⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku merapikan dasi yang terpasang di dada. Menatap pantulan wajahku di cermin. Hari ini adalah hari besar. Aku harus tersenyum setiap saat. Sayangnya senyumku mengerikan, seperti senyuman ibu tiri Cinderella, pantas saja kumpulan pembully memanggilku Si Jelek Yang Terlahir Dari Tong Sampah. Ternyata panggilan itu agak cocok.
Sebelum meninggalkan kamar dan menghadapi hari yang menegangkan, aku mengecek ponsel dan memastikan semua rencana sudah dijalankan. Tinggal melihat hasilnya siang nanti.
"Gue yakin, orang-orang akan milih gue jadi ketua OSIS. Seperti janji Laras kemarin. Dia udah janji untuk ngajak temen-temennya buat milih gue di pemilu nanti."
Aku mengangguk mantap dan berjalan ke arah pintu keluar. Berusaha untuk terlihat ceria padahal sebenarnya jantungku tidak berhenti berdegup gugup.
Mama dan Papa menyambutku di meja makan. Tidak seperti biasanya, mereka memastikan semua makanan favoritku tersaji di atas meja pagi ini. Bagaimana mungkin aku tidak terharu ketika melihat wajah penuh semangat kedua orang itu?
"Kamu terlihat luar biasa!" Papa tersenyum sangat cerah. Beberapa meter di sampingnya, Mama mengusap sudut matanya sambil menutup mulut.
"Mama sangat bangga, Sayang!" Mama menarik tubuhku ke pelukannya. Mencium keningku berkali-kali.
"Hari besar, kan? Jangan sampai perutmu kosong. Kamu harus makan banyak." Mama menarik kursi, mempersilakanku duduk.
"Papa sudah siapkan acara besar untukmu besok malam," Papa menambahkan. Padahal biasanya dia tidak pernah punya waktu untuk kami menjelang akhir bulan seperti ini karena sibuk dengan urusan kantor.
Aku menatap wajah antusias itu satu persatu. Semangat mereka justru membuat semangatku pudar. Rasa takut menggerogotiku. "Gimana kalau aku nggak terpilih kadi ketua?"
"Kamu bicara apa, Sayang? Kamu pasti terpilih. Anak Papa kan pintar." Papa duduk di seberang meja. Masih tersenyum antusias.
"Gimana kalau nggak ada yang milih aku sama sekali?" tanyaku lagi. Itulah yang sebenarnya membuatku cemas.
Tekadku begitu besar ketika mendaftarkan diri menjadi calon ketua OSIS. Padahal aku bukan anak terkenal, bukan juara pararel pertama, bukan juga siswa yang suka ikut lomba. Justru sebaliknya, aku sekedar kain keset yang sering diinjak-injak, selalu jadi sasaran bully oleh sekumpulan orang. Sebenarnya, dari situlah aku mendapatkan motivasi untuk mencalonkan diri jadi ketua OSIS. Saat mendaftar, aku tidak menyangka akan diterima jadi calon ketua. Agak gugup karena selain aku, banyak calon lain yang memiliki potensi lebih besar terpilih jadi ketua. Tapi, aku tidak boleh menyerah, kan?
Aku sudah mempercayakan pemilihan ini kepada Laras. Dulu dia salah satu orang yang sering menggangguku, tapi tiba-tiba saja sikapnya membaik. Mungkin dia takjub melihatku punya keberanian menjadi calon ketua OSIS. Dia punya banyak teman dan dia sudah berjanji menyuruh mereka memilihku.