HELL IS WAITING FOR YOU

37 7 0
                                        

Malam semua.

Gimana nih sama harinya? Semoga semua baik.

Sebelum baca jangan lupa vote! Dan jangan lupa komen juga.

Warning! Blood scene, terdapat kekerasan dalan chap ini⚠⚠⚠

Happy reading...

***

"I killed them and now it's your turn, bitch."

Seva menelan ludahnya susah payah. Kerongkongannya tercekat dan keringatnya tak berhenti keluar. Ia menatap Zerdam yang kini seperti bukan cowok itu. Dengan perlaham gadis itu memundurkan tubuhnya. Jantungnya terus berdentum tak karuan. Ia sangat takut dengan sosok Zerdam yang berubah. Seva melirik sekilas pada kepala ketiga temannya tergeletak di lantai. Lalu matanya menatap lagi Zerdam yang kini sudah mulai mendekati dirinya dengan sebuah pisau lipat di tangannya. Dengan cepat gadis itu bangkit dari duduknya lalu memundurkan lagi tubuhnya.

Zerdam yang melihat gadis itu terus mundur dan wajahnya yang mulai ketakutan, seketika tawanya meledak keras di dalam rumah yang hanya ada satu penghuni. Ia terus maju kala gadis itu mundur.

"Kamu mau apa?" tanya gadis itu dengan suaranya yang bergetar.

"Gue ingin kita senang-senang."

Seva menggelengkan kepalanga cepat. "Kamu yang lakuin itu?" tunjuk Seva pada kepala ketiga temnnya.

Zerdam melirik sekilas arah yang di tuju Seva lalu mengedikkan bahunya. Ia menatap lapar ke arah Seva dengan matanya yang semakin menggelap. Ia mendekati Seva yang terus menjauh. Dan...

Finnaly. Tubuh gadis itu menempel di dinding karena tak ada lagi jalan untuk terus mundur.

"Jangan lari, gue hanya ingin bermain-main dengan wajah angkuh lo, bibir jalang lo, tangan kotor lo, dan mata murahan lo."

Seva menatap was-was pada Zerdam yang terus mendekat. "Jangan mendekat! Pergi, pembunuh!"

Zerdam tertawa mendengar perkataan Seva. "Ya gue pembunuh dan gue juga yang membunuh mereka." Zerdam membuat wajah memelas. "Sayang sekali mereka harus mati di tangan gue dan lo juga akan bernasib seperti mereka."

"Aku mohon, jangan! Meski aku gak punya salah sama kamu, tapi aku minta maaf!" Seva menyatukan kedua tangannya, memohon.

Lagi-lagi tawa Zerdam terdengar di seisi rumah yang sunyi itu. "Lo memang gak punya salah sama gue, tapi yang harus lo tau adalah lo udah ganggu hidup orang yang gue sayang dan itu sama saja lo ganggu hidup gue, sialan!"

Tanpa di duga Zerdam melemparkan pisau lipat itu ke arah Seva. Tapi sayangnya pisau itu tidak mengenai gadis itu karena Seva dengan sigap langsung menyingkir. Gadis itu terkejut bukan main. Ia tak menyangka akan di pertemukan dengan seorang pembunuh dan sialnya ia malah menyukai pembunuh itu.

"Jangan mendekat!"

"Lo tau, karena ulah lo, dia berakhir di rumah sakit. Karena ulah lo, dia sering nangis tiap malam. Karena ulah lo, mental dia jadi rusak. Karena ulah lo, dia jadi gak percaya diri atas apa yang ingin dia lakuin. Dan karena lo, gue jadi kakak yang gagal!"

ARSEY ZAYDEN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang