Apa kabar jok?
***
Soza menggigit bibirnya berusaha menahan rasa gugup. Dari dalam mobil ini ia celingak-celinguk menatap beberapa anak berpakaian merah putih yang berhamburan keluar gerbang.
Sesekali iris matanya mencuri pandang pada pria di sebelahnya yang sedang menelepon.
Bunyi panggilan di tutup terdengar. Membuat degup jantung Soza semakin menjadi-jadi.
"Mana anak lo?" tanya Arega ikut menatap keluar.
"Bentar lagi keluar kok," balas Soza.
Beberapa menit kemudian sekolah dasar itu tampak sepi, hanya beberapa siswa yang masih menunggu jemputan.
"Nah itu anak gue," celetuk Soza sambil menunjuk anak laki-laki yang sedang makan es krim.
Tangan Soza begerak membuka pintu mobil, namun sebelum ia keluar suara Arega mengintrupsi.
"Pakai." Arega menyerahkan sebuah masker hitam pada Soza.
Soza mengeryit bingung. "Kenapa gue haru pakai masker? Bukannya lo sendiri yang ngelarang gue waktu itu?"
"Ck. Muka lo jelek sekarang," decakan sebal terdengar dari mulut pria itu.
Perkataannya sukses membuat mata Soza menyipit, menampilkan tatapan sinis yang terhunus pada Arega. Sementara itu, Arega sama sekali tak merasa terintimidasi, tangannya masih setia menopang masker untuk Soza.
Soza merampas masker itu, lalu membuka pintu mobil lalu menutupnya kencang. Membuat bahu Arega terangkat karena terkejut.
Ia menyusul Soza yang sudah berdiri di depan anak laki-laki itu.
Yang bisa ia lihat Soza memeluk erat anak itu, membuat langkah Arega terhenti sejenak. Ada rasa yang tak bisa dideskripsikan saat ini.
Arega berdiri tepat di sampingnya.
"Bapak kamu mana?" tanya Arega dengan tatapan yang mengintimidasi anak itu.
Ekspresi anak itu terlihat takut, ia melirik Soza sebentar. Mulutnya masih menjilati es krim ditangannya.
"Nggak tahu om," jawab anak itu sekenanya.
Tatapan Soza nyalang ia mengusap pelipisnya sejenak. Oke, sepertinya rencana ia untuk kabur dari Arega akan semakin sulit.
"Nyesel gue sogok nih anak!" batin Soza menyesal.
Ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya menatap interaksi Arega dan anak itu. Pria dengan stelan kemeja dan jas hitam itu berjongkok, mensejajarkan pandangannya pada anak laki-laki itu.
"Gantengan Om apa Bapak kamu?"
Pertanyaan itu mencelos dari mulut Arega, membuat rasa pening seketika menyerang di ubun-ubun Soza, pertanyaan yang samgat tidak penting.
"Gantengan Bapak sayalah om!"
Anak itu berbicara formal dengan menyebut dirinya 'saya' menjadikan ia seperti orang dewasa.
Decakan sebal terdengar dari mulut Arega, ia memutar bola matanya kesal, apalagi melihat Soza yang menahan tawanya.
Beberapa detik Soza mengembalikan ekspresinya seperti semula, karena tatapan mematikan milik Arega.
Ia terbatuk pelan. "Yaudah, adek ayo pulang sama Mama." Soza menggenggam tangan anak itu.
"Gue mau pulang sama anak gue, jadi kita udah nggak ada urusan apapun," pamit Soza pada Arega yang masih berjongkok di tempat.
Senyum pepsodent terbit diwajah Soza, ia bersorak penuh kemenangan. Matanya melirik anak laki-laki yang menatapnya lekat, membuat Soza gemas sendiri.
Belum sampai ia menghilang dari padangan Arega, suara lantang terdengar.
"MAU KAMU BAWA KE MANA ANAK SAYA?!"
Arega, Soza, dan anak itu secara bersamaan menoleh ke sumber suara. Anak laki-laki itu menghempaskan tangan Soza, lalu berlari ke arah laki-laki yang berteriak itu.
"BAPAK!" teriaknya sambil berlari.
Tubuh Soza membeku, ia tak bisa melihat bagaimana ekspresi Arega di belakangnya. Soza hanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
"Kamu penculik ya!" Pria dengan tubuh atletis dan rambut gondrong itu berseru keras, menarik perhatian beberapa orang yang berlalu-lalang.
"Nggak saya bukan penculik." Soza menggeleng cepat.
Bukan tanpa sebab pria itu berceletuk, ia melihat pakaiain Soza yang serba hitam dengan masker yang terpasang diwajahnya.
Pria itu menoleh pada anaknya yang bersembunyi di belakangnya, "dia mau menculik kamu, nak?"
Anak itu mengangguk, membuat Soza melotot pasrah.
"Kembaliin duit gue bocil SD."
Ya, saat Soza memeluk anak tadi ia berbisik untuk bekerjasama dan memberi dua lembar uang seratus ribuan.
Soza terdiam tak tahu harus berbuat apa hanya tatapan tajam penuh ancaman yang bisa ia lihat dari pria itu.
"Maaf Pak, istri saya sedang mabuk."
Suara berat itu berhasil membuat Soza terkejut. Ia menatap Arega yang merangkul dirinya. Jangan lupakan satu hal, AREGA MENYEBUTNYA ISTRI SAYA!
"Lain kali kalo istrinya mabuk diajak ke kamar mas, bukan ke sekolah."
Masih terlihat jelas tatapan tak terima dari pria itu, ia memilih pergi sambil menggendong anaknya.
Terdengar kekehan rendah penuh ejekan dari mulut Arega, membuat Soza yang masih dalam rangkulannya menunduk.
"Udah berapa tahun lo jadi penculik?"
***
02 Jan 2023
YAHAHAHA MALU
Dear teman real life, gue malu kalo lo baca cerita ini. Anggap ini sisi gelap gue.
Dahlah
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Genç Kurguᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
