Gue jahat, tapi gue ga ada niat menghentikan kejahatan gue ini. Kalau Ivan berharap gue menepati janji gue, maka jawabannya adalah engga. Gue ga ada niatan untuk menepati janji ke Ivan, dan jelas gue langsung kabur malam itu juga dari hotel. Semua rencana liburan gue batalin, dan gue langsung pergi di tengah malam.
Setelahnya gue hanya mengurung diri di rumah, memutuskan untuk kerja jarak jauh karena gue parno dengan kejadian Ivan kemarin. Selama dua minggu pertama gue bener-bener ga keluar rumah sama sekali, dan gue juga melarang ART gue pergi ngajak Arcel jalan-jalan jauh. Setelahnya, seminggu sekali gue pergi ke kantor, itupun hanya beberapa jam saja, selebihnya gue terusin di rumah sambil mengawasi anak.
Besok adalah hari ulang tahun pertama Arcel, yang sayangnya hanya akan dirayain secara sederhana di rumah. Mama dan papa sedang umroh sehingga ga mungkin mereka datang ke Jogja. Hanya akan ada Kak Aldo, kakak gue yang datang karena memang sedang liburan sejenak. Gue agak kaget karena dia akhirnya mau melonggarkan kehidupan dia yang sangat workaholic dengan jalan-jalan.
Dia sampai di rumah gue sekitar pukul sembilan pagi tadi setelah sebelumnya "mampir" ke rumah temannya sehari sebelumnya. Ini Selasa, dan gue baru menyelesaikan online meeting yang cukup menguras tenaga. Kak Aldo ada di ruang tengah bersama Arcel yang sudah wangi setelah mandi sore.
"Eh Kak, ntar ke mall yuk. Nyari baju buat Arcel." Gue sedikit berteriak dari dapur sambil menyiapkan makanan Arcel. Dari kemarin pagi Mbak Nur dan Yani libur karena pulang kampung. Mereka memang sedang ijin karena ibuk dari Mbak Nur sakit dan ada saudara dekat mereka yang meninggal, sehingga mungkin mereka akan di kampung sampai tujuh hariannya.
"Boleh, ntar habis maghrib ya." Ia menimpali. Gue ga menjawab lagi, fokus menuangkan makanan Arcel ke mangkok untuk segera disuapkan.
Gue, Arcel dan Kak Aldo duduk bersama di depan tivi. Kak Aldo sibuk menonton film sembari sesekali membantu menyuapi Arcel. Memang akhir-akhir ini Arcel banyak gerak yang bikin gue kewalahan ketika menyuapi.
"Lo ga repot sendirian gini?" Kak Aldo memulai percakapan.
"Ga, udah biasa." Gue mengambil tisu untuk mengambil sisa makanan yang jatuh ke lengan Arcel.
"Sampe kapan lo gini terus?"
"Maksudnya?" Gue mengernyit mendengar pertanyaan itu.
"Yaa.. lo pergi dari kehidupan orang-orang di sekitar lo, tiba-tiba pindah kota dan lari dari suami lo, seakan-akan lo pengen dianggep ilang. Gimana orang ga bingung coba?"
"Ya gapapa." Gue ogah berkomentar. Harusnya gue ga nerima ini orang di rumah gue kalo tahu dia bakal bahas ini.
"Ya ga bisa gitu, wahai adekku yang manja banget dari dulu! Lo tuh sama aja lari dari masalah. Ya kalo lo ga mau balik lagi sama Ivan, ya udah lo cerai sama dia. Tapi kalo lo masih mau maafin dia, ya lo harus siap dan welcome dia lagi di hidup lo. Bukan lo malah pergi bawa anak lo ke kota lain kayak gini." Gue mendengus kesal mendengar ceramahnya yang mulai panjang ini.
"Eh lo mending diem aja deh soalnya gue ga pengen ribut depan anak gue." Gue maaih mencoba meredam amarah dan emosi karena gue tahu gue selalu marah kayak anak kecil kalau di depan Kak Aldo. Hening karena gue enggan bersuara dan Kak Aldo memusatkan kembali pandangannya ke arah tivi.
"Lo masih sayang kan sama Ivan?"
Dahi gue berkerut. Kesimpulan dari mana sampai Kak Aldo bisa dengan enteng berucap seperti itu.
"Sotoy lo."
"Buktinya lo ga cerai sampe sekarang ama dia. Gue jadi lo ya udah resmi cerai kali gue kalo emang niat pisah dari awal. Tapi kan lo engga, lo cuma kabur tanpa kejelasan status." Sekali lagi gue mengambil nafas panjang, mencoba melebarkan stok sabar mendengar perkataan Kak Aldo.
KAMU SEDANG MEMBACA
(UN)MONOTONOUS MARRIAGE
Roman d'amourRara, gadis yang bisa dibilang sukses di usia muda tapi tidak memiliki planning hidup ke depan bertemu dengan Ivan yang menurutnya hanya seorang om-om kaya di acara makan malam investor ayahnya. Mereka kemudian menikah dan menjalani pernikahan yang...
