandi, masak habis itu sarapan sambil melihat rekaman CCTV yang ada di apartemen. Dia memasang CCTV kecuali kamar tidur dan kamar mandi.

Rencananya setelah dia makan, dia melanjutkan pekerjaannya.

Awalnya memang tidak ada yang spesial dari rekaman tersebut namun lama kelamaan dia melihat Perth keluar dari kamar dengan berlari menuju ruang kerja sembari memanggil namanya.

Degh!
Dadanya berdebar-debar cemas ketika melihat Perth menangis karena tidak dia dapati Meen di ruang kerja. Detik berikutnya Meen menghubungi Max untuk menjemput dia menggunakan helikopter, segera.

Saking tergesa-gesanya dia, dia sampai lupa membawa ponselnya. Oleh karena itulah ketika Perth menghubungi Meen, masuk tapi tidak dia angkat.

Begitulah ceritanya kenapa dia bisa berada di apartemen dan sekarang dia dan Perth saling bersitatap.

Keheningan yang melingkupi ruang makan itu terasa hangat. Hanya ada suara detak jam dinding dan desiran napas dua insan yang kini saling duduk berdampingan. Tak ada yang bicara. Perth hanya menatap Meen dalam diam, tatapan yang begitu dalam, seperti ingin menggali dan memahami segala luka, segala kesabaran, dan segala cinta yang ada pada Alpha di hadapannya.

Perlahan, Perth menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Matanya menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada satu pun orang lain di sana. Gerakan kecil itu begitu hati-hati, seperti rahasia yang ingin dia jaga agar tetap utuh, agar hanya milik mereka berdua. Entah apa yang ada di benaknya, yang jelas sorot matanya menunjukkan bahwa ia tidak ingin ada gangguan.

Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati, Perth menggeser kursinya sedikit mendekat ke arah Meen. Kemudian, dia meraih tangan kanan Meen. Dingin dan mungil jemarinya menyentuh tangan kekar milik Alpha-nya, dan tanpa ragu, dia kecup punggung tangan itu—lama, dalam, penuh makna.

Meen membeku sejenak, lalu mengulum senyum. Hatinya meledak bahagia. Sudah lama dia menunggu momen seperti ini—momen di mana Perth tidak hanya menerima keberadaannya, tetapi juga menghampirinya lebih dulu. Bukan karena terpaksa, bukan karena takut, tapi karena Perth ingin.

Mungkin kecil. Tapi untuk Meen, ini adalah keajaiban.

"Haruskah aku mencarikan Omega untukmu?" bisik Perth, pelan, hampir tak terdengar, seolah-olah dia sendiri tidak yakin dengan pertanyaannya. Suaranya rendah, matanya tetap tertunduk, dan ujung bibirnya bergetar sedikit.

Meen terkesiap pelan. Dia tidak segera menjawab, hanya memperhatikan wajah istrinya dengan tatapan dalam. Di kehidupan sebelumnya, pertanyaan seperti itu langsung dijawab oleh Perth dengan kalimat, "Iya, cari saja." Tapi kini... apakah hatinya masih sama?

"Memangnya adek rela melihat kakak bercinta dengan yang lain?" tanya Meen, suaranya pelan namun tajam. Ia ingin tahu sejauh mana perubahan ini. Ingin tahu apakah cinta itu, perlahan, sedang kembali tumbuh.

Perth tidak langsung menjawab.

Dia diam. Lama. Terlalu lama.

Degup jantung Meen mulai tak karuan, dadanya terasa sesak menunggu jawaban. Satu kata dari Perth bisa saja menjatuhkannya, bisa juga menyelamatkan harinya.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang