⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hening.
Sedetik kemudian terdengar lengkingan tangis panjang dan pelan, membuat situasi terasa mencengkam di sebuah kamar berukuran 4 kali 5 meter.
Indah, wanita berusia 45 tahun sedang menunduk di atas tempat tidur. Rambutnya yang kusut seperti kawat menutupi wajahnya yang berjerawat dan bernoda. Kelihatannya dia seperti orang yang tidak pernah mandi, karena memang kenyataannya begitu.
Meskipun dia menunduk, aku bisa melihatnya menciumi sebuah kemeja berwarna biru langit dan dasi hitam.
"Bara, kamu pakailah baju ini. Baju yang kamu pakai setiap hari Senin," dengung suara dari atas tempat tidur.
"Bara, setelah itu kita akan sarapan bersama-sama," sambung Tante Indah dengan suara semakin memelan.
Gadis berusia 18 tahun merangkak di tepi tempat tidur, dia adalah Abel, temanku. "Mama!" panggilnya dengan nada bergetar. Dia masih mengenakan seragam sekolah dan rambut terikat rapi di belakang kepala. Sebab di tengah pelajaran tiba-tiba tetangganya menelfon dan mengatakan mamanya Abel teriak-teriak, Abel harus pulang dan aku ikut untuk menemaninya.
"Mama harus sadar, Papa udah nggak ada," kata Abel membuat jantungku seolah tertusuk belati.
Sakit sekali berada di posisinya. Anak perempuan yang ditinggal mati ayahnya, dan kini harus merawat ibunya yang gila.
"Bara, kamu pakailah baju ini ...." Tante Indah mungkin tidak mendengar ucapan Abel, dia bahkan tidak menyadari kami di sini.
Tidak selayaknya orang yang normal. Tidak selayaknya sikap seorang ibu yang memiliki dua anak, apalagi satu anaknya perempuan dan dia tumbuh dengan sangat cantik, dia adalah Abel, dan satu lagi anak laki-laki berusia 12 tahun yang kini bersembunyi dengan tubuh gemetar di balik pintu, namanya Niko.
"Bara, kamu pakailah baju ini ...."
"Mama!" sela Abel sekali lagi. Kali ini dia hati-hati menyentuh lengan ibunya.
Tanganku meremas rok seragam yang kupakai karena takut apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku takut tante Indah akan berteriak lagi atau mungkin memberontak kasar sampai menyakiti Abel.
Tidak, Abel sudah tersakiti sejauh ini. Hatinya mungkin hanya tersisa remah yang hampir membeku. Aku tidak pernah tau bagaimana mungkin dia bisa bertahan sampai sejauh ini.
"Papa udah nggak ada, Mama harus sadar! Lihat, Niko takut lihat Mama kayak gini!" Abel menunjuk anak laki-laki yang bersembunyi di balik pintu. Membawa sebuah piala di tangannya. "Cukup, Ma! Mama harus sadar!"
Lengkingan tangis panjang dan gumaman memanggil nama Bara itu berhenti.
Tiba-tiba suasana terasa mencengkam.
Tante Indah terdiam seperti patung dalam keadaan menunduk, mengingatkanku pada tokoh film horror yang kesurupan.