THIRTY SEVEN

3K 148 55
                                        

Gue segera berlari menghampiri Arcel, berusaha menjadi yang pertama meraih badannya. Gue ga mau Arcel melihat Ivan dan menyadari bahwa ada sosok lain di hidupnya. Iya, gue berusaha menghapus Ivan dari memori Arcel. Ketika gue sampai di depan kasur, gue bisa melihat Arcel duduk sambil menangis, mungkin kaget dan bingung karena terbangun sendirian. Gue segera menggendongnya dan menepuk-nepuk punggungnya.

"Sayang, cup cup. Maafin mama ya, kaget ya ga ada mama?" Gue seperti bermonolog sambil terus menggendongnya. Entah dari kapan, tapi gue melihat tubuh Ivan berdiri kaku di ujung pintu kamar, melihatku dan Arcel yang mondar-mandir di sekitar kasur. Gue membiarkannya, dia bukan prioritasku untuk saat ini.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk membuat Arcel kembali terlelap. Tapi kali ini gue ga berniat menidurkannya di kasur, melainkan di pelukanku. Gue takut Ivan mendekati dan membawanya pergi, walaupun gue sadar hal itu sebagian besar kemungkinannya tidak akan terjadi. Ivan masih melihatku dan Arcel di tempatnya berdiri, tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Bisa minggir ga?" Gue memecah hening ketika gue harus melewatinya, gue laper dan berencana makan sambil tetap menggendong Arcel.

"Mau kemana Ra?"
"Mau makan, disana." Gue melewatinya, memposisikan Arcel di pangkuanku sambil membuka penutup piring makananku. Sebisa mungkin gue coba mengabaikannya, tapi pandangan mata yang bagaikan pisau tajam itu terlalu mengganggu gue. Akhirnya gue mengurungkan niat untuk menyendok makan malamku.

"What?" Gue bertanya singkat.

"Ra, kita butuh bicara." Ivan menarik kursi dan duduk di hadapanku.

"Apa yang perlu dibicarain? Semuanya udah selesai, kita udah bukan lagi suami istri, kita udah resmi cerai, kamu ga ada kewajiban dan hak apapun ke aku, begitu juga sebaliknya." Walaupun gue emosi, gue sebisa mungkin mengontrol nada suara gue agar Arcel ga terganggu. Gue melihat raut wajah Ivan berubah drastis, keningnya berkerut dan matanya menatapku penuh pertanyaan.

"Hah? Maksud kamu apa Ra? Cerai? Sejak kapan kita cerai?" Ivan mencondongkan tubuhnya selagi menanyakan hal itu. Sekarang gantian gue yang mengerutkan dahi.

"Aku udah gugat cerai kamu, Van. Sejak aku pergi, aku nyiapin semua berkas untuk perceraian kita. Dua bulan setelah aku tinggal disini, aku gugat cerai kamu lewat kuasa hukum aku." Gue menjelaskan panjang lebar. Memang gue selama ini ga terlalu mengurusi perceraian gue, karena gue percaya kuasa hukum keluarga gue akan handle semuanya, gue terima beres.

"Ra, aku ga tau kamu pernah gugat cerai aku, tapi bahkan kalaupun iya, aku ga pernah dapat surat panggilan dari pengadilan. Kita masih sah sebagai suami istri Ra!" Ivan berkata dengan nada meyakinkanku.

"Engga Van, kita udah cerai."
"Kalau emang udah, tolong tunjukin akta cerai kamu. Karena selama ini aku ga pernah merasa dapet panggilan ke pengadilan agama, apalagi punya akta cerai."

Gue terdiam, gue selama ini terlalu apatis dengan kehidupan pernikahan gue sampai hal-hal penting kayak gitu aja gue ga pernah sadar. Gue ga pernah dilaporin masalah perceraian ini sama kuasa hukum gue, karena gue terlalu percaya mereka.

"Oke, bentar. Aku telepon dulu pengacaraku." Gue beranjak menjauh dari Ivan dengan tetap menggendong Arcel. Ivan diam di tempatnya dan hanya melihatku menjauh dengan tatapan frustasi.

Gue masuk ke kamar dan segera menelpon pengacaraku. Di deringan keempat, telepon diangkat.

"Halo, Pak. Ini Rara, mau nanya sesuatu." Gue membuka percakapan langsung.

"Selamat malam, Mbak Rara. Iya, gimana mbak? Mau nanya apa?" Suara berat di ujung telepon menyahut.

"Pak, masih inget sama pengurusan gugatan cerai saya ga ya Pak? Itu dulu gimana akhirnya Pak?" Hening sebentar sebelum pria di ujung telepon ini menghela nafasnya ketika akan menjawab.

(UN)MONOTONOUS MARRIAGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang