Baju oversize custom bertuliskan "Arega" mengusik indra penciuman Soza, pasalnya aroma maskulin menyeruak begitu kuat membuat pikiran Soza melayang tanpa batas--teringat wajah pria itu.
"Dia memang bodoh," gumam Soza sambil merebahkan setengah badannya di atas ranjang Hotel.
Ingatannya terpaku pada percakapan dirinya dengan Arega sore tadi.
"Lo pasti nyaman banget sama gue kan, Oza? Buktinya berani ngatain gue di depan umum, segitu sayangnya sama gue?"
Soza mengusap wajahnya, penat. Ia tidak pernah ingin memberi harapan pada Arega, sedalam apa rasa suka pria itu? Hingga membentaknya pun dianggap nyaman.
Beberapa menit kelopak matanya tertutup, Soza akhirnya beranjak. Ia memakai sneakers putih yang diberikan Arega bersamaan dengan baju oversize itu, jikalau kopernya tidak tertinggal Soza sangat tidak ingin menggunakannya.
Dia menyambar masker di atas nakas sana, lalu melangkah pergi.
Perempuan itu memilih menaiki lift. Kemungkinan besar dinner bersama kolega-kolega perusahaan Karsa masih berlangsung di lobi Hotel, maka dari itu Soza mengenakan maskernya.
Saat sampai di lantai satu, Soza berpapasan dengan Arin.
Arin tidak melihatnya, namun bertemu dengan perempuan itu membuat kedua alis Soza tertekuk, memikirkan sesuatu yang agaknya familiar.
"Itu...," Soza mengamati Arin yang melangkah menuju meja makan di sana, "baju gue," gumamnya.
Soza mendengus, menyeringai tajam. "Jadi dia ngambil baju gue yang di koper." Menyadari bahwa itu adalah pakaian yang telah dipersiapkan dirinya sebelum berangkat.
"Emang anj!" umpat Soza dalam hati, lantas kembali melangkah.
Saat melewati kawanan yang sedang sibuk dengan berbagai macam makanan, mata Soza tak sengaja bertemu dengan Arega, pria itu mengikuti pergerakannya bahkan maniknya tak berkedip. Mulai bertanya-tanya hendak ke mana Soza di malam hari.
Namun, Arega tetap duduk di tempatnya.
Mudah saja bagi pria itu mengetahui Soza meski memakai masker sekalipun, namanya terpampang di baju perempuan itu.
Soza keluar dari Hotel itu, ia berjalan sambil bersedekap dada, menikmati pemandangan di sekitaran sana. Banyak lampu yang berkelap-kelip tergantung di antara pepohonan.
Bangku taman pun sama di kelilingi oleh beberapa lampu berwarna warni. Soza memilih duduk di sana. Sorot matanya menjadi lesu. Selalu saja teringat oleh bayangan masa lalu jika dia seorang diri.
"Gue berharap dia benar-benar hancur." Tangannya terkepal kuat, kalimatnya penuh penekanan. "Mati hukuman paling pantas untuk seorang pembunuh."
"Siapa?"
Suara seorang perempuan membuat Soza sedikit tersentak, dia menoleh ke samping menemukan Arin yang memasang ekspresi ingin tahu.
"Siapa sih, Za?" tanyanya lagi kali ini mengambil alih tempat kosong di sebelah Soza.
Arin berdecak sebal, lantas mengalihkan topik pembicaraan. "Lo parah si, Za. Masa iya acara sepenting ini lo nggak hadir," perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Soza mendengus, menaikkan sebelah alisnya menoleh pada Arin. "Lepas baju gue."
Saat itu juga Arin membelalak, dia menelan ludahnya susah payah.
Shit, gue lupa.
Arin bangkit secara tiba, mangedarkan pandangannya secara acak. "Eh, Za gue balik deluan ya, hahah." Suaranya terdengar gugup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Teen Fictionᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
