34 : Today

373 41 12
                                        

"Tadi, gimana pengalamannya berada dengan yang lain tanpa ada kakak, hembn?"

Suara Meen terdengar hangat dan penuh perhatian, menggema pelan di dalam ruangan rawat inap yang sepi. Jemarinya sibuk menata kotak-kotak makanan yang dibawanya sendiri. Meen memang baru saja menyelesaikan rapat, tapi bukannya pulang ke rumah, dia langsung ke sini, ke tempat satu-satunya orang yang membuat seluruh kelelahan dunia terasa ringan: istrinya.

Perth yang sudah duduk manis di ranjang pasien langsung menoleh, matanya berbinar seperti anak kecil yang sedang menanti kejutan. "Awalnya adek takut... tapi tak lama setelah itu, abang datang!" jawabnya riang, mata langsung melirik makanan kesukaannya yang tertata rapi. Ia mengambil sendok, namun menanti dengan sabar hingga Meen selesai menata semuanya.

Meen tersenyum lebar melihat antusiasme itu.

"Abang? Anan?" tebaknya, masih tetap menahan tawa kecil.

Anggukan cepat dari Perth mengiyakan. "Kalau begitu, buket mawar biru itu abang Anan yang beliin?"

Perth kembali mengangguk, semangat dan matanya begitu hidup, penuh warna.

Meen tak bisa menahan diri lagi. Ia segera duduk di samping Perth, memastikan jarak mereka sedekat mungkin. Bahkan tak butuh satu detik, tubuh mungil Perth langsung berpindah ke atas pahanya. Memeluknya erat. Hangat. Manis. Seolah semua yang berat di dunia ini bisa hilang hanya dengan satu pelukan seperti ini.

"Capek banget ya dek habis berinteraksi sama orang selain kakak?" bisik Meen lembut, tangannya mengusap punggung belakang Perth dan mencium pelipisnya dengan kasih tak berbatas.

Perth menggeleng ringan. "Adek gak capek kak... Adek memeluk kakak karena adek pengen ngasih vitamin buat kakak. Soalnya, kakak pasti capek banget selama tiga hari terakhir ini."

Ia mulai menyebutkan satu per satu kegiatan Meen dalam tiga hari itu—rumah sakit, kantor polisi, rumah, rumah sakit lagi, lalu ke kantor, dan kembali ke rumah sakit. Jemarinya yang kecil mencengkeram bahu Meen, matanya tak lepas dari wajah tampan yang kini berada hanya sejengkal darinya.

Tatapan mereka bertemu.

Tatapan yang penuh cinta dan kepedulian.

Meen mengecup pipi istrinya tiba-tiba, membuat pipi Perth yang memang tembam itu semakin merona. Perth spontan membalas ciuman itu, mengecup pipi suaminya sambil terkikik pelan.

"Udah gak capek lagi, kan kak?" bisiknya dengan lembut, sedikit ragu namun penuh perhatian.

"Gimana kakak bisa capek... kalau yang menyambut kakak itu senyum indah dari adek seperti ini." Balas Meen, matanya membelai wajah Perth dengan sorot yang menghangatkan.

Dan kemudian... tatapan mereka saling mengunci, tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi. Wajah mereka kian mendekat, hingga bibir mereka saling bersua. Sebuah ciuman hangat yang dimulai pelan... namun cepat berkembang jadi ciuman yang dalam, lembut namun menuntut, penuh rindu namun suci.

Meen menahan diri, tapi ciuman Perth kali ini terasa berbeda. Tidak ada penolakan. Tidak ada ketegangan. Perth membalas ciuman itu dengan mata terpejam, menyerahkan rasa dalam diam, membiarkan dirinya larut dalam kehangatan Meen.

Namun ketika tangan Meen menyusup ke balik pakaian pasien, menyentuh kulitnya, tubuh Perth refleks menegang. Ciuman itu terputus. Tangannya dengan cepat menggenggam tangan Meen dan menariknya keluar dari balik bajunya.

Perth menunduk, mata berkaca-kaca. "Ma-maaf kak..." lirihnya. Nada yang begitu pelan hingga hampir tak terdengar, seolah merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Meen mematung sebentar. Tapi hanya sebentar.

Ia langsung tersenyum lembut, jemarinya menyapu pipi Perth yang mulai basah. "Tidak apa-apa sayang. Jangan bersedih..." Suaranya nyaris seperti bisikan sakral, begitu pelan dan dalam. Ia tahu... dia harus sabar. Perth belum siap. Bukan karena tidak cinta — tapi karena luka di masa lalu masih membekas begitu dalam.

The Unconditionally - The EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang