26 : Menggoda Melalui Sentuhan

373 43 10
                                        

Klik.

Blamnnn.

Suara pintu kamar mandi terbuka, lalu tertutup perlahan. Uap hangat masih mengepul lembut dari sela-sela pintu yang baru saja dirapatkan oleh Perth. Ia berjalan santai melintasi kamar, hanya mengenakan bathrobe putih lembut yang sedikit terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Rambutnya masih sedikit basah, meneteskan butiran air yang menggelinding perlahan di sepanjang leher jenjangnya, lalu jatuh ke tulang selangka yang samar tertutupi kain tipis bathrobe.

Langkahnya ringan saat ia membuka lemari pakaian. Tangannya terulur, memilih setelan yang ingin ia kenakan malam ini. Dalam benaknya, ia masih mengingat jelas pakaian Meen—kemeja lengan panjang warna salem yang membingkai tubuh tegap itu dengan sempurna, dipadukan dengan celana chinos hitam yang memberi kesan maskulin dan rapi.

Perth ingin mengenakan sesuatu yang senada. Bukan karena ingin tampil serasi, tapi karena diam-diam ia merasa nyaman saat menyatu dengan dunia milik Meen.

Suara musik lembut dari speaker kamar mengalun lirih, menciptakan suasana yang menenangkan. Merasa sendirian, Perth tanpa ragu melepaskan bathrobe-nya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Ia berdiri membelakangi pintu, tubuhnya kini sepenuhnya telanjang, memamerkan keindahan kulitnya yang putih mulus bagaikan porselen, lekuk tubuhnya yang alami, polos, dan belum ternoda siapapun.

Tepat saat bathrobe menyentuh lantai, pintu kamar terbuka pelan. Tak ada ketukan.

Meen masuk.

Blamnnn.

Suara pintu tertutup membuat Perth menoleh kaget ke belakang—dan detik itu juga, waktu seperti berhenti.

Tatapan Meen langsung membeku pada sosok istrinya yang kini berdiri tanpa sehelai benang pun, terpahat sempurna oleh cahaya matahari sore yang masuk dari sela jendela. Jantungnya berdebar kencang, begitu hebat hingga terasa mengguncang seluruh rongga dadanya. Lidahnya kelu. Otaknya seperti mendidih oleh gelombang panas yang entah datang dari mana. Hanya satu kata yang sempat melintas di benaknya: indah.

Tubuh itu. Tubuh yang selama ini hanya ia lihat dalam balutan pakaian longgar dan kain hangat. Kini telanjang di hadapannya, menampilkan segala kesucian, segala kelembutan yang belum pernah tersentuh oleh siapa pun. Pinggul sempit, punggung ramping, kulit sehalus kelopak bunga. Dan pantat semok Perth... Tuhan. Rasanya seperti mimpi yang berubah menjadi nyata.

Perth langsung kelabakan. Ia bergegas memungut kembali bathrobe-nya dan membalut tubuhnya seadanya. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena malu, tetapi juga karena ia tahu—Meen melihat semuanya. Setiap lekuk. Setiap inci.

"Kakak! Kenapa nggak ketuk pintu dulu sebelum masuk? Keluar dulu, adek mau berpakaian!" seru Perth tergagap, suaranya gemetar oleh rasa malu yang membanjiri dirinya. Matanya mencari jalan keluar, tapi ruangan itu terasa semakin sempit, semakin sesak oleh tatapan suaminya yang membakar.

Tapi Meen tidak bergerak menjauh.

Sebaliknya, dia tersenyum—senyum simpul yang mengandung ketertarikan, rasa kagum, dan... hasrat. Tubuh tegap itu mulai melangkah maju, perlahan namun mantap. Setiap langkah seperti menekan udara di sekitar Perth, membuat napasnya tercekat di tenggorokan.

"Kenapa?" bisik Meen lembut, suaranya dalam dan rendah, seperti desir ombak malam yang menghantam bibir pantai. "Bukankah kakak suamimu, Dek?"

Langkahnya mendekat, sementara tatapannya tetap tertuju pada mata Perth—hangat, namun menyala oleh gairah yang tertahan.

"Bahkan, tubuh telanjangmu saja... kakak berhak melihatnya dengan bebas."

Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Perth memundurkan langkah dengan gugup. Bathrobe di pelukannya makin erat, matanya membelalak, dan napasnya makin memburu.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang