20. Nyaman Dalam Pelukanmu

188 29 1
                                        

Jok?😳

***

"Permisi."

Arega menerobos kerumunan manusia di depannya, tanpa mempedulikan serpihan-serpihan kaca pasca kejadian. Dia tetap berusaha ingin menemui gadis di seberang sana.

Degup jantungnya berpacu saat ia melihat dengan jelas Soza menghantamkan kepalanya sendiri pada aspal.

"SOZA!" Arega berteriak.

Beberapa orang hanya memandangi Soza dari jauh, sementara atensi banyak orang tertuju pada tabrakan mobil dan pengendara sepeda yang baru saja terjadi.

"LO GILA!" Tangan pria itu menahan kepala Soza. Ia berlutut di sana.

Soza mendongak, namun tetap pada posisi terbaring dan meringkuk.

Manik mata Soza tak terarah, ada bayangan baru terpancar dari indra penglihatannya, suatu kehampaan.

Soza melihat ke atas, nafasnya tak beraturan tetesan air mata mulai mengalir ke samping, tanpa isakan namun terdengar menyakitkan.

"Za... lo kenapa?" Suara Arega memelan, ia mengusap pelan air mata yang meleleh di pipi perempuan itu.

Bukannya tenang, bahu gadis itu semakin terguncang hebat. Soza menghempas-hempaskan punggungnya, dengan racauan yang mampu menusuk relung hati Arega.

"STOP ZA!"

Tanpa melayangkan bujukan, Arega seketika mengangkat tubuh Soza dan menggendongnya ala koala.

Soza memukul keras bahu Arega. "Lepas!" Dia berteriak menolak.

"LEPAS!"

"ARGH."

Arega mendesis saat Soza mencengkram kuat rambutnya, giginya saling menekan menahan rasa sakit. Ia menatap mobilnya yang terparkir di seberang jalan, sebentar lagi sampai, pikirnya berusaha kuat.

Sejurus kemudian ia memasuki mobil dengan warna putih yang mendominasi.

Dada Arega menjadi naik turun karena kelelahan, ia kesusahan bernapas apalagi dengan posisi Soza yang masih menempel padanya.

"Soza tenangin diri lo...," ujar Arega, tangis perempuan itu perlahan memudar beriringan dengan usapan lembut Arega pada punggungnya.

"Udah ya." Tangannya hendak menjauhkan tubuh Soza. "Kita pulang."

Soza tak berniat ingin melepaskan tubuhnya, ia tetap menempel pada Arega bahkan kini ia menundukkan kepalanya di ceruk leher pria itu.

"Za...."

Soza bergeming.

Arega meneguk salivanya dengan susah, beberapa menit dalam keheningan, ia mendengar dengkuran kecil dari mulut Soza. Helaan nafas terdengar dari mulut Arega.

Posisi tangannya yang sedari tadi di samping kini mengusap rambut hitam legam milik Soza.

"Gue harap lo senyaman ini cuma di pelukan gue, Za."

***

Rasa sayangnya yang tiba-tiba musnah karena sebuah tindakan egois, Soza mengakui bahwa saat ini hanya ada kebencian untuk sang Ayah. Pria tak punya hati seperti Ganir tidak perlu di kasih hati, itulah prinsip yang selalu ditanamkan Soza di hatinya.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang