36. Hampir Saja

83 12 1
                                        

"Udah dapat lokasinya?" Arega bertanya, dia menempelkan ponselnya di telinga.

"Udah. Gue bakal kirim sekarang," balas Zaky tenang. "Lokasinya rumit, gue saranun ikutin dengan teliti jangan sampai salah arah," lanjutnya.

"Thanks, Zak."

Notifikasi pesan masuk, Arega mengernyit bingung berusaha memahami lokasi melalui layanan google maps. Ini bukan daerah tinggalnya, ia tidak tahu sedikit pun jalanan di sini.

Berikutnya dia beralih pada Daffa, yang menatap lurus-lurus jalanan. "Gue yang bawa," mintanya tak sabaran.

"Nggak! Gue nggak mau, bisa-bisa melayang jiwa gue," tolaknya cepat.

"Lo bisa turun kalau nggak mau bantu."

Daffa membuang nafas gusar, lalu memilih mengarahkan kemudi ke tepi jalan. "Bukan gitu ... muka lo kelihatan banget lesu, Ga, bisa-bisa..."

Arega acuh, dia memilih keluar meski managernya belum selesai berbicara. "Pindah atau gue seret keluar."

Dengan sangat amat terpaksa Daffa memilih bergeser ke kursi penumpang. Dia memandang Arega yang mengenakan seatbelt, otak Daffa seakan tersentil lalu ikut memakainya.

Tanpa bersuara atau pun meminta bantuan Daffa, Arega memposisikan ponselnya tepat pada tengah dashboard mobil. Dengan pasti tangannya menyalakan mobil, lalu memindahkan tuas persneling.

Pajero hitam itu melesat dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan di malam hari. Bahkan, Daffa merasa mereka seperti melayang.

Bunyi klakson pengemudi lain tak terelakkan. Arega bergantian menatap ponsel dan jalanan, sementara Daffa dengan wajah gusarnya menatap lurus-lurus.

Titik biru yang menandakan posisi mereka sudah tidak jauh lagi pada lokasi yang dituju. Anehnya setelah 20 menit perjalanan layaknya kecepatan cahaya, tidak lagi tampak kendaraan lain. Hanya mobil mereka yang melintas di sana. Daffa semakin gusar, sementara Arega semakin memaksimalkan kecepatan.

Mata Daffa membulat sempurna saat menatap palang di depan sana.

"BANTING STIR, BODOH!" teriaknya kencang.

Arega memutar kemudi ke arah kanan dengan cepat, kakinya menginjak pedal rem detik berikutnya. Mobil itu berpindah pada jalur kanan karena belum adanya median strip di sana.

Daffa menyandarkan bahunya pada kursi, dengan nafas yang terengah-engah. Ritme jantungnya tidak terkendali, sama halnya dengan Arega yang menarug kepala pada kemudi.

"Hampir aja kita mati karena kebodohan lo," hardik Daffa dengan posisi yang masih sama. Ia memandang jalan dengan palang di sana--amblas. Mungkin, inilah alasan mengapa tidak ada kendaraan yang berlalu di sini.

Wajah Arega memerah, rambutnya berantakan tak menentu. Menegakkan kepalanya, Arega mengambil ponseln miliknya yang terjatuh ke bawah. Kebingungan seketika menghampiri pikirannya saat menatap Maps itu.

"Lo lihat." Arega menunjukkan tampilan layarnya pada Daffa, membuat pria itu ikutan berpikir.

Aneh sekali.

Titik lokasi yang dituju berhenti tepat di posisi mereka saat ini.

Mereka saling berpandangan.

"Dia salah lacak...," cicit Daffa kini merebut ponsel itu, mengamatinya intens.

Arega terdiam sejenak. Ia kenal Zaki sejak dua tahun yang lalu, bahkan Arega tahu betul kemampuan lelaki itu yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam informasi apapun, jadi ... tidak mungkin dia salah.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang