32. Jangan Menolak!

103 13 6
                                        

"Kenapa cuma dua?"

"Saya pikir kita cuma berdua, Pak."

"Kan saya sudah bilang, Soza ikut...."

Arega menarik nafas dalam, mendadak jengah dengan kelakuan pegawainya tersebut. Padahal dia sudah mengkonfirmasi sejak dua hari yang lalu bahwa mereka butuh tiga tiket pesawat untuk keberangkatan luar kota--proyek pembangunan anak perusahaan.

Arin meremas jemarinya merasa takut dengan cara Arega berekspresi. "Jadi sekarang gimana, Pak?" tanyanya pelan.

"Ya, kamu pikirlah," tukas Arega cepat. "Katanya bisa mengatur ini itu, tapi masalah tiket aja kamu ceroboh," tambahnya lagi.

"Lupa, Pak." Wajah Arin enteng menjawab.

"Ya sudah, dua tiket untuk saya dan Soza. Kamu nggak usah ikut," putus Arega, dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu melangkah pergi.

Arin mencegat. "Nggak bisa dong, Pak. Kan itu sudah jadi agenda kerja saya."

"Kamu urus sendiri."

Setelah Arega benar-benar menghilang di ambang pintu, Arin berdecak sebal. Dia mengetuk-ngetuk dengan kuat layar tabletnya, mencoba mencari tiket melalui sosial media tapi tetap saja tidak ada jadwal penerbangan yang sama dengan tiket pertama yang dibelinya.

"Soza lo nyusahin gue!"

Arin menghentakkan kakinya kesal, lantas pergi dari ruangan bosnya itu.

Sementara di sisi lain Arega telah melajukan mobilnya, melesat dengan kecepatan di bawah rata-rata--menatap banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dijam makan siang seperti ini. Dia bersiul riang, seperti hari-hari sebelumnya--memasak untuk Soza--seakan menjadi hal yang wajib dilakukannya.

Arega memarkirkan mobilnya ketika sampai di depan rumah Soza. Dia melangkah panjang.

"Sayang...," panggilnya dengan nada mendayu-dayu. "Sayang ayo makan!"

Beberapa menit tidak ada respon sama sekali, Arega berbalik badan mengedarkan pandangannya pada sekitaran komplek.

"Oza?" Arega refleks berbalik saat handle pintu berbunyi, wajahnya seketika datar saat mengetahui siapa yang baru saja keluar dari rumah itu. "Lo ngapain di sini, anj!" sambarnya menarik kerah pria tersebut.

Ravon. Orang itu Ravon, dia tersenyum miring. Ekspresi yang layaknya seperti meremehkan Arega.

"Good luck, Bro!" Ravon menepuk bahu Arega yang sudah kepalang emosi, bukannya mengendor cengkraman itu justru semakin kuat.

"Gue tanya lo ngapain di sini?!" Arega kembali bertanya wajahnya merah padam, apalagi saat samar seseorang berjalan santai keluar dari dalam sana. "Soza dia ngapain?!" Arega beralih menarik lengan Soza lalu menjauh.

Soza pasrah mengikuti langkah Arega membawa dirinya mendekati mobil yang terparkir di sana.

"Masuk!" suruhnya setengah berteriak.

"Gue masih ada urusan sama Ravon." Soza menolak maniknya berani menantang netra Arega yang sudah membara. "Lo apaan sih!"

"Lo yang apaan, Oza!" Arega menyergah dadanya naik turun. "Lo selingkuh dari gue," lanjutnya frustasi.

"Selingkuh? Emang lo siapanya Soza?"

Bukan Soza yang bersuara melainkan Ravon, ia tersenyum remeh menatap Arega lalu melangkah hendak pergi. Saat melenggang, Arega bersiap untuk memukul Ravon namun Soza terlebih dulu mencekat tangannya dengan tatapan yang kesal.

"Gue benci dia, Oza!"

"Dan gue benci sikap lo yang begini!" Soza berteriak balik, dia ganti menatap Ravon yang berhenti melangkah. "Rav, besok kita lanjut ngomongnya," ujarnya pelan.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang