⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku keluar kelas dan menemukan kumpulan siswa dan guru berdiri di halaman selasar membentuk lingkaran. Siswa berseragam cheers mengisi sisi kanan lingkaran. Sisi lain diisi oleh cowok-cowok yang tidak kukenal. Aku membelah kerumunan itu untuk melihat kegiatan apa yang sedang mereka lakukan.
Rupanya, Bu Kepala Sekolah berdiri di tengah sana dengan ekspresi sedih untuk menunjukkan bela sungkawanya terhadap kejadian yang menimpa Abel.
"Mari kita berdoa untuk kesembuhan Isabella Kathrina Arally menurut kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Berdoa dipersilakan!"
Semua orang menundukkan wajah. Suasana berubah sakral. Bibirku bergetar terharu melihat begitu banyak orang peduli dengan keadaan Abel. Aku ikut menunduk, memohon ampunan dari Tuhan agar Abel segera diberikan kesembuhan. Dan aku yakin semua orang mendoakan hal yang sama.
"Tidak ada kata cukup untuk berdoa," kata Bu Andrea sebagai akhir dari sesi sakral itu. Semua orang mendongak lagi. Wajah mereka terlihat lebih muram daripada sebelumnya.
Kemudian, dengan ekspresi penuh wibawanya, Bu Andrea melanjutkan, "Saya sebagai kepala sekolah meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Isabella dan semua siswa di Triptha atas kelalaian penjagaan dan kekurangan fasilitas. Namun, kami juga sangat menghimbau kepada semua siswa untuk berhati-hati agar kejadian yang serupa tidak terulang lagi."
Aku masih tidak tau bagaimana bisa Abel jatuh dari lantai tiga dan aku merasa enggan untuk tau. Aku tidak ingin menambah kesedihan dengan mengetahui kenyataan itu.
"Jika ada hal yang tidak nyaman di lingkungan sekolah, terutama pada fasilitasnya, kalian diberi kesempatan sebesar-besarnya untuk melaporkan ke staff akademik manapun yang bisa kalian hubungi," jelas Bu Andrea untuk merendahkan diri.
Lingkaran itu bubar begitu pertemuan selesai beberapa saat kemudian. Aku semakin bersyukur bersekolah di Triptha. Mereka benar-benar memberikan dukungan nyata, meskipun secara tidak langsung, kepada siapapun yang kesulitan. Dan Abel sangat beruntung dia menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah ini.
"Samara, titip bunga buat Abel, ya!" kata Lovi sambil menyerahkan sebuket bunga daisy berwarna kuning ke tanganku. Dia dan kelompok berseragam cheersnya memelukku satu persatu. Aku agak kaget sekaligus heran.
"Ra, titip, ya. Semoga Abel cepat sembuh!" "Ra, nitip ini buat Abel, ya." "Semoga Abel cepat sembuh!"
Mendadak aku jadi pot bunga dadakan ketika orang-orang menghujaniku dengan buket bunga dan ucapan get well soon. Aku tidak bisa menolak meskipun tanganku sudah tidak bisa menampung lebih banyak bunga.
Lalu datang orang terakhir membawa bunga peony di tangannya, juga mawar merah, bunga paling mencolok, yang menurutku sangat tidak cocok diberikan untuk orang sakit karena mawar merah lebih melambangkan cinta kepada seorang kekasih.