12. Lo siapa?!

339 40 2
                                        

Apa kabar jok?

***

"Oh ini i-iya." Damato menjadi terbata-bata. "Terimakasih."

Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, mencoba menetralisir rasa gugup. Cengiran palsu tercetak jelas di wajahnya saat menatap Soza, sementara perempuan itu hanya tersenyum simpul seakan puas dengan kegugupan Damato.

"Apa ada misi lain bos?" tanya Soza raut wajahnya begitu berseri-seri.

"Tidak. Kamu boleh pergi," perintah Damato lalu terbatuk pelan. "Nanti gajimu saya transfer," tambahnya.

Soza menunduk sebentar, lalu berbalik badan..., saat itu juga terpapar jelas seringaian kecil dari mulutnya.

Ia melangkah panjang menuju ruangan kerjanya, setiap pergerakannya tak lepas dari pegawai lain yang mulai berdatangan dan dirinya sangat membenci hal itu.

"Pagi, Za." Beberapa orang menyapanya, ketika memasuki ruangan tempat ia biasa berdiskusi untuk sebuah misi, Soza tersenyum sekilas.

Perempuan itu beralih pada kursi yang telah lama tidak di duduki, ia menelisik meja di depannya ... biasanya selalu ada dokumen-dokumen di atas sana, tetapi sekarang tidak ada sama sekali.

"SOZA!"

Panggilan itu membuat Soza tersentak kaget, ia refleks menoleh ke belakang.

Arin mendekatinya dengan wajah sumringah lalu perempuan itu mendekap Soza, tangannya mengusap punggung Soza perlahan membuat Soza menegang.

"Akhirnya lo balik," cicitnya terdengar begitu bahagia. "Gue pikir lo bak-- setan"

Umpatan itu terlontar dari mulut Arin ketika dirinya ditarik paksa, matanya menatap sinis ke arah pelaku.

"Apa lo peluk-peluk Soza gue!" Deren menyentak, membuat suasana menjadi tak kondusif lagi.

"Mau gue kremasi lo?!" Arin membalas tak kalah nyolot.

Hancur sudah pagi indah yang Soza harapkan. Ia menatap malas kedua orang itu yang mulai berbicara dengan nada tinggi.

Menurut Soza kepribadian mereka berdua sangat berbeda darinya, Soza sangat menjunjung tinggi image, ia tak ingin banyak bicara kecuali mengenai pekerjaan.

"Bisa diam?" Nadanya rendah namun terdengar mengintimidasi, saat itu juga Deren dan Arin berhenti berdebat. Keduanya saling berpandang-pandangan.

"Za lo mau ke mana?" tanya Deren ketika Soza berjalan menuju pintu. "Zaaa."

"Nggak usah banyak nanya, atau gue kubur lo hidup-hidup."

***

Seorang perempuan dengan turtleneck merah tua menyesap cappucino yang baru saja di pesan. Turtleneck adalah pakaian favoritnya, tak heran lagi mengapa Soza selalu menggunakan itu.

Di sela-sela menikmati minumannya, mata Soza mengerling ke segala arah, yang bisa ia lihat beberapa karyawan perusahaan mulai menginjakkan kaki di cafe itu. Pasalnya cafe ini paling dekat dengan perusahaannya.

Mata Soza terbelalak tak percaya ketika ia melihat seorang laki-laki dengan jaket denim masuk, yang sangat Soza kenali dia adalah klien yang menjadikan gajinya tiga kali lipat.

Kenapa gue harus ketemu dia lagi, rutuk Soza dalam hati.

Ia bergegas menenteng tasnya dan meninggalkan selembar uang seratus ribu di atas meja. Kakinya melangkah panjang sambil membuang muka agar pria itu tidak bisa melihatnya.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang