"Gue suka senja yang tercermin di atas permukaan Danau... tapi gue tetap lebih suka lo, Oza."
Soza menoleh sekilas pada lelaki yang baru saja berbicara itu, seperkian detik sorotnya kembali pada pantulan matahari jika di permukaan Danau, memang indah adanya.
Sore ini mereka duduk pada rerumputan yang mengarah langsung dengan Danau yang cukup luas.
Arega memangkas habis jaraknya dengan Soza, dia merangkul bahu perempuan itu dan tidak ada pemberontakan sama sekali. Soza seakan menerima segala perlakuan manis Arega.
Tangan Arega terangkat, mengelus pelan puncak kepala perempuan itu. "Masih sakit?" tanyanya lembut.
Soza mengangguk, merespon apa adanya. Bahwasanya luka di kepalanya yang tertutup perban itu masih belum pulih sepenuhnya.
"Obatnya udah diminum?" Arega kembali bertanya.
"Udah."
Menit kemudian tidak ada lagi percakapan antara mereka Arega sibuk memandangi wajah perempuan itu dengan rinci, wajahnya tanpa polesan riasan tetap indah dipandang. Soza dengan dress kasual adalah paduan sempurna. Akhir-akhir ini perempuan itu sering tampil feminim ketimbang memakai baju-baju hitam seperti biasanya.
Soza mengusap lengannya saat terpaan angin menusuk kulitnya.
"Dingin?"
"Mm...."
"Mau pulang?"
Ia hanya menggeleng pelan dengan pandangan lurus ke depan.
"Mau dipeluk?" goda Arega dengan senyuman geli seketika tercetak di wajah tampannya.
"Gila lo." Soza mendelik tajam
Arega tertawa kencang rasa bahagia menyeruak ketika berhasil membuat perempuan itu marah.
"Apa mau dicium aja?"
"Diem!"
Wajah Soza memerah karena menahan malu, sementara wajah Arega merah padam karena tertawa. Lelaki itu sampai terbatuk sangking kuatnya dia tertawa. Sontak membuat Soza melemparnya dengan sorot sinis.
Detik berikutnya, tatapan jahil lelaki itu berubah menjadi sendu. Dia bangkit berdiri, tangannya terulur pada Soza yang masih duduk pada rerumputan itu.
"Ayo ke rumah gue, Oza. Gue masakin."
Soza mendongak, dia menatap sejenak uluran tangan itu lalu dengan pasti menautkan jemari di atasnya. Arega tersenyum manis, lantas dia berjongkok membelakangi Soza.
"Ayo naik," pintanya.
Soza patuh. Sebenarnya mobil mereka tak jauh dari Danau, hanya saja Arega tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dengan dengan perempuan itu apalagi situasinya sedang mendukung.
Arega mulai berjalan.
"Oza?"
"Apaan." Soza merespon dengan malas.
"Yakin nggak mau di cium? Gue masih steril loh...."
"Say again, and you will got ticket to
heaven."
Meledakkan tawanya sempurna, Arega melirik pada Soza yang memalingkan wajahnya. Pandangannya pun kembali fokus ke depan.
"Oza, minggu depan gue ke luar kota mantau pembangunan anak perusahaan. Lo ikut ya?" ujarnya serius.
Soza menimang-nimang sejenak, sebenarnya ia cukup malas untuk berpergian ke tempat yang jauh terlebih lagi ada rencana besar yang baru saja akan dimulainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mencuri Hatimu! (On Going)
Teen Fictionᵁⁿᵗᵘᵏ ᵃᵖᵃ ᵐᵉⁿᶜᵘʳⁱ ʰᵃᵗⁱᵐᵘ ʲⁱᵏᵃ ʰᵃᵗⁱᵏᵘ ˢᵃʲᵃ ˢᵘᵈᵃʰ ᵏᵘᵇᵘⁿᵘʰ Soza Arunika menjalankan tugasnya sebagai pengincar klien di Perusahaan Karsa. Bukan hanya dengan diskusi, terkadang Soza bersama timnya menculik para klien yang melakukan penolakan. Namun, tan...
