37. Lobelia

553 57 4
                                        

Aku tidak tau kapan Aidan akan sampai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku tidak tau kapan Aidan akan sampai. Hari-hari yang kulalui terasa seperti begitu lambat. Semua hal yang kulakukan membuatku mengingat Aidan.

Aku sedang berjalan santai di koridor ketika melihat Farel melintas dengan dua orang gadis yang sepertinya adalah anggota OSIS. Farel mengenakan seragam basket, membuatku teringat pada EJ.

Farel tidak menoleh ke arahku sama sekali. Dia bicara sok penting kepada kedua temannya seolah aku tidak pernah ada.

Jujur, itu bukan sesuatu yang aneh. Lagipula, Farel punya banyak manusia yang harus dia ladeni di dunia ini, bukan cuma aku. Dan aku tidak mengerti kenapa aku begitu percaya diri sampai dianggap Farel istimewa dan akan disapa dengan raut wajah bahagia penuh cinta seolah aku adalah gadis yang Farel suka. Tidak! Aku tidak berharap begitu.

Aku berjalan ke arah perpustakaan. Hari sudah lumayan sore. Hanya anak-anak ekstrakurikuler yang masih sibuk di basecamp mereka.

Jika koridor sesepi pasar malam di hari Senin, maka perpustakaan pusat adalah kuburan yang hanya dihuni oleh makhluk tak kasat mata.

Aku mengedikkan bahu tak peduli dan justru merasa bebas melihat keheningan mencengkam itu. Besok hari Minggu, pasti semua orang ingin cepat pulang untuk merayakan malam minggu mereka, itu sebabnya perpustakaan benar-benar kosong, kecuali seorang penjaga perpustakaan yang tampaknya sangat kesal melihatku masuk padahal perpustakaan hampir tutup.

Aku berdiri di antara rak-rak raksasa berisi ribuan buku sambil memeriksa aplikasi perpustakaan Triptha untuk mencari judul yang kucari.

"Susah juga punya sekolah gede, cari buku aja repot," gerutuku. Lumayan keras. Aku yakin wanita yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua dari usiaku itu mendengar gerutuanku.

Aku mengambil dua buah buku akuntansi dan satu buku sebesar batu bata berjudul 'Ekonomi Pasar'. Lalu aku berjalan menuju ke meja untuk meletakkan buku-buku itu di sana.

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku mengecek nomor Aidan untuk kesekian kalinya. Siapa tau tiba-tiba dia memberiku pesan bahwa dia telah sampai di bandara.

Aku sangat ingin memencet tombol telepon dan menanyakan kepadanya kapan sebenarnya dia akan sampai, tapi aku selalu mengurungkan niat itu.

Aku duduk di kursi dan menikmati keheningan. Ac masih dihidupkan sehingga ruangan menjadi lebih dingin daripada suhu di luar sana.

Aku membaca beberapa bab dan memberikan tanda di halaman-halaman yang penting.

"Kak, perpusnya ditutup jam enam sore, ya," pesan penjaga perpustakaan. Wajahnya yang jutek, lima kali lebih jutek.

EVIDEN (Republish)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang