Apa kabar jok?
Aduh, jangan malu-malu mau komen dan vote
***
"Mau lo apa sih, manusia?!"
Soza berkacak pinggang saat Arega menutup gerbang rumahnya tanpa membiarkan dirinya ikut masuk juga.
Pria itu melihat dari sela-sela gerbang, sambil melipat tangan di dada. "G-gue belum percaya."
"Belum percaya apa gila?!" Soza menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali. "Waktu itu aja lo selalu gangguin gue, sekarang malah menghindar."
"Ya nggak mungkin tiba-tiba lo suka sama gue."
Yang bilang suka sama lo siapa, anj. Soza mengumpat dalam hati, ia jengah dengan perdebatan tidak penting yang sedari tadi terjadi.
Soza menghela nafasnya dalam, baiklah, sekali lagi demi Bos dan kantongnya Soza harus keluar dari zona nyaman-nya.
"Ega, lo nggak percaya dengan perasaan gue?" ujarnya begitu lembut..., bahkan Arega terbuai dengan nadanya.
Pria 23 tahun itu terlihat salah tingkah, ia mengedarkan pandangannya secara acak ke segala arah. Benar-benar Soza impact.
"Kenapa lo bisa suka sama gue?"
YANG SUKA SAMA LO SIAPA GILAK!
Soza memaksakan kedua sudut bibirnya tertarik, menciptakan senyuman penuh tekanan.
"Rasa suka itu...," Soza maju satu langkah, lalu kedua tangannya mengenggam gerbang besi itu agar semakin dekat dengan Arega. "Tiba-tiba ada tanpa dipaksakan, tanpa di rencanakan, tapi terproses di dalam hati."
SIAL! Rasanya Soza ingin berkumur-kumur dengan larutan anti bakteri, kata-kata itu mencelos saja dan membuat dia merasa sangat jijik! Harga dirinya telah tercoreng.
Lain halnya dengan Arega, pria itu merasa jantungnya menggetarkan seluruh raganya, wajahnya memanas dengan napas yang mulai tak terkendali.
"Kalo gitu minta nomor lo," pintanya kemudian.
Untuk kesekian kalinya Soza mengumpat tanpa suara. Bibir perempuan itu mulai bergerak menyebutkan angka demi angka nomor kontaknya.
"Oke, lo bisa pulang."
"HAH!"
Arega berbalik memasuki kediamannya tanpa memperdulikan Soza, mata perempuan itu membelalak tak percaya. Detik berikutnya sudut bibir Soza terangkat, dengan dengusan kecil yang terdengar.
"Jadi lo nantangin gue?" Soza menaikkan alisnya sambil memandang punggung Arega yang mulai hilang dari pandangannya. "Oke!"
***
Ganir menatap dua orang yang berdiri di depannya, senyum jahat merekah di wajahnya yang cukup tampan, tak heran jika gen-nya terwariskan pada Soza.
"Saya percaya pada kalian," katanya sambil menyerahkan sebuah platinum card, yang menjadi kartu terakhir di dalam dompetnya.
Seorang perempuan dengan senang menerima kartu itu, ia mengelusnya pelan lalu memasukkan benda itu ke dalam sakunya.
"Tenang saja, Pak. Perlahan tapi pasti kami akan melenyapkan perempuan itu."
"Ingat sampai lenyap." Instruksinya terdengar tegas tanpa keraguan sama sekali. Kedua orang yang berlawanan jenis itu akhirnya pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Teen Fictionᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
