TWELVE

2.7K 142 0
                                        

Setelah Ivan, sekarang gue harus berhadapan dengan Diana yang sudah berkacak pinggang depan gue. Jelas dia minta penjelasan kenapa gue tiba-tiba ke kamarnya dan numpang tidur, walaupun gue yakin dia udah nebak dan tebakannya hampir dipastikan bener.

Gue orang pertama yang mengalihkan pandangan setelah saling bertatapan lama dengan Diana. Tenaga gue rasanya udah abis seharian ini, ga bersisa buat Diana.

"Gue capek banget Di. Besok gue jelasin semuanya." Gue memasukkan kaki ke dalam selimut dan mulai rebahan. Punggung gue serasa merasakan nikmat dunia begitu menyentuh kasur yang lembut. Di samping, Diana juga mulai merebahkan diri sambil tetap menyalakan lampu. Samar-samar gue masih bisa mendengar suara tawa Diana yang sibuk menonton youtube di hapenya sebelum akhirnya gue terlelap.

Suhu kamar terasa dingin walaupun gue udah berselimut dan itu membuat gue batuk-batuk kedinginan. Mau ga mau gue melek dan mendapati kamar sudah dalam keadaan gelap gulita. Tangan Diana berlanding di atas pinggangku, ga Diana ga Ivan, sukanya parkir tangan sembarangan di pinggang orang. Dengan hati-hati gue memindahkan tangan Diana dari pinggangku, buset dia makan apa aja sih, berat banget tangannya.

Gue mengambil air mineral botol di nakas samping kasur, seinget gue tadi sih ga ada, mungkin Diana dengan baik hatinya nyiapin air buat gue, Hah. Gue menyandarkan punggung ke headboard kasur, ingin melihat handphoneku. Pelan-pelan gue membenahi posisi agar Diana tetap terlelap. Pukul dua lima belas, yang berarti gue masih harus tidur lagi kalo pengen badan gue ga drop. Hari ini gue capek dan kehujanan walaupun bentar. Tiba-tiba tangan Diana bergerak lagi, kali ini ke atas pahaku. Gila gue kaget banget mendapatkan tekanan tiba-tiba.

"Kenapa ga tidur?" Suara yang gue dengar barusan sukses membuat gue merinding. Itu bukan suara Diana. Ya ampun, seumur-umur nginep di hotel gue baru dapet kamar horror begini. Gue coba baca ayat yang gue hapal, tapi cuma alfatihah doang yang muncul dari otak gue.

"Di.. Diana." Gue memegang tangan Diana yang ada di atas paha gue, gue berniat membangunkan dia, seenggaknya gue ga sendirian menghadapi kengerian ini. Tapi yang ada gue jadi lebih ngeri ketika merasakan tangan yang gue pegang berotot, jelas bukan tangan Diana.

"Ya Allah, astaghfirullah, tangan siapa ini? Diana mana sih, kok gue sendirian gini?" Gue mencoba nyebut sebisa gue. Gue emang masih cetek soal agama, tapi gue selalu inget tuhan kok.

"Diana ya di kamarnya, Ra." Wait, gue seperti kenal suara barusan. Itu kayak suara... Ivan? Langsung gue arahkan handphone gue ke arah suara berasal, dan memang sosok Ivan yang muncul dengan mata tertutup karena silau cahaya handphoneku.

"IVAN? Kok kamu di sini?" Protesku.

"Hapenya ditaruh dulu itu, silau Ra akunya." Ivan mengingatkanku. Oke, maaf. Setelah gue matiin hapeku, Ivan menyalakan lampu samping kasur, sekarang gue bisa melihat lebih jelas sosok Ivan yang memang dari tadi tidur di sampingku.

"Diana ya tidur di kamarnya." Ivan menjawab enteng. Ya itu gue juga tau, Bambang. Pertanyaan gue dari tadi adalah kenapa jadi dia yang tidur sini, secara gue tadi tidur di kamar Diana bareng Diana.

