⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku benci semua mata pelajaran semenjak hari itu. Bahkan mata pelajaran Bahasa Indonesia terasa seperti matematika.
Pikiran rumitku lebih mencuri perhatian sehingga aku lebih suka melamun ketika berada di tengah-tengah pelajaran.
Vicky lebih sering masuk kelas setelah menghilang beberapa hari. Namun dia masih mendapatkan nilai paling rendah dan tidak ada semangat sedikitpun untuk berkontribusi ketika diskusi padahal hal itu bisa menambah nilai ulangan bahasanya.
"Baik, anak-anak. Ulangan sejarah sudah saya nilai dan berikut saya akan perlihatkan nilai kalian di monitor!" Pak Tio, guru berperawakan kurus dan terlihat biasa saja, dan sangat tidak cocok jadi seorang guru, dia lebih cocok berada di tambang mengenakan helm konstruksi daripada mengajar. Bukan guru favoritku, tapi aku suka cara mengajarnya yang sangat menarik untuk mata pelajaran sejarah.
Ulangan kemarin, beliau memujiku karena nilaiku naik. Untuk ulangan kali ini, aku punya firasat buruk.
Pak Tio juga tidak menoleh ke arahku yang berarti dia tidak akan memujiku untuk kedua kalinya.
Benar saja, aku turun di posisi tujuh setelah kemarin berada di posisi dua. Aku menghela napas.
"Vicky!" kata Pak Tio membuat perhatianku jatuh ke sosok Vicky yang duduk di pojok paling belakang. "Tolong datang ke ruangan saya setelah pelajaran selesai," katanya dengan nada serius.
Untung saja Pak Tio, bukan Bu Dewi. Ekspresi serius Pak Tio tidak begitu mengerikan. Namun tetap saja, tidak ada yang senang dipanggil ke ruang guru setelah nilai ulangan diumumkan.
Seperti yang terlihat di layar, nilai Vicky adalah satu bulatan nol mutlak tanpa tambahan angka lain. Aku menatap miris.
Cowok itu pasti akan dapat masalah lagi setelah ini. Aku jadi agak merasa bersalah karena sudah kesal padanya akhir-akhir ini.
Bel berdering nyaring tanda jam pulang telah tiba. Aku mengemasi buku. Memisahkan mana yang akan kubawa pulang dan mana yang akan kumasukkan loker. Di samping itu, aku melirik ke arah Vicky yang dengan enggan bangkit dari kursinya.
Aku buru-buru mengikutinya ketika dia keluar. Sayangnya, aku harus berdesakan dengan siswa lain sehingga agak ketinggalan.
Ketika aku tiba di koridor, aku melihat Vicky berjalan lurus alih-alih membelok ke ruangan Pak Tio.
"Vicky!" seruku membuat beberapa siswa menoleh. Aku mengejarnya dengan langkah cepat.
"Vicky, wait. Lo harus ke ruangan Pak Tio!" aku hampir tiba di sampingnya. Masih ada dua meter yang harus kutempuh untuk bisa menggapai bahunya.
"Jangan sia-siakan kesempatan, siapa tau Pak Tio akan perbaiki nilai lo kalau lo kesana." Akhirnya tanganku berhasil meraih bahunya.
Dia berhenti dan menoleh. Irisnya menyala-nyala, persis seperti tatapannya ketika kami pertama kali bertemu di parkiran saat itu. Tatapan itu selalu membuat bulu kudukku merinding.