Sepertinya, prioritas kita bukanlah bahagia melainkan bertahan hidup. Buktinya, banyak hal yang bikin sakit, tapi kita tetap bertahan.
-Fiersa Besari
Now Playing : Muak by Aruma
Kara duduk bersimpuh setelah menanggalkan seluruh baju sang anak dan mengganti dengan piyama yang ia bawa dari rumah. Acara sudah usai, tidak ada lagi tamu yang tersisa setelah pukul 12. Tamu yang terakhir meninggalkan tempat acara setelah bercengkrama beberapa saat dengan Mahesa adalah Sagara. Laki-laki itu adalah tamu yang datang paling terlambat, dan pulang paling belakang.
Sisa-sisa acara sudah dibereskan. Tak ada lagi keramaian dan suara musik lirih dan mengalun romantis, tidak ada lagi tepuk tangan meriah. Yang tertinggal hanyalah teman sejiwa beserta Helen dan Luna, mereka masih berkumpul dengan percakapan yang tak berujung, sesekali tawa terdengar sampai kedalam resto, tempat dimana Kara kini terpekur seorang diri, sambil memandangi anaknya yang menangis sepeninggal Gio dan Gea dari lokasi acara.
"Udah nangisnya?" Tanya Kara pada sang anak. Kini, suara tangis bocah itu tak bersuara. Gea dan Gio sudah meninggalkan tempat acara sejak 1 jam yang lalu, dan selama itu pula Miko menangis.
"Miko bobok ya."
"Nggak mau." Jawab Miko dengan gelengan yang begitu pasti. Air matanya masih berlinang hebat, es krim rasa melon ditangannya kini mencair dan mengotori piyama.
Sedangkan Kara tak punya daya apapun untuk memarahi anaknya. Meski piyama itu baru saja diganti, meski ini sudah malam dan semua orang harusnya beristirahat.
"Terus Mama harus gimana? Miko kan tau, Mama nggak bisa kasih adik."
Iya, Miko menangis karena ingin punya adik seperti Melia.
Puas ia menahannya sampai penghujung acara. Kini, ia tumpahkan semuanya.
"Kan waktu itu mama janji mau kasih Miko adik. Mama bohong!"
Tangan mungilnya melempar sisa es kirim ke lantai, ia marah.
"Aku mau punya adik, Mama.... Aku mau jadi brother."
"Miko nggak mau dengerin Mama ya. Mau mama marah sama Miko? Mama nggak mau urus Miko lagi, mau?"
"Mama.... huhuhuuuu. Aku mau punya adik Mama!"
Tangis bocah itu makin pecah, sedangkan Kara sudah lelah sekali. Ia sakit, sesak dadanya benar-benar menipiskan rongga pernapasan. Ia tak punya daya untuk menjelaskan bahwa untuk yang satu ini, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan ini baru pertama kalinya Kara kehabisan akal untuk menenangkan Miko. Kesabaran menipis, emosinya naik kepuncak. Meski mati-matian ia mengendalikan, ia pilih tak katakan apapun dan hanya pandangi sang anak dengan tatapan tak berdaya ketimbang bicara.
"Sini peluk Mama, Nak." Kara merentang, namun bocah itu malah menatapnya sedih.
"Nggak! Aku mau adik!"
Ia hela nafas panjang yang terlampau sulit ia dapatkan. Seolah udara diruangan ini begitu minim untuknya yang kehabisan nafas. Menahan tangis memang selalu menyakitkan, namun untuk menumpahkannya didepan Miko Kara tidak tega.
KAMU SEDANG MEMBACA
2. Antariksa Berkelana [Completed]
Fan-Fiction[SUDAH TERBIT] BAGIAN KEDUA 'Semesta dan rumahnya' Setelah kepergiannya, semua orang melangkah dengan kaki mereka yang patah. Terseok-seok melewati waktu yang panjang, berhenti untuk menangis, berjalan kembali dengan luka yang masih sama. Maka disin...
![2. Antariksa Berkelana [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/314866039-64-k653501.jpg)