⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku masih penasaran, acara apa yang sedang Papa adakan. Papa tidak pernah memakai pakaian istimewa itu jika tidak di acara penting, itu artinya acara malam ini sangatlah penting. Lantas, kenapa ada Om Darius dan putranya datang ke rumah ini?
Aku baru sadar, mungkin acara ini berkaitan dengan pekerjaan kantor. Terutama karena Om Darius dan Papa adalah rekan kerja. Itu sebabnya aku tau tabiat buruk laki-laki botak itu, karena dia memang sering datang ke rumah ini untuk membahas pekerjaan bersama dengan Papa. Namun sepertinya, malam ini mereka bukan cuma akan membahas tentang pekerjaan.
"Samara!" sapa seseorang dari ambang pintu membuat lamunanku terbuyar. Aku sedang mengeringkan rambut setelah mandi, nyaris menjatuhkan hairdryer ketika mendengar seruan Mama.
"Iya, Ma?" sahutku. Masih menetralkan detak jantung.
"Kenapa lama? Ayo, turun." Mama terlihat kesal. Dia masuk ke dalam kamar. Meraih hairdryer di tanganku dan mematikannya.
Aku menautkan alis. "Turun? Kenapa?"
Aku masih tak percaya Mama tidak bertanya tentang hasil pemilihan di sekolah. Apakah acara di ruang tamu begitu penting sampai mereka seantusias itu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya kalau akan ada acara besar seperti ini?
"Tadi katanya Papa udah suruh kamu untuk istirahat sebentar, lalu turun." Mama menyisir rambutku yang tergerai hingga mencapai siku. Dia meraih sebuah lipstik di atas meja dan mengarahkan daguku ke hadapannya.
"Kasih merah-merah dikit biar nggak terlihat pucat," kata Mama sambil mengoleskan lipstik merah itu di bibirku.
Aku berusaha meronta, tapi aku ingat bahwa aku hanyalah beban di keluarga ini dan tidak seharusnya aku membuat orang yang sudah membesarkanku merasa tidak nyaman.
"Udah, Ma. Samara kelihatan kayak tante-tante nanti," kataku dengan suara tak jelas karena Mama memaksaku untuk tidak menggerakkan bibir.
Mama menutup lipstik dan menatanya di atas meja seperti semula. Dia menatap seluruh bagian wajahku dan tersenyum puas. "Cantik!"
Lalu dia menarik tanganku. Saking semangatnya sampai bahuku yang lunglai tertarik ke depan. Aku mendesis dan Mama tidak peduli, atau mungkin Mama tidak mendengarnya karena terlalu antusias.
Mama menggandeng lenganku. Membawaku keluar kamar.
"Ada acara apa sih, Ma?" tanyaku ketika kami berjalan ke arah tangga.
Mama tidak menjawab. Terutama ketika keberadaan kami terlihat dari lantai bawah, tepatnya di kursi sofa tempat tamu sedang menatap ke arah kedatangan kami. Hanya ada dua orang di sana, Om Darius, dan putranya yang terlihat masih muda. Aku mengalihkan pandangan karena merasa risih diperhatikan oleh mata keranjang itu.
Setibanya di ruang utama, Papa menyuruhku duduk di sampingnya. Dia mengedikkan dagu, memberiku kode yang tidak kupahami. Aku menautkan alis.
"Sapa mereka," bisik Papa nyaris tidak menggerakkan bibir.
Dengan canggung aku menoleh ke arah mereka berdua. Aku lebih banyak menatap ke arah laki-laki muda di samping Om Darius. Dia terlihat dua atau tiga tahun lebih tua dariku. Tampangnya sama sekali berbeda dengan wajah Om Darius yang selalu tersenyum mengerikan. Dia lebih kalem dan kelihatannya seperti orang pendiam.
"Selamat malam, Om. Selamat malam, Kak!" dengan enggan aku tersenyum ke arah Om Darius, lalu menunduk ke arah laki-laki muda itu.
"Selamat malam," sahut Om Darius. Terdengar seperti orang yang sedang menelan ludah.
"Samara, kamu pasti sudah tau kalau dia adalah Om Darius. Sedangkan yang duduk di sampingnya, itu putranya namanya Rendra." Papa mengedikkan dagunya ke arah dua orang di seberang meja sana secara bergantian.
"Salam kenal!" Rendra tersenyum ke arahku. Bentuk matanya hampir sama dengan Om Darius, mungkin hanya itu yang bisa membuatku tau kalau mereka adalah pasangan ayah dan anak. Selain itu, Rendra terlihat beraura positif dan suaranya sangat lembut.
Aku punya firasat, sosok yang ada di hadapanku saat ini, Rendra, dia akan dijodohkan denganku. Aku tidak suka padanya, karena aku bahkan tidak mengenalnya. Jika suatu saat kami akan menikah, aku harus berurusan dengan laki-laki bermata keranjang seperti Om Darius dan menganggap duda itu sebagai mertuaku.
Membayangkan saja sepertinya akan membuatku pingsan. Karena itulah aku berusaha untuk membuat ekspresi sejelek mungkin agar mereka tidak suka padaku.
Lalu aku ingat tentang keberadaanku di rumah ini sebagai beban. Mereka memberikan begitu banyak jasa di hidupku meskipun tidak ada darah mereka yang mengalir di dalam tubuhku. Aku anak buangan yang beruntung bisa diadopsi oleh pasangan kaya raya seperti Mama dan Papa dan inilah saatnya untuk membalas jasa mereka.
"Sebenarnya, acara kami ini ada hubungannya denganmu, Samara," jelas Papa.
"Sudah lama sekali kami menginginkan sebuah ikatan bisnis yang lebih resmi daripada sekedar kerja sama antara dua perusahaan," sambung Papa membuatku bersiap. "Kamu akan dijodohkan."
Aku menghela napas pasrah. Oke, aku akan menerimanya. Rendra bukan pilihan yang buruk. Dia terlihat lebih baik daripada ayahnya. Aku bisa mengenalnya seiring dengan berjalannya waktu. Lalu kami tidak akan merasa asing lagi.
Jika itu yang Mama dan Papa inginkan dan itu membuat mereka bahagia, maka aku akan melakukannya.
"D-dijodohkan?" bisikku. Menatap ke arah Mama dan Papa bergantian.
"Iya," sahut Papa. Mama mendukung dengan anggukan kecil dan senyuman cerah di wajahnya.
Aku menatap ke arah Rendra lagi. Dia tersenyum ke arahku, tersenyum tipis seolah menyambutku ke dalam hidupnya.
"Oh tidak, tidak, Nak," kata Papa membuatku mengalihkan pandangan. "Rendra sudah punya pacar. Kamu akan dijodohkan dengan Om Darius."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Sebuah tempat yang hanya milik kita berdua, di sana sesuatu terlahir'