"Lo yakin mau rawat di sini?"
"Yakin."
"Ga mending lo bawa dia ke RSJ--"
"Soza nggak gila, bngst!"
Daffa membulatkan matanya tak percaya. Kesabaran seorang Arega menjadi setipis tisu, ia bahkan tidak pikir dua kali untuk berkata kasar dengan suara lantang.
"Santai kali." Daffa hanya membalas pelan sambil mengikuti Arega yang membopong Soza menuju salah satu kamar.
Dua hari setelah perawatan di luar kota, Arega memutuskan membawa Soza pulang. Pulang ke rumahnya. Arega tidak ingin keadaan perempuan itu semakin memburuk, apalagi sampai melupakan orang di sekitarnya.
"Buka."
Atas perintah singkat Arega, Daffa menurut tanpa suara. Tangannya meraih daun pintu itu. Arega pun membaringkan Soza yang terlelap di atas ranjang, lalu memasangkan selimut di sana.
"Lo kenapa masih di sini?" Arega melirik Daffa yang sibuk memperhatikannya.
"Gue tahu lo nggak sepolos itu."
Arega berdecih sambil melangkah keluar. "Gue nggak bejat kayak lo."
"Sial. Tetap aja lo nggak boleh cuma berdua di rumah ini," balas Daffa cukup kesal.
"Mulai hari ini pembantu gue bakal tinggal di sini."
Sebelumnya, pembantu yang biasa membersihkan rumah Arega akan datang untuk bekerja lalu pulang. Alasannya sederhana rumahnya ini terlalu berharga, dan hanya orang berharga baginya boleh menetap di sini. Salah satunya adalah Soza.
Mereka beriringan berjalan keluar.
Sebelum Daffa benar-benar menjalankan kendaraannya, matanya memicing mengarah pada wajah Arega. Dagu terangkat menunjuk. "Lo udah kayak mayat hidup, pucat, mata panda. Jelek banget lo," hinanya.
Arega hanya menampakkan wajah tak minatnya.
Percayalah dalam keadaan ini sebenarnya Daffa merasa iri, wajahnya yang begitu segar terasa tak berarti sekalipun dibandingkan dengan Arega. Meski urakan dan tidak jelas sekalipun, wajah Arega tetap tampan tak terkalahkan.
"Balik sana." Arega akhirnya bersuara saat managernya itu tak kunjung pergi.
"Soza nggak suka orang ketus kayak lo," cecar Daffa menaikkan nada suaranya saat Arega memasuki rumah.
"Heran bisa sesuka itu sama cewek," gumam Daffa, menggelengkan kepalanya.
***
"Lo salah ngasih lokasi."
"Hah?"
"Lo salah."
Arega bersama sorot datarnya, dan Zaki dengan wajah bingungnya saling berpandangan. Jika ditanya mengapa, maka Arega ingin meminta pertanggungjawaban Zaky yang hampir membuatnya celaka saat di luar kota tempo lalu.
"Gue salah apa emang?" Zaky bertanya dengan kening yang berkerut.
"Lokasi yang lo kirim ke gue salah. Karena itu gue jadi lama selamatin Soza, dan sekarang kondisinya makin parah," cecar Arega, tatapannya nyalang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Jugendliteraturᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
