26. Hubungan Kita

133 21 7
                                        

Arega menatap kesal foto yang dikirim oleh Daffa secara beruntun, sang manager betul-betul memancing emosinya untuk meluap. Sambil menggerutu, Arega menghapus satu demi satu foto yang baginya tak penting itu, semakin tak tahan pria itu memilih menghapus nomor pengirim sekaligus.

"Awas aja, gue turunin gaji lo!" Arega bergumam sebal, lantas melemparkan gawai dengan tiga mata kamera di tempat tidurnya yang justru terpelanting ke bawah lantai. Dia tak peduli.

Matanya melirik bantal di sebelahnya, hampa seperti rasa sukanya yang tak terbalaskan.

"Gue kira kalo disuruh menjauh bakal mendekat, nggak tahunya cari cowok lain."

Seperkian detik kemudian Arega mengacak rambutnya gusar.

"Bodo amat."

Pria itu beranjak dari tempat tidurnya, memungut ponsel yang tergeletak di lantai, lalu pergi bersama mobil favoritnya--Audi A6.

***

"Oza!"

Suara berat nan serak memecah keheningan yang begitu tenang pada malam hari. Tangan pria itu menggedor-gedor pintu tak sabar.

"Ozaaaa!" panggilnya lagi kali ini teriakannya lebih panjang.

Pintu itu terbuka, menghadirkan sosok Soza dengan tatapannya yang datar benar-benar tanpa ekspresi.

Lengang sejenak, Arega membeku.

Dagu Soza terangkat pelan, menunggu apa yang akan disampaikan pria lancang yang telah memporak-porandakan ketenangannya. Netra perempuan itu mengintimidasi.

"Buatin gue makanan." Arega menyelonong begitu saja, melewati Soza yang masih bersedekap dada. Langkah perempuan itu cepat, mencekat Arega.

"Pergi."

Satu kata itu mencelos, Arega mengerjap beberapa kali.

"Pergi atau lo nggak bakal bisa melihat matahari terbit lagi." Soza mendesak, membuat pria di hadapannya semakin gelagapan.

"Lo nggak kangen sama gue?" tanyanya dengan intonasi lembut penuh harap. Namun hanya mendapat gelengan singkat dari perempuan itu.

Soza mengacungkan jarinya, menunjuk pintu rumahnya yang terbuka. Mengisyaratkan agar pria itu angkat kaki.

Arega berjalan lesu, setelah satu langkah secara cepat dia berbalik. "Besok datang kerja!"

Mata Soza membelalak saat merasakan kecupan singkat pada pipinya. Detak jantungnya menjadi tak karuan. Mulut perempuan itu menganga hendak berteriak, namun Arega berlari secepat kilat dan melesat dengan mobilnya.

Perempuan itu memegangi dadanya, tunggu... apa yang terjadi pada dirinya? Bukankah ia telah mendedikasikan hidupnya didunia ini hanya untuk balas dendam pada sang ayah?

***

"Lo lama banget liburnya, Za...."

Arin merengek, ia bergelayut pada tangan Soza sambil berjalan beriringan. Soza hanya bergumam menanggapi celotehan Arin saat bertemu di pintu masuk tadi.

"Deren mana?" Soza bertanya saat mereka memasuki ruang yang selama ini diketuai oleh dirinya.

"Nggak tahu."

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang