5. Lo Bukan Siapa-Siapa

417 44 0
                                        

Apa kabar jok?

***

"Sorry gue kebawa emosi."

Arega setengah berlari  menyusul Soza yang dengan sukarela masuk ke dalam rumahnya tanpa dipaksa. Arega mencekatnya. Membuat mereka saling berpandangan dengan sorot Soza yang sulit dipahami.

"Nggak perlu minta maaf," katanya. "Lo bukan siapa-siapa," lanjutnya sambil menarik tangannya.

Arega terdiam tidak mampu menyangkal apapun, benar adanya mereka hanya bertemu karena tujuan yang tidak baik. Apakah pertemuan mereka adalah takdir? Entahlah ... Arega rasa tidak.

Soza melangkah lurus entah ruangan apa di depan sana. Selama di rumah megah yang sangat luas ini Soza tidak pernah menjumpai pembantu ataupun petugas kebersihan yang berkeliaran, dalam suatu waktu dia hanya melihat satpam lelaki itu.

Kakinya menapak pada karpet berwarna merah di ruang tamu, memandangi sekelilingnya tak minat. Benar-benar ia harus keluar dari penjara bekedok rumah mewah ini.

"Soza."

Soza terdiam tidak merespon. Cukup heran, dari mana dia tahu namanya?

Arega semakin mendekat. "Itukan nama lo?" tanyanya memastikan.

Soza tetap diam. Ia memilih menyandarkan tubuhnya pada sofa yang diduduki.

Di tempo berikutnya, degup jantung Soza menjadi tak karuan.

Arega mengungkungnya di antara kedua tangan yang menekan kuat belakang sofa. Soza membeku, lebih tepatnya tak ada ruang untuk bergerak. Nafasnya serasa dicekat.

Arega mengamati penuh minat pada wajah indah yang terpampang nyata di depan mata. Perempuan ini tidaklah buruk, lantas mengapa dia suka menggunakan masker.

Netra pria itu beralih pada mata Soza, manik matanya sama seperti seseorang yang paling dia cintai selama ini.

Arega semakin merundukkan badannya. "Gue bersedia membuka bibir lo supaya bisa bicara," bisiknya.

Bug...!

Soza refleks menyikut dagu Arega dengan lututnya, membuat pria itu seketika menjauh, setelahnya merintih kesakitan.
Arega memijit dagunya yang terasa sakit.

"Brutal banget lo jadi cewek," cibir Arega. "Belum juga gue--"

"DIEM!" Seketika Soza memotong ucapannya.

"Berani lo bentak gue! Ini rumah gue kalo lo lupa!" protes Arega mulai emosi.

Soza sinis, ia pun melipat tangan di depan dada. "Siapa suruh lo tahan gue di sini!"

Tatapan Arega yang setengah emosi tadi melunak. Ia menghela nafas sejenak, lalu memilih ikut duduk di sebelah Soza. Tangannya terangkat untuk menyugar rambutnya ke belakang.

"Gue kesepian."

Dua patah kata itu ia lontarkan dengan suara rendah.

"Nyokap gue udah meninggal," kata Arega begitu lirih. "Dan Bokap gue nggak pernah lagi pulang ke sini semenjak nyokap meninggal. Dia sengaja sibuk dengan pekerjaan, karena nggak bisa menerima kenyataan kalo bunda memang udah pergi."

Soza tertegun pikirannya melayang pada nasib yang ia hadapin beberapa tahun lalu. Dalam keheningan, Soza mencuri pandang terhadap Arega yang menutup wajahnya dengan lengan, dan bersandar pada sofa.

Dia tidak menyangka jika orang yang ditemuinya ini terlalu mudah mengungkapkan privasi.

"Kenapa lo nggak nikah aja?" Pertanyaan itu melesat dari mulut Soza secara tiba.

Arega mendongak, lalu menatap Soza. "Udah nikah."

"Te-terus istri lo di mana sekarang?"

"Di luar negeri. Anak gue sekolah di sana."

Soza memalingkan wajahnya.

Satu sudut bibir Arega terangkat, membentuk smirk. Ia mendekatkan dirinya pada Soza, lalu membalikkan badan perempuan itu agar menatapnya.

Arega merunduk, sangat sejajar dengan tinggi Soza. "Kenapa memang?"

Pupil mata Soza berkeliaran, tak mampu membangun kontak mata dengan Arega.

"Nggak ada."

Arega terkekeh rendah. "Lo cemburu."

Kini Soza berani melotot pada Arega, kata-kata yang dilontarkan Arega seakan memposisikan Soza sebagai wanita yang menyukai dirinya, padahal tidak sama sekali.

"Ngapain gue cemburu! Camkan, maksud awal gue ke sini mau mencuri tanda tangan lo, bukan hati lo."

Arega terdiam, namun fokusnya teralihkan. Lagi-lagi ia gagal fokus dengan bibir Soza yang berceloteh itu, sangat lucu.

Bug

Soza menonjok hidung mancung Arega, membuat pria itu memegangi hidungnya, begitu menyakitkan. Alisnya tertekuk menatap Soza yang bangkit.

"Gue bisa jadi psikopat dadakan kalo lo macam-macam." Setelahnya ia melangkah pergi.

"Sebenarnya yang disekap gue atau dia sih?"

***

29 Des 2022

Maaf dik baru up, mana katanya dikit yekan.

Tbc...

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang