19. Luka yang Terbuka

223 30 4
                                        

Seperti biasa...

Apa kabar jok?

***

Arega menyerahkan satu cup es krim dengan perisa coffee, netra hitamnya dengan tulus jatuh pada Soza. Soza memperhatikannya lama, meski ada sedikiti keraguan ia tetap menerima es krim pemberian dari Arega itu.

"Mau ke pameran?" tanya Arega sembari duduk di sebelah Soza.

Perempuan itu hanya membalas dengan anggukan kecil sambil memakan es krimnya, ternyata es krim dengan rasa kopi tidak terlalu buruk. Soza menikmatinya.

Sementara Arega fokus pada beberapa anak kecil yang berlarian di taman itu, lalu ia beralih pada Soza yang bangkit berdiri.

"Ayo." Tangannya terangkat untuk mengusap bibirnya berkali-kali.

Arega ikut berdiri dari posisinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memegang tengkuk leher Soza untuk lebih dekat dengannya. Pria itu mulai mengusap bibir Soza dengan lengan bajunya yang panjang.

Setiap pergerakannya membuat raga Soza seakan tak bisa bergerak.

Arega merogoh sakunya kemudian, ia menyodorkan benda itu Soza. "Nih pakai masker."

"Memang kenapa?"

"Gue pengen egois tentang wajah lo, Za." Ia memberikan masker hitam itu pada Soza, lalu melangkah cepat.

"Lo terlalu berharap dengan gue."

***

"Kembalikan traumanya, hancurkan ia perlahan hingga menjadi serpihan tak berguna."

Ada suatu hal yang mustahil namun benar nyata adanya, Ganir dengan mantap memberi arahan pada kaki tangannya, mulutnya dengan cekatan mulai menjelaskan segala hal secara rinci, semangatnya berkobar-kobar untuk menghancurkan anak gadisnya sendiri.

"Jadi traumanya itu." Salah seorang dari mereka tergelak, dan mendapat sambutan yang sama dari Ganir.

Di tengah penyusunan rencana mereka, Yana-asisten Ganir-memasuki ruangan itu, tanpa banyak bicara selembar laporan keuangan perusahaan ia berikan kepada Ganir.

Iris matanya yang berwarna coklat dengan teliti membaca grafik dan tabel yang tertera di atas kertas itu, berikutnya satu sudut bibirnya naik.

"Anak tamatan SMA itu ternyata tidak hebat sama sekali," hinanya.

"Benar, Pak. Bahkan untuk beberapa hari ini beberapa investor Karsa memutuskan kerja samanya, dan beralih pada kita."

Mereka saling berpandang-pandangan, Ganir tersenyum puas dengan laporan itu, setidaknya ada titik terang bagi perusahaannya yang akan di lahap kebangkrutan.

"Jangan lupa, kalau pegawai intinya saja di sini bersama kita," ujarnya kemudian lalu menoleh pada kedua orang yang bersamanya sedari tadi.

***

"Ehhhh...."

Tangan Arega membungkam mulut Soza yang akan membuka maskernya, perempuan itu melayangkan tatapan sangar, merasa terganggu.

Mencuri Hatimu! (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang