Apa kabar jok?
***
Dentuman musik begitu keras di sini, perlahan iris matanya menatap kumpulan manusia yang sedang bergoyang riang, mirip cacing kepanasan, pikirnya.
Aroma alkohol menelusuk ke indra penciumannya.
"Der." Ia memanggil seseorang yang berdiri di sampingnya. Deren beralih menatap Soza. "Lo serius dia ada di tempat sialan ini?"
"Serius anjir, lo udah berkali-kali nanya begitu."
Soza memutar bola matanya malas, lalu mengedarkan pandangan mencari seorang dari mereka yang tiba-tiba menghilang. Manik matanya terhenti ke satu titik.
"Sial, malah ikutan joget tuh bocah," kesal Soza menatap Arin yang sudah berada di area dance wall.
Jika pegawai-pegawai di ruangan mereka tadi mencari informasi, maka Soza, Deren, dan Arinlah yang akan turun ke lapangan.
Deren menyikut bahu Soza. Ia mengedikkan dagu ke arah pria yang duduk di dekat sana, yang bisa Soza tangkap hanya satu, sangat tampan.
Sejenak ia terkesima melihat perawakan pria itu.
"Jadi gimana Za? Langsung gas atau trik dulu nih." Deren menatapnya lekat.
Soza mengernyit, matanya memicing memikirkan sesuatu. Sangat lucu, menurut Deren.
"Gas ajalah, gue bingung ngapain lagi."
Soza dengan pasti melangkah mendekati pria itu, hembusan nafasnya terdengar cepat membuat masker yang ia pakai terlihat mengembang dan mengempis.
Dengan ragu ia duduk dihadapan pria itu. "Permisi."
Pria yang sedari tadi menutup matanya menggunakan lengan, mendongak. Ia menatap Soza dan Deren bergantian, bingung. Sejak kapan baju formal menjadi outfit untuk pergi ke club anak muda.
Nafas Soza tercekat, pasukan udara seakan menipis. Pria di hadapannya ini tampan tidak manusiawi, hidungnya mancung, rahangnya tegas, dan tatapannya begitu tajam.
Menarik nafasnya dalam, Soza berujar. "Jadi kami dari Perusahaan Karsa, hendak menawarkan Bapak menjadi donatur utama perusahaan kami, dengan--"
"Sejak kapan gue udah bapak-bapak?" Potong pria itu tak terima.
Soza linglung. "Ma-maaf mas." Ia ragu menjawab. Sebelum kembali bersuara, pria itu mendahuluinya.
"Sejak kapan juga, perusahaan mencari donatur di club?"
Salah momen gue Soza merutuk dalam hati.
Ia memandang Deren di sampingnya, matanya mengisyaratkan agar Deren membantu mencari jawaban yang tepat.
Tapi ... nihil.
Deren mengedikkan bahunya. Dimata Soza pria itu seperti acuh tak acuh.
Sepanjang karier Soza menjadi pegawai rahasia, inilah momen paling memalukan, ia terbungkam oleh pertanyaan klien incaran perusahaan itu, entahlah mungkin ia terbungkam oleh ketampanannya.
***
"Soza maaf. Gue kebawa su--"
"Diem!"
Wanita itu terpelonjak kaget. Ia menyenggol Deren yang beposisi di sampingnya. Matanya terus memicing meminta bantuan.
Arin menggigit bibir bawahnya, cemas. Manik matanya menatap Soza yang duduk di pinggir aspal. Di kiri dan kanan mereka terparkir beberapa mobil. Tatapan matanya terhunus tajam menghadap Arin dan Deren.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Novela Juvenilᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
