TWENTY FOUR

2.5K 122 4
                                        

Gue bangun dengan perasaan campur aduk dan badan yang terasa remuk redam. AC di kamar hotel ini terlalu dingin bagi kulit gue yang hanya ditutupi selimut. Ketika gue menyadari dan mengingat apa yang terjadi semalem, gue langsung menoleh ke arah Ivan. Dia masih tidur nyenyak menghadap gue, dengan bagian dadanya tidak tertutupi selimut. Gue menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan akan semalam yang sepertinya terpatri di otak gue. Bergegas gue meraih handphone dan melihat jam, pukul empat lebih sembilan belas, hampir setelah lima berarti. Mau ga mau gue harus mandi pagi ini sebelum sholat subuh. Ah, dasar Ivan nyebelin. Dia bikin gue keramas pagi-pagi!

Ketika gue selesai mengeringkan rambut di kamar mandi, Ivan sudah duduk di atas kasur dengan bertelanjang dada. Gue sebisa mungkin menghindari kontak mata dengannya, gue malu sekaligus khawatir kalau-kalau yang keluar pertama kali dari mulut dia adalah kata-kata yang bisa ngingetin gue dengan kejadian semalam.

"Good morning, Ra." Suara Ivan terdengar berat, menandakan tenggorokannya yang belum dibasahi air putih di pagi hari. Gue meliriknya sekilas dari cermin rias, ia menatapku.

"Morning." Jawabku cepat. Tidak ada suara setelahnya.

"Cepetan mandi sana, ayo jamaah sholat subuh."

“Kamu udah mandi ya Ra?” Suara langkah Ivan menghampiriku. Gue menoleh ke arahnya dan mengangguk. Gue memasang raut muka tanya kepadanya.

“Why?” Ivan hanya tersenyum dan menggeleng pelan seraya berbalik menuju kamar mandi.
“Engga, aku cuma mau nanya, kali aja kamu belum mandi kan mau aku ajak mandi bareng.” Gue bergeming mendengar perkataan Ivan, ga nyangka satu malam bisa mengubah seseorang secara drastis. Maybe dia emang aslinya begini, cuma selama ini ga terlalu terbuka dengan gue jadi gue baru tahu setelah kita saling buka-bukaan. Wait, saling terbuka kayaknya lebih tepat daripada buka-bukaan yang kesannya ambigu banget di otak gue.

Setelah subuh kita berdua menghabiskan waktu dengan menonton berita pagi di televisi dari atas kasur. Gue terlalu malas buat sekedar membalas pesan-pesan di email yang menumpuk walaupun weekend, apalagi keluar kamar hotel. Akhirnya yang gue lakukan hanya mengganti saluran tivi dari channel satu ke channel yang lain untuk mencari acara yang paling mending.

"Mau sarapan kapan?" Ivan bertanya ketika gue baru saja menemukan channel memasak. Gue menoleh sekilas dan kembali mengubah saluran tivi.

"Terserah mau kapan. Tapi kita pesen aja biar dianter kesini, aku ga mau keluar ke restorannya."

"Kenapa?" Gue mencoba bersikap biasa saja mendengar pertanyaan Ivan barusan. Sejujurnya gue malu mengatakan ini, tapi bakalan lebih malu lagi kalau orang lain yang melihatnya.

"Aku ga mau orang lihat aku dengan keadaanku sekarang." Ivan mengerutkan keningnya.

"Maksudnya?"

"Mama ngasih aku baju yang terbuka semua. Trus kamu berhasil bikin aku malu karena ninggalin bekas merah di leher aku. Ga cuma di leher malah, lengan sama deket pundak juga. Nih liat!" Gue menunjuk ke arah leher gue yang penuh dengan bekas keganasan Ivan semalam. Namun yang gue ajak ngobrol malah hanya tertawa, gue barusan serius padahal, bukan lagi stand up comedy.

"Ra, mau aku kasih tau sesuatu juga ga?" Ivan berkata setelah tawanya reda. Gue menunggunya melanjutkan kalimat.

"Asal kamu tau ya Ra, yang punya tanda kayak gitu bukan cuma kamu. Nih coba liat." Ivan membuka sedikit pundak kanannya. Sebuah luka kecil memerah terlihat bersemayam di bawah kaos putih Ivan. Jelas dari penampilannya, itu masih luka baru.

"Inget ga semalem kamu gigitin pundakku?" Gue melotot mendengarnya. Ga ada di ingatan gue sedikitpun tentang hal itu. Tawa Ivan tambah menggelegar melihat ekspresi kagetku.

(UN)MONOTONOUS MARRIAGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang