Terhitung hari ketiga sekaligus hari terakhir mereka untuk memantau proyek pembangunan anak perusahaan. Cabang pertama yang akan bergerak dalam industri dan manufaktur, sementara induknya sendiri--perusahaan Karsa-- adalah perusahaan dagang, dengan bentuk persekutuan komanditer.
"Hei, Soza, apa kabar?" Damato tersenyum sumringah saat mendekat pada Soza yang tengah berdiskusi dengan Arega.
Soza mendongak lalu tersenyum tipis. "Baik, Bos," sahutnya sambil menjabat Damato.
Sementara di antara posisi mereka Arega tak berkedip demi melihat interaksi antara wanita kesayangannya dengan sang ayah. Matanya mendelik menyimak percakapan kedua orang itu.
"Tambah cantik kamu," puji Damato, mengamati wajah Soza teringatnya dulu perempuan itu selalu menggunakan masker, dilain sisi Arega tengah menghunusnya dengan tatapan sinis.
Tersenyum manis, Soza menatap bergantian pada Arega dan Damato.
Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Tangan Damato terangkat seperti hendak menyentuh rambut Soza, namun sebelum itu terjadi Arega bertindak--tepatnya gerakan refleks memukul punggung pria tua itu.
"Kamu kenapa, Arega?!" Damato bertanya kesal sembari mengelus tangannya.
Arega memasang wajah datar. "Nggak apa-apa sih, Yah. Pengen aja."
"Cemburu itu, Bos." Seseorang menyeletuk membuat mereka secara bersamaan menoleh, Daffa berjalan mendekat.
"Siapa yang cemburu?" tanya Damato.
Daffa hendak angkat suara namun sepasang mata menajam seperti elang, dia menelan ludah kasar. "Bercanda, Bos," balasnya diakhiri kekehan.
"Ah, sudahlah." Damato berjalan menjauh diikuti Daffa yang cepat-cepat menyusulnya, sebelum pergi pria pemilik perusahaan Karsa itu menepuk bahu Soza yang lagi-lagi menghadirkan kekesalan di hati Arega.
Samar-samar percakapan kedua orang yang baru pergi itu terdengar, rupanya Damato punya rasa ingin tahu yang besar.
"Ingat ya, Oza, gue pengen lo jadi istri gue, bukan nyokap gue." Arega merundukkan badannya, telapaknya mengelus bahu perempuan itu tepat pada Damato menepuknya.
Soza tidak tahu harus menanggapi apa, yang jelas dua jenis penawaran itu tidak menarik minatnya sama sekali.
"Kekayaan gue nggak kalah jauh sama dia. Mobil gue punya, motor juga, rumah apalagi. Jangan lupa gue punya usaha club, kita bisa clubbing berdua, mabuk bareng," jelas Arega panjang lebar mengikuti langkah Soza yang sangat ingin menghilang dari sana.
Arega masih setia menjelaskan secara rinci total kekayaannya dengan posisi di belakang Soza, ekspresi wajahnya teramatlah sombong dengan gesture jemarinya yang sedang menghitung berapa jumlah mobil yang dimiliki.
Namun, ucapannya terhenti saat menubruk punggung Soza yang berhenti secara tiba. Tubuh perempuan itu sedikit terhuyung, karena Arega. Soza membeku sejenak sebelum akhirnya berbalik badan.
"Nunduk," pintanya.
Arega mengernyit bingung. "Buat apa?"
"Nunduk," ulang perempuan itu lagi. Arega menurut dia merunduk, beradu tatapan dengan Soza yang membuat badannya lemas seketika. Terlalu membahayakan bagi kesehatan jantung.
Jakun Arega naik turun dalam adu mata itu, badannya menegang saat telunjuk Soza mengelus hidungnya yang mancung.
"Nggak perlu banyak harta, lo ganteng gini aja udah cukup."
GILA!
Arega berteriak dalam hati, jika dituliskan dalam sebuah kertas, perasaannya kini bagaikan tulisan tak beraturan yang memiliki arti amat dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Fiksi Remajaᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
