33 : Impossible

316 33 31
                                        

Ping membuka matanya perlahan, kelopak matanya masih terasa berat dan sedikit bengkak akibat menangis semalaman. Kepalanya terasa penuh, tubuhnya lelah, dan hatinya masih sesak. Setelah tangisnya reda semalam, ia tertidur tanpa sadar, membiarkan perasaannya yang remuk menelan seluruh energinya.

Sudah tiga hari berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Meen—tepat di hari pertama Perth masuk rumah sakit. Hari itu, Meen mendatanginya bukan karena rindu, apalagi simpati. Meen datang karena yakin bahwa Ping-lah dalang di balik penderitaan istrinya sendiri. Meen dengan tenang namun penuh amarah menuduh Ping telah menyuap pembantu di rumah mereka, memerintahkannya untuk memasukkan obat ke dalam minuman Perth. Dan kini, akibat dari ulah itu, Perth harus dirawat di rumah sakit.

Ping menghela napas berat. Hatinya masih dipenuhi harap, berharap bahwa Meen suatu saat akan memaafkan semua kesalahannya. Memberinya kesempatan untuk berubah. Bukankah setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua?

Dengan langkah lemah, ia keluar dari kamar menuju ruang makan. Di meja, sudah terhidang berbagai jenis makanan. Ping menatapnya kosong. Sepertinya Mangkorn, pria yang kini menampungnya, memesan semua makanan itu. Di unit apartemen ini, hanya mereka berdua—Ping dan Mangkorn.

Sejak diusir dari rumah orang tua angkatnya, Ping tak punya tempat lain untuk pergi. Satu-satunya orang yang dia rasa masih mungkin menerimanya adalah Mangkorn. Dia menghubunginya dan selama tiga hari ini tinggal di sini, meski hubungan mereka bisa dibilang jauh dari kata dekat.

Tak lama, Mangkorn keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Setelan kerjanya sudah terpasang sempurna. Dia melangkah ke ruang makan, lalu menarik kursi dan duduk di seberang Ping. Tatapannya langsung menangkap wajah lesu dan tatapan kosong omega itu.

"Kamu masih menangisi dia?" suara berat Mangkorn membuyarkan lamunan Ping.

Ping menoleh, sorot matanya sayu dan merah. "Memangnya salah kalau aku masih menangisi dia?" ucapnya pelan, suara sengau menunjukkan ia masih belum benar-benar pulih. "Rasa di hatiku untuk dia... bukan sehari atau tiga hari, tapi sudah bertahun-tahun. Dan... tidak semudah itu untuk melupakan. Bahkan... hatiku saja menolak untuk melupakannya."

Mangkorn tidak langsung merespons. Ia termenung sejenak, lalu menghela napas pelan sebelum akhirnya bicara, "Sesuka apa pun kamu kepadanya, bukankah dia sudah menikah? Aku rasa... nggak pantas kalau kamu masih mencintainya."

Sebenarnya Mangkorn tidak tahu siapa pria yang menjadi pusat perhatian dan cinta buta Ping selama ini. Ping tidak pernah menyebut nama, hanya menceritakan bahwa pria itu adalah seorang Alpha yang kini telah menikah.

Hubungan Ping dan Mangkorn bukanlah hubungan yang dekat, tapi juga tidak benar-benar jauh. Bisa dibilang, mereka hanya sebatas teman sesekali—orang yang tahu satu sama lain, tapi tidak pernah terlalu dalam menggali kehidupan pribadi. Mangkorn memang menjaga jarak dari Ping karena tahu betapa berbisanya omega satu ini. Selain itu, dia juga tidak ingin urusannya dicampuri, apalagi terlibat dalam konflik rumit yang Ping buat sendiri.

Namun, meski Mangkorn enggan terlalu dekat, Ping kerap bercerita tentang perasaannya. Tentang rasa cintanya yang lama terpendam. Tentang obsesi. Tapi tetap saja, dia tak pernah menyebut siapa orang yang dia maksud. Mungkin dia takut Mangkorn ikut jatuh cinta. Terlebih Mangkorn memang memiliki ketertarikan kuat terhadap Alpha, meski beberapa tahun terakhir dia mulai tertarik dengan omega yang menurutnya... unik dan tertutup.

Keduanya makan dalam keheningan yang terasa sedikit mencekam. Obrolan yang sempat muncul tadi cukup berat untuk dibahas di pagi hari. Ping menatap Mangkorn, kesal dengan kalimatnya yang seolah tak berpihak. Namun Mangkorn tak peduli. Ia tetap makan dengan tenang.

"Dia memang sudah menikah, tapi kan bisa cerai," gumam Ping, menahan geram. "Selagi dia belum menandai istrinya, aku masih punya kesempatan untuk mendapatkannya."

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang