"Kamu adalah tempat peraduan ternyaman dan obat paling mujarab. Jadilah kekasihku, menua bersamaku."
Now Playing: Kau Rumahku by Raissa Anggiani
Untuk apa buang-buang waktu untuk sebuah perasaan yang saling membutuhkan? Waktu sudah mengiringi, tak ada yang perlu ditunggu untuk sebuah restu. Mahesa sudah memiliki cukup tabungan untuk sebuah rumah tangga, Helen juga sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang istri. Mereka berdua masing-masing memiliki alasan mengapa harus saling membutuhkan. Terlepas siapa yang cintanya lebih besar, tak perlu diukur selama perasaan itu tumbuh satu sama lain.
"Kal, dia orang yang beberapa bulan lalu gue kenalin ke lo. Sekarang dia jadi pacar gue dan akan gue nikahi dimasa depan." Disebelah pusara Haikala, Mahesa duduk bersimpuh ditemani Helena disebelah. "Minggu depan gue bakal tunangan sama dia. Lo kaget kan? Tiba-tiba gue kasih kabar ini ke lo. Secepat ini gue melangkah sampai kearah paling serius dalam sebuah hubungan."
Meski tak akan pernah temukan jawaban dari sang teman, Mahesa tetap mengajaknya bicara. Seolah-olah angin akan menyampaikan padanya yang jauh, dan akan menjawabnya secepat yang semesta bisa lakukan, entah lewat mana ia akan tersampaikan.
"Iya, dia terlalu nakal buat gue biarin terbang bebas."
Mendengar pernyataan Mahesa, Helen langsung menatap kekasihnya dengan alis bertaut.
Melihat ekspresi Helen, Mahesa justru merasa senang. "Kenapa? Emang kamu nakal 'kan? Aku lengah sebentar aja udah ada yang nyamperin."
"Lagian kamu yang nyebelin!"
"Tapi kamu suka cowok nyebelin."
"Ya mau gimana lagi!" Helen memberenggut. Tidak ada yang tahu darimana perasaan itu tumbuh dan apa alasannya. Cinta itu ada karena terbiasa, dan Helena merasakan hal itu sepenuhnya ketika bersama Mahesa. "Aku merasa nggak kamu inginkan. Aku nggak pernah tau perasaanmu dan aku juga nggak pernah kamu kasih kepastian untuk bertahan dalam hubungan ambigu ini. Aku pikir aku cuma orang yang kamu butuhkan ketika memang kamu lagi butuh ditemani."
"Iya. Aku memang butuh ditemani. Aku terlalu kesepian dan aku butuh kamu untuk itu. Memangnya salah kalau aku selalu panggil kamu dan membutuhkan kamu?"
"Kalo kamu kasih tau perasaanmu aku nggak akan merasa dikasih harapan palsu."
Mahesa tidak mengerti mengapa Helena kini begitu menggemaskan. Mengapa perempuan itu sangat mudah merajuk padanya setelah menjadi kekasih, mengapa Helena tidak mau mengalah padanya lagi.
Ketika Mahesa kembali menatap pusara Haikala yang membisu, ia tersenyum padanya yang entah dimana.
"Liat, Kal. Dia anaknya nggak suka disalahin. Kaya lo dulu."
Helena memandang object yang sama dengan apa yang Mahesa lihat. Nama diatas nisan keramik itu kini terukir jelas dan indah, namun seindah-indahnya sebuah batu nisan, ia tak akan pernah memberi kebahagiaan kepada siapapun yang menatapnya.
"Dia cium aku waktu kita nggak punya hubungan apa-apa, Kala." Detik itu, Helena ikut-ikutan mengadu pada Haikala. "Gimana bisa aku menganggap semuanya baik-baik aja setelah itu semua terjadi diantara kami berdua?"
Andai Mahesa tidak melangkah begitu dekat padanya, Helena tidak akan berharap lebih. Andai setiap pengakuan Helen dibiarkan tanpa disentuh, Helen mungkin akan melupakan perasaan itu perlahan-lahan. Mereka akan menjadi selayaknya teman seperti sedia kala andai Mahesa tidak mengecup bibirnya, tidak memanggutnya begitu dalam hingga Helen kehabisan nafas dan berpikir yang bukan-bukan. Ciuman itu menjadi sesuatu yang begitu candu, bagaimana Helena bisa mendustai perasaannya sendiri?
KAMU SEDANG MEMBACA
2. Antariksa Berkelana [Completed]
Fanfiction[SUDAH TERBIT] BAGIAN KEDUA 'Semesta dan rumahnya' Setelah kepergiannya, semua orang melangkah dengan kaki mereka yang patah. Terseok-seok melewati waktu yang panjang, berhenti untuk menangis, berjalan kembali dengan luka yang masih sama. Maka disin...
![2. Antariksa Berkelana [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/314866039-64-k653501.jpg)