"Trus kamu ngapain tidur di kamar Diana bareng aku?"

Ivan terkekeh mendengar pertanyaanku. "Aku ga tidur di kamar Diana sama kamu, Ra. Kita tidur di kamar kita."

Butuh waktu untuk memproses kata-kata Ivan. Gue tidur di kamar gue bareng Ivan? Ini gue yang ga paham apa emang gue sleep walking?

"Aku sleep walking ya?" Pertanyaan itu yang terlontar dari mulut gue karena hanya itu kemungkinan yang paling mungkin saat ini.

Ivan melihatku lucu. "Ga sama sekali. Kamu tidur tenang banget, as always. Aku gendong kamu tadi, mindahin kamu dari kamar Diana."

"What???" Ga waras si Ivan ini. Ngapain dia mindahin gue pas lagi tidur? Dan how?

"Jangan bilang kamu ketuk pintu kamarnya Diana trus mindahin aku seenak jidat kamu?"

Ivan kembali terkekeh "Yes." Jawabnya singkat. Demi apapun itu, Ivan is the craziest man I ever meet. Ngapain dia gendong gue balik kamar? Kan gue emang sengaja ga mau tidur bareng dia karena kejadian sebelum tidur itu? Gosh..

"Ra, lain kali kalo kita marahan kayak tadi, jangan pergi ya. Kita selesain pelan-pelan berdua, jangan sampe ada yang tahu." Tangan Ivan yang masih di atas pahaku menepuk-nepuk pelan. Gue merinding dengan perlakuannya ini.

"Kenapa?" Gue membenahi posisi, udah ga ada minat untuk mainan hp lagi. Tangan Ivan otomatis terangkat karena gue berpindah posisi menjadi berbaring miring membelakanginya. Gue yakin gue bakalan nervous kalo berhadapan dengan jarak yang deket banget sama dia.

"Ngadep sini dulu dong, Ra. Masa ngomong sama suami, suaminya dibelakangin." Tangan Ivan memegang bahuku, membalikkan badanku dengan mudahnya. Sekarang gue bisa dengan jelas melihat raut mukanya yang tenang. Walaupun suasana kamar redup, tapi wajah tampan Ivan serasa mendominasi. Iya, dalam jarak sedekat ini gue tambah sadar kalo wajah Ivan memang ganteng, banget, menambah kadar nervous gue.

Lama Ivan menatap mataku dalam. "Karena ini pernikahan kita. Aku pengen menjadikan pernikahan ini buat kita berdua aja." Kata-kata Ivan barusan serasa menamparku. Iya, tanpa gue sadari selama ini gue masih dalam fase belum menerima pernikahan ini, yang mengakibatkan gue selalu denial kalo gue udah nikah, dan nganggep hubungan gue sama Ivan layaknya pacaran doang. Kata-kata Ivan seakan-akan menyadarkan gue untuk berubah. Tapi sekeras apapun gue berusaha ikhlas, ada sedikit celah di hati gue yang selalu bilang kalo gue ga pengen hidup dengan pernikahan ini, ga ada rasa saling cinta di antara kita berdua.

Gue membalikkan badan saat air mataku perlahan keluar, ga pengen Ivan lihat gue begini. "Udah ah, mau tidur. Ngantuk." Gue membenahi selimut dan mencoba menutup mata. Tidak ada suara Ivan membalas kata-kataku. Suara nafas kami menggema di seluruh kamar. Sunyi. Hanya bunyi gesekan selimut di belakangku yang terdengar, entah Ivan tidur atau tidak, gue ga peduli.

"Good night, Ra." Suara pelan Ivan memecah keheningan kamar. Satu kecupan kecil mendarat di bahuku, dan tangan Ivan lalu bersandar di atas perutku, seperti biasa. Malam itu berlalu dengan sebuah kehangatan lebih baik dari malam sebelumnya.

(UN)MONOTONOUS MARRIAGETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang