33. Cintanya Semakin Dalam

138 13 8
                                        

"Sini...." Arega meraih tengkuk leher Soza agar bersandar pada dirinya, jangan lewatkan tangannya yang mulai mengelus-elus kepala Soza penuh kasih sayang.

"Jangan marah lagi," bisik Arega bahkan bibirnya menyentuh daun telinga Soza yang terasa dingin.

Soza bergeming enggan untuk membuka bibir. Sorotnya hampa pada bangku pesawat di depan.

"Soza?" Arega menyingkirkan surai rambut Soza untuk menatapnya lebih lekat. "Gue cium nih, kalo--"

"Lain kali jangan suka memaksakan kehendak," potongnya tanpa ekspresi, nadanya datar namun menukik tajam di ulu hati Arega, meghadirkan rasa bersalah yang seketika menguap.

Pria itu terdiam seribu kata, tangannya turun dari kepala Soza. Perempuan itu membuang muka, dan bersandar pada sandaran bangku penumpang.

Di antara interaksi mereka semenjak menaiki burung baja itu, manik sinis seseorang tak kunjung pudar. Arin yang terpisah oleh satu bangku penumpang, berdecak sebal untuk kesekian kalinya. Selain karena iri, dia masih kesal karena tiket pesawat yang harganya menjadi empat kali lipat. Alasannya karena tiket itu milik seseorang yang telah dibujuknya setengah mati.

"Mbak matanya kondisikan." Orang yang besebelahan dengan Arin sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

Arin berganti lirikan berpusat pada orang yang baru saja menegurnya. "Kenapa memang?" tanyanya tak terima.

"Auranya nggak enak, mbak, udah kayak dukun lagi nyari mangsa," jawab remaja perempuan tersebut, nadanya tetap tenang namun mampu memancing emosi Arin, dia merasa terhina.

"Mulut lo jaga, ya!"

"Lho, mulut saya kan tetap di sini, Mbak," dia tergelak. Ekspresinya menjadikan Arin melototkan matanya.

"Saya lebih tua dari kamu ya! Jangan seenaknya ngatain orang," teriaknya membuat beberapa orang meliriknya bahkan Soza dan Arega sekalipun.

"Maaf mbak, suaranya boleh diperkecil? Takutnya menganggu penumpang lain...." Seorang pramugari memberi peringatan, dia bertindak sopan dalam mengingatkan.

Arin mengerjap untuk meringankan suasana. "Maaf," ucapnya kemudian.

Remaja perempuan yang bersebelahan dengannya melipat bibirnya untuk tidak tertawa, cukup menghibur untuk dirinya.

Butuh waktu dua jam dalam penerbangan sebelum akhirnya mereka mendarat. Arega dan Arin menunggu Soza yang masih menyisir seluruh koper yang bergerak, sedangkan mereka berdua telah mendapatkan koper masing-masing.

"Koper gue nggak ada," Soza mengadu saat koper terakhir yang keluar telah di ambil oleh sang pemilik. Dia menatap Arega dan Arin bergantian.

"Coba dicek lagi, Oza." Arega menyarankan, dia berjalan mendekati beberapa Ground Staff di sana. Bertanya apakah seluruh koper telah keluar dari bagasi pesawat? Para petugas itu mengangguk--mengiyakan.

"Gimana dong?" tanya Soza bingung. "Rekontruksi bangunan semuanya di sana."

Arega mengernyit, mengingat kembali apa yang terjadi sebelum mereka lepas landas. Maniknya perlahan mengerling pada Arin yang sibuk mengutak-atik ponselnya, seakan menghindari sesuatu.

"Lo?" Telunjuk Arega terangkat. "Lo lupa keluarin koper Soza dari mobil," ungkapnya pada Arin.

"Gue nggak lupa," Harap-harap cemas, Arin menggeleng cepat. Tapi gue sengaja, lanjutnya dalam batin.

"Lo ceroboh banget ya, kalo dari awal nggak bisa ngatur nggak usah sok nawarin diri!" hardik Arega penuh amarah.

"Soza juga bisa ngatur dirinya sendiri, Pak," balas perempuan itu tak terima nadanya terkesan menantang.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang