THIRTEEN

2.6K 150 0
                                        

Tiga hari jalan-jalan di Bandung sudah cukup bikin gue pegel. Di sini gue jadi full-timer pendamping Diana yang sebagian besar menjelajahi kuliner khas Bandung. Emang sih kita muter naik mobil, tapi ternyata capek juga. Setelah selesai mengisi perut dan bekal untuk feed instagram, Diana baru bakalan ngajak gue pulang ke hotel yang tentunya di kala matahari sudah hilang. Sampai hotel pun kadang gue ga sempet ketemu Ivan karena gue udah tepar bahkan sebelum dia kelar meeting. Jadi kita hanya saling berinteraksi ketika sarapan dan waktu lengang sebelum dia berangkat lagi.

Seperti malam ini, pukul tujuh lebih lima ketika gue masuk ke kamar hotel dan ga menemukan Ivan di dalamnya. Perut gue agak sedikit sesak setelah tadi sore diajak makan bakso urat yang viral di instagram. Hari ini total empat kali makan makanan berat hasil wisata kuliner dengan Diana, belum dengan jajanan yang kita borong. Karena badan gue lengket, gue segera membersihkan make up dan mandi.

Ivan sudah duduk di sofa ketika gue keluar dari kamar mandi. Dasinya sudah tidak menempel dan kancing kemejanya sudah terbuka dua. Kepalanya terangkat dari tablet ketika gue membuka pintu kamar mandi, entah kapan datangnya karena gue ga mendengar pintu terbuka dan karena gue terlalu lama di kamar mandi, sekalian hair dryer-an.

"Udah makan, Ra?" Ivan beranjak menuju kopernya, mengambil baju ganti dan bersiap mandi.

"Udah, makan bakso tadi sore. Kamu?"

"Udah, tadi makan sore habis rapat. Tadi aku chat kamu, ngabarin kalo aku makan duluan tapi centang satu." Seketika itu gue tersadar kalau hp gue mati. Emang tadi sore hape gue lowbatt dan sengaja gue matiin karena tanggung. Gue segera mengambil hape gue di atas meja dan mengisi baterainya.

"Sorry tadi mati hapenya, lupa bawa power bank." Dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Ivan, lalu pergi masuk ke kamar mandi. Gue tau dia ga marah, tapi tetep aja ada rasa bersalah karena hal ini. Baru beberapa menit hape gue nyala, ada telpon dari Diana.

"Halo, Ra?"
"Woy, apaan Di?"
"Lo mau pulang kapan?" Diana terdengar agak gusar.
"Besok mungkin. Besok kan udah Minggu. Tapi gue juga belum tau sih. Kenapa emang?"
"Gue lupa kalo besok ada acara di keluarga gue. Sepupu gue lamaran."
"Trus gimana dong? Lo mau pulang sekarang?"
"Iya, ada kereta ntar jam sepuluh. Gue udah pesen tiket dan ini lagi packing."

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, sebuah tangan menyembul dari baliknya.
"Ra bisa minta tolong handuk saya?" Gue langsung beranjak mengambil handuk dan segera menyerahkannya kepada tangan tersebut.

"Mas, aku mau ke kamarnya Diana bentar ya?" Gue teriak ketika pintu kamar mandi hampir tertutup, itu bukan minta ijin tapi lebih ke pemberitahuan. Entah apa jawabannya, gue ga butuh dan langsung pergi keluar kamar.

Diana sibuk menata koper ketika gue masuk ke kamarnya. Barang-barang di atas meja rias masih berserakan bak kapal pecah. Tanpa babibu gue langsung ngambil tas make up milik Diana dan mulai memasukkan semua skincare nya.

"Mandi sana gih, sisanya biar gue yang beresin." Gue mengambil alih barang-barang di sekitar koper Diana dan merapikannya. Diana tanpa suara langsung pergi ke kamar mandi.

Setelah semuanya selesai, Diana memilih langsung pergi dan menunggu di stasiun daripada takut ketinggalan kereta. Gue sendiri cuma nganterin sampai lobby, melihatnya sampai hilang dibawa taksinya.

Entah gue ga sadar atau memang bodoh, gue malah harus terjebak di lobby karena gue ga bawa kartu buat naik lift. Gue males minta tolong bagian receptionist buat bukain lift dan lebih memilih ngerepotin Ivan buat turun dan jemput gue, jadi disinilah gue sendirian di pojokan lobby, cuma pakai kaos dan celana tidur, nungguin Ivan turun. Sekitar lima menit kemudian, Ivan terlihat keluar dari lift dengan muka yang sedikit pucat.

"Ayok ke atas." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tidak ada pertanyaan seputar Diana, atau pertanyaan kenapa gue berakhir di lobby seperti ini. Gue akhirnya hanya mengangguk dan mengikuti dia di belakangnya. Sesampainya di kamar, Ivan langsung duduk di pojokan kasur dan sibuk dengan hpnya.

"Kamu sakit ya?" Akhirnya gue bersuara. Ivan mendongakkan kepala dan menggeleng pelan. Karena ga percaya, gue langsung mendekatkan diri dan menempelkan punggung tangan ke dahinya, sedikit demam.

"Cuma masuk angin. Besok juga sembuh. Aku udah pesen mobil buat kita pulang besok. Tidur aja yuk biar besok aku bisa nyetir pas pulang" Ivan mengambil tanganku dari dahinya.
"Mau aku balurin minyak kayu putih? Mumpung aku bawa." Gue menawarkan diri ke Ivan. Kebiasaan mama dari gue kecil, setiap gue ga enak badan selalu dibaluri minyak kayu putih sebelum tidur sambil dipijit kecil-kecil, dan besoknya bakalan enakan. Ivan mengangguk pelan. Gue segera mengambil minyak kayu putih di koper dan mendekat ke Ivan.

"Kamu tengkurep di kasur, kaosnya dicopot juga." Ivan tidak bersuara dan hanya menurut. Jantung gue langsung olahraga ketika mendekati badan Ivan yang sangat menggoda. Punggung lebarnya mungkin bisa dijadikan lapangan saking lebarnya. Wajar kalo laki model begini bikin si Vela susah move on.

Punggungnya hangat ketika tangan gue mengolesi minyak kayu putih. Perlahan gue mulai memijit punggung bagian atas hingga terdengar suara dengkuran halus beberapa menit kemudian. Gue sebenernya kasian sama Ivan, kerja sampe malem, makan ga teratur. Tapi gue juga ga bisa bantu apa-apa terkait pekerjaan dia.

Ketika gue beranjak dari kasur, Ivan terbangun. "Perut sama dadanya mau dibalurin minyak juga ga?"

"Boleh." Dan setelah gue menanyakan hal itu, gue sadar itu adalah pertanyaan yang salah. Gue deg-degan sendiri setelah sadar kalau bagian badan Ivan itu bisa jadi salah satu kelemahan terbesar gue. Perut sixpack dan dada bidangnya terhampar jelas di depan mata. Dengan cepat gue mengolesi bagian perut Ivan, agar tidak terjadi hal-hal memalukan di luar kesadaran gue.

"Ra," Suara Ivan memecah keheningan. Mata kita bertemu setelah sebelumnya gue sengaja menghindari kontak mata dengannya.

"Apa?"

"Kalo diamati lebih dalem, kamu ternyata lebih cantik ya? Apalagi kalau rambut kamu diurai gini." Gue mengerutkan kening mendengar pujian dari Ivan yang mungkin baru pertama kali ini gue denger.

"Emang dari kemaren ga cantik?" Tanyaku sembari mengolesi minyak ke dada bidangnya.

"Cantik, kan aku bilang kamu lebih cantik." Seutas senyum terpasang di bibir Ivan, sukses bikin gue deg-degan. Sambil memukul kecil dadanya, gue berdiri dari sampingnya.

"Kalo sakit ternyata kamu ngawur ya? Udah sekarang pake bajunya, aku naikin suhu AC nya biar kamu ga kedinginan."

"Enakan tidur ga pake baju gini, Ra." Gue tahu kali ini Ivan menggoda gue, terdengar dari suaranya yang menahan tawa.

"Ga bagus tau tidur ga pake baju."

"Ga bagus gimana?" Ivan mulai meledek. Gue pengen banget bilang kalo itu ga bagus buat jantung gue, tapi gue terlalu tengsin buat ngomong.

"Ga bagus lah. Ntar ga sembuh-sembuh masuk anginnya." Dan setelah itu gue ditertawakan oleh Ivan yang sepertinya cukup puas dengan jawabanku. Ternyata ada fakta baru yang gue pelajari malam ini : Ivan agak ga waras otaknya kalo lagi sakit.

(UN)MONOTONOUS MARRIAGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang