Arega
|Oza
|Nanti siang meeting
|Langsung masuk mobil aku
Soza
Ok|
Arega
|Cuma ok????
Soza
Trus?|
Arega
|Kangen
Soza
?|
Arega
|Pengen cium pipi kamu
Soza
Anj|
Anda telah memblokir kontak ini.
Soza mendengus sebal. Pria itu semakin gencar mengusik dirinya, padahal sudah sangat pas jikalau Arega menjauh.
Perempuan itu menopang dagu sejenak, lalu beranjak mengunci pintu ruangan. Seakan bisa meramal, detik berikutnya gedoran kencang memecah keheningan. Arega berkomat-kamit tak jelas, suaranya tidak bisa menembus ruangan kedap suara itu. Soza berjalan santai, kembali menduduki kursinya.
Sementara di luar ruangan sana seluruh pasang mata menatap Arega.
"Buka blokirnya, Oza!" Arega berteriak kesal.
Tatapan tajam pria itu terhunus pada beberapa pegawai yang menatapnya tanpa berkedip, membuat mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Nih, cewek hatinya asli buatan Tuhan, susah banget cairnya. Arega membatin.
Dia mengepalkan tangannya, tidak apalah yang paling susah didapatkan pasti susah juga untuk meninggalkan. Baiklah, seorang Arega akan lebih berusaha demi para bayi lucu di masa depan.
***
Darah kental mengalir dari hidungnya, pukulan itu sekiranya berhasil memecah pembuluh darah kecil pada indra penciuman. Untuk kesekian kalinya ia kembali diserang oleh orang tidak dikenal.
"Shit!" Soza mengumpat, ia memegangi hidungnya yang berdenyut sakit. "Lo suruhan dia juga, anj?!"
Pria kurus itu hanya menyeringai tajam. Pada area parkiran belakang perusahaan sangatlah sepi, apalagi ini adalah parkiran indoor khusus para petinggi. Mata Soza memanas, saat rasa perih kembali menyerang.
Matanya serasa berkunang-kunang, di lain sisi pria itu terus mendekat. Soza melangkah mundur.
Saat perempuan itu terpojok, sebuah tendangan melayang tepat pada kepala belakang pria itu.
"Lo apain masa depan gue, anj!"
Dan untuk pertama kalinya Soza mendengar seorang Arega berkata kasar, pria dengan rambut yang cukup panjang itu menghembuskan nafasnya berulang. Saat lawannya mengerang kesakitan dan berakhir tak sadarkan diri, barulah Arega mendekat pada Soza.
"Apa yang sakit?" Telapak tangan Arega mendarat pada pipi perempuan itu, matanya menelisik bekas darah pada hidung Soza.
Jari telunjuk Arega terangkat, "sakit?" tanyanya saat menyentuh pelan hidung mancung milik perempuan itu.
Soza menggeleng, tatapannya tetap sama; datar dan tanpa ekspresi.
Pria itu menghela nafas dalam, dia memegang pergelangan lengan Soza. Menuntun perempuan itu untuk mengikuti langkahnya. Sebelum pergi Arega menelpon seseorang untuk mengurus pria yang sudah terkapar tak berdaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Teen Fictionᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
