10. Jadilah Istri Saya

400 38 2
                                        

Apa kabar jok?

***

Deru Audi A6 menggema di pekarangan rumah bak istana itu. Mobil dengan harga ditafsir mencapai milyaran itu mulai memasuki garasi. Sang pengemudi keluar, sosoknya tampak sempurna dengan balutan tuksedo navy dan kemeja yang serasi.

Arega melangkahkan kakinya. Dirinya tampak begitu berwibawa, punggungnya yang kokoh dengan tinggi 183 cm terpapar terik matahari, membuat ia menyipit untuk mengatur intensitas cahaya yang masuk kepenglihatannya.

Saat menginjakkan kakinya di dalam, perhatiannya langsung jatuh pada gadis yang sedang menggunakan vakum pembersih. Senyum terbit diwajah tampannya.

"Oza," panggil Arega dengan suara rendah.

Soza menoleh, aktivitasnya berhenti sejenak seperkian detik ia kembali melanjutkannya.

Tanpa respon..., Arega merasa bingung. Apa salahnya?

Laki-laki itu memilih mendekat dengan tangan yang tersembunyi di dalam saku. Ia tepat berdiri di hadapan Soza yang sibuk memvakum karpet di diruang tamu itu.

"Lo kenapa?"

Tangan Arega menahan tangan perempuan itu agar berhenti menggerakkan vakum. "Lo kenapa, Za? Gue ada salah?"

Soza bergeming, ia memilih menundukkan kepalanya sedalam mungkin.

"Za...." Nadanya begitu lembut, dengan tangan yang mengelus rambut lurus Soza. Ia lalu beralih mengangkat dagu perempuan itu. "Gue salah?"

Kepala Soza menengadah, namun lirik matanya tetap ke bawah. Jarak wajah mereka hanya sejengkal.

Hening, pasokan oksigen seakan disedot hingga tak tersisa. Soza membenci keadaan ini, saat nafas Arega menerpa wajahnya, saat aroma mint itu menerobos indra penciumannnya. Sangat memabukkan.

Arega mengangkat dagu perempuan itu untuk semakin dekat, ada sedikit keraguan.

Seketika tangan Soza menghempaskan dengan kuat tangan pria itu. Kurang ajar!

"Iya lo salah!" hardiknya dengan emosi.

Irisnya seakan menusuk indra penglihatan Arega, ada kilatan kekecewaan yang terpancar di sana membuat Arega bertanya-tanya.

Arega menatap dengan serius kedua manik mata Soza. "Apa salah gue?"

"Lo pikir sendiri."

"Gue nggak tau kalo lo nggak bilang."

Ia menjatuhkan vakum ditangannya. Soza hendak melangkah pergi, namun cengkraman di kedua bahunya memaksa Soza untuk melihat Arega lebih lekat.

"Jawab gue, salah gue apa?" Nadanya meninggi, memberikan efek gema di rumah itu.

"Lo egois," titah Soza matanya mulai berkaca-kaca, rasa sesak menjalar mulai kerongkongan hingga dadanya. "Lo cuma orang kaya yang mau menginjak-injak kalangan rendah kayak gue!"

Pria itu tertegun, hendak bersuara namun Soza tak memberikan kesempatan baginya. Degup jantungnya mulai tak stabil ketika mendengarkan setiap ucapan Soza.

"Gue kayak orang paling nggak berguna semenjak di sini, tau nggak!" Nafasnya mulai tak karuan. "Apa gunanya lo tahan gue di sini, hah! Lo punya istri, lo punya anak, lo punya semuanya!" lanjutnya.

Air mata itu mulai meluruh tanpa isakan, namun rasa sakitnya menusuk Soza tanpa aba-aba. Sejujurnya ia paling benci dibohongi.

"Arah pembicaraan lo ke mana sih?!" Arega menampik ia masih tak mengerti maksud Soza. Cengkramannya pada bahu Soza semakin menguat.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang