Apa kabar jok?
***
Suasana canggung tercipta untuk beberapa detik, Damato melangkah mendekat membuat Arega perlahan melepaskan cengkramanya pada Soza.
Ekspresi wajah lelaki itu berubah drastis.
"Gue pergi dulu." Nadanya terdengar sangat rendah dan berat. Arega membalikkan badannya.
"Tunggu, Arega." Instrupsi Damato membuat langkah Arega tercekat, sementara Soza tetap memperhatikan mereka berdua lekat. "Ayah mau bicara."
"Nggak perlu...," Ia berbicara tanpa berniat menoleh sedikit pun pada Damato yang berada di belakangnya. "Arega nggak butuh," sambungnya.
"Sampai kapan kamu mau menghindar dari Ayah?"
Kali ini tubuhnya berbalik, senyuman meremehkan tercetak jelas di bibir Arega. "Ayah atau Arega yang menghindar?"
"Ayah selama ini berusaha meminta kamu mengurus perusahaan, tapi kamu selalu menghindar." Damato menjelaskan.
"Nggak butuh."
Setelahnya, punggung Arega benar-benar lenyap dari pandangan mereka. Soza menatap Damato penuh tanda tanya.
"Bisa jelaskan kepada saya, Bos?"
***
Untuk beberapa saat Soza mengutuk dirinya sendiri, seharusnya langsung pergi saja tadi tidak perlu minta penjelasan dari Damato.
"Ternyata gue salah." Soza bermonolog, perasaan bersalah langsung memenuhi dirinya. Helaan nafas panjang kembali terdengar, ucapan Bosnya terus berputar di kepalanya.
"Saya tidak pernah berniat mempermainkan kamu, Soza."
"Lalu?"
"Saya ingin Arega menggantikan kepemimpinan saya, tetapi ia tidak menjalankan isi perjanjian waktu itu. Tolong saya, Soza."
"Argh...." Perempuan itu mengacak rambutnya gusar, ia terlanjur membuat Zaki dipecat.
Ia menghembuskan nafasnya dalam satu hentakan.
Jari telunjuknya melayang untuk menekan bel, yang melekat di tembok istana megah itu. Berkali-kali ia menekan, tak ada satupun sosok yang muncul membukakan gerbang, bahkan sosok astral pun tak berniat melakukannya. Sangat teramat sepi.
"Penghuninya pada ke mana sih?!" serunya mulai kesal.
Namun menit berikutnya manik mata Soza naik secara perlahan, menatap pria dengan tubuh menjulang tinggi baru saja muncul dari balik gerbang, terlihat jelas mata pria itu sayu seperti baru bangun dari tidurnya.
"Ikut gue." Tangan Soza menarik tangan Arega.
Arega menguap sambil menggosok matanya berkali-kali. "Gue ngantuk, mending lo pulang sana."
"Ck." Decakan sebal terdengar dari bibir Soza, gadis itu menatap Arega yang menutup matanya. "Ikut gue atau lo bakal nyesal."
"Pergi atau bakal ada kehidupan baru di dalam perut lo," balas Arega dengan seringaian kecil di bibirnya.
Balasan Arega membuat Soza meneguk salivanya kasar, seketika ia melepaskan tautan tangan mereka. Kelopak mata Soza berkedip untuk sesaat, ia memilih pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.
"Heh, Za!" panggil Arega merasa heran. "Gue cuma bercanda kali, yaelahhh."
"Zaa! Gue ikut."
Arega mendengus sebal ketika Soza tetap berjalan menyusuri jalanan perumahan itu, ia setengah berlari menyusul Soza.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Teen Fictionᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
