34. Forget Me Not

594 66 2
                                        

Semenjak hari itu, hanya satu orang yang bisa membuat Abel tersenyum, yaitu Niko

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semenjak hari itu, hanya satu orang yang bisa membuat Abel tersenyum, yaitu Niko. Semenjak saat itu, tidak ada yang berani membahas tentang dance, cheers, atau bahkan Juilliard. Semenjak hari itu, Abel tidak pernah membuka mulutnya kecuali untuk minum obat.

Jika aku jadi Abel, aku pasti akan langsung menyerah. Itu perbedaan aku dan Abel, dia kuat, sedangkan aku tidak. Dia masih bertahan, hanya demi satu orang, adiknya.

Vicky mendengarkan semuanya ketika kami berada di rooftop suatu pagi. Aku bersyukur bukan Farel yang ada di sana karena aku masih belum bisa melupakan rasa gugupku semenjak dia memberiku bunga mawar hari itu.

"Dance udah jadi semacam ritual bagi Abel buat melampiaskan rasa sakitnya selama ini. Rasa sakit karena kehilangan ayahnya, rasa sakit karena kejadian yang dialami ibunya. Dan sekarang penyembuh itu sudah direnggut dari Abel." Aku menatap seekor burung yang terbang tinggi di langit pagi yang masih gelap. Sayap Abel sudah patah.

"Gue beraharap bisa melakukan apapun supaya Abel bisa sebahagia dulu lagi, tapi gue nggak tau gimana caranya." Aku melamun ke arah pemandangan kota. Teringat beberapa saat lalu ketika Abel dibawa pulang dari rumah sakit. Tidak, Abel tidak pulang ke rumahnya. Aku dan Mama sudah sepakat untuk membawa Abel pulang ke rumah kami agar dia tidak sendirian.

"Normalnya Abel pasti meluk gue, meskipun tangannya masih sakit. Minimal dia nangis terharu. Tapi enggak, Ki. Dia diam. Dan diamnya itu hampa. Diamnya mirip sama seseorang yang ... yang nggak punya semangat hidup lagi." Aku menggeleng miris. "Gue yakin, hanya ada satu alasan yang membuat Abel masih bertahan. Siapa lagi kalau bukan Niko. Dan tugas gue sebahagai sahabatnya, gue harus membawa sebanyak mungkin kehidupan untuk Abel. Tapi gue nggak tau gimana caranya. Rasanya, gue malu gue pernah berpikir buat nyerah aja padahal Abel justru lebih kuat."

"Ra," Vicky menyelaku. Aku menoleh sambil menghapus sisa air mata di pipiku. Aku pikir dia ingin menyampaikan sesuatu, tapi dia diam, hanya menyatukan tatapan kami. Dia tidak bicara apa-apa.

"Kalau lo tumbang juga, siapa yang akan bangunin Abel nanti?" kata Vicky dengan nada menggurui, seperti ketika dia pertama kali bicara padaku. Dia memberiku saran untuk kesekian kalinya.

"Bener juga. Gue harus tetap semangat biar bisa buat Abel senyum lagi." Aku membengkokkan bibir.

🍁


Istirahat baru saja berlangsung. Aku menuju ruang loker untuk mengambil beberapa buku dan melihat fotoku bersama dengan Abel yang kupasang di dinding loker. Mendadak aku merindukan senyuman tulus Abel yang entah kapan akan muncul lagi. Aku menutup pintu loker dan kaget melihat seseorang menghadap ke arahku dengan setangkai buket di tangannya.

Senyuman angkuh dan mata hijau yang memuakkan terpampang jelas di wajahnya. Orang yang kuharap tidak akan pernah kutemui lagi seumur hidupku. Siapa lagi jika bukan EJ.

"Mungkin agak telat, tapi bisa nggak gue nitip ini ke Abel?" tanya EJ dengan suara seraknya yang membuatku teringat dengan pengkhianatan yang pernah dia lakukan.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang