Entah apa saja yang terjadi selama tiga jam ke belakang ini. Terlalu banyak kejadian yang masuk di otak gue dan membuat pusing kepala. Mulai dari syukuran 7 bulanan, lalu Ivan yang tiba-tiba pergi dan sekarang gue sedang melihat dua perempuan paling berharga di hidup gue menangis. Jelas gue tahu alasan tangisan mereka, tapi untuk sekarang ini gue belum bisa ikut menenangkan karena gue sendiri terpukul dengan kejadian ini.
Malu? Pasti. Ivan dengan sengaja mempermalukan gue dan keluarga gue di depan semua orang. Bukan cuma keluarga gue aja, kedua orang tuanya pasti kecewa dengan sikapnya yang seolah-olah lari mengejar perempuan simpanan. Acara yang harusnya jadi momen bahagia malah berubah jadi sendu.
"Mah, kayaknya Rara sama keluarga pulang dulu aja ya Mah. Biar semuanya tenang dulu, nanti Rara jelasin semuanya kalo udah lebih kondusif keadaannya." Gue menggenggam tangan Mama Ivan. Matanya sembab dan memerah, membuat gue merasa ga tega.
"Maafin Ivan ya Ra, mama malu banget sama kamu." Mama menunduk. Gue menggeleng pelan, bukan mama yang salah, seharusnya ga perlu minta maaf atas semua ini.
"Jangan gitu Mah, mama ga salah apapun ke Rara. Mama istirahat aja ya habis ini."
"Hati-hati, Ra. Maafin mama ya." Gue memeluk sekilas mama sebelum akhirnya gue pamit. Papa dan mama juga berpamitan kepada mama Ivan, walaupun gue tahu pasti dengan perasaan yang campur aduk.
Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan ke rumah. Sesekali suara isakan mama masih terdengar walaupun pelan. Sedangkan papa diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Gue sendiri ga berusaha mencairkan suasana karena gue tahu bakalan sia-sia. Yang bisa gue lakukan sekarang hanyalah diam dan mencoba tetap berpikir tenang.
Gue langsung pergi ke kamar begitu sampai di rumah dan menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, mengguyur kepala dan badanku dengan air hangat. Emosi gue yang masih berada di puncak ga hilang begitu saja ketika keluar dari kamar mandi, tapi memang jauh lebih baik. Gue bisa berpikir lebih jernih dan jauh. Gue ga bisa disini terus, karena cepat atau lambat Ivan pasti akan kesini mencariku. Jadi sebelum itu terjadi, lebih baik gue pergi mengungsikan diri.
Walaupun berat, gue tetap memberanikan diri pamit ke mama dan papa. Tentunya gue menceritakan terlebih dahulu perihal apartemen yang gue sewa dari Diana sekaligus meminta mama dan papa merahasiakan ini dari Ivan. Mama yang merasa gue terlalu terburu-buru mencoba memaksaku untuk tinggal, yang sayangnya ga bisa gue lakukan. Akhirnya gue pergi sendirian memakai mobilku. Untungnya, mobilku berada di rumah karena minggu kemarin gue dan Ivan kesini pakai dua mobil.
Diana sudah menunggu di depan pintu apartemenku ketika gue sampai. Sebelumnya gue memang sengaja menelpon dia dan menceritakan kejadian singkat yang gue alami tadi. Dari raut mukanya gue bisa melihat kekhawatiran dan kemarahan yang bercampur jadi satu. Gue mendekat ke arahnya sambil mencoba tersenyum menyapa.
"Masuk dulu." Kataku singkat sambil membuka pintu. Agak heran sebenernya karena Diana jelas tahu password apartemen gue, lagian sebenernya kan ini apartemen dia sendiri, harusnya dia ga perlu bersusah payah nungguin gue di depan unit.
"Jadi, Ivan sekarang dimana? Masih di rumah sakit? Dia udah nelpon lo belom?" Diana menyerbu dengan pertanyaan ketika gue duduk di depannya membawakan segelas teh hijau.
"Belum dan ga tahu. Gue ga tau dia dimana sekarang, dan gue juga belum ditelpon. Well mungkin udah tapi gue ga tahu karena gue ngeblokir nomor dia begitu gue keluar dari rumahnya." Gue meneguk teh yang masih panas itu.
Diana menghela nafas, gue tau dia pasti frustasi.
"Trus langkah lo selanjutnya apa?"
"Gue mau cerai sama dia, Di. Gue udah ga kuat gini mulu." Ketika mengatakan itu, Diana sedikit terkejut namun berhasil mengendalikan diri lagi. Ada waktu dimana kita berdua tidak bersuara, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Lama gue dan Diana sibuk dengan isi otak kita tanpa ada tekanan satu sama lain untuk membuka pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
(UN)MONOTONOUS MARRIAGE
Roman d'amourRara, gadis yang bisa dibilang sukses di usia muda tapi tidak memiliki planning hidup ke depan bertemu dengan Ivan yang menurutnya hanya seorang om-om kaya di acara makan malam investor ayahnya. Mereka kemudian menikah dan menjalani pernikahan yang...
