⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
A
ku sengaja berlama-lama di parkiran, tidak memesan taksi maupun pulang dengan sepeda.
Aku menunggu kedatangan EJ. Biasanya dia akan datang di jam pulang seperti ini. Dia akan datang dengan seragam OSIS dan mengatakan kalau dia akan latihan basket.
Sekarang aku sadar, selama ini dia berbohong padaku bukan? Latihan basket jam setengah sepuluh malam padahal sebenarnya dia jalan dengan Laras?
Seharusnya aku sadar sejak awal kalau dia adalah pembohong besar. Kejadian di live streaming itu menunjukkan semuanya. Seharusnya aku sadar EJ bisa membohongi fansnya semudah itu, tentu saja dia bisa dengan mudah membohongiku.
Matahari sudah setengah tenggelam dan sebentar lagi langit akan gelap. Aku masih menunggu kedatangan EJ. Bahkan aku sampai memberitahu Abel bahwa aku tidak bisa ikut dengannya ke rumah sakit.
Mobil-mobil yang terpakir semakin berkurang. Orang-orang meninggalkan sekolah setelah melakukan kegiatan melelahkan mereka.
Seperti yang sudah kutunggu-tunggu, dia muncul dari koridor seperti bayangan hitam jangkung yang melayang karena caranya melangkah begitu tenang.
Kali ini dia mengenakan seragam basket dan sebuah slayer yang menutup keningnya. Tampaknya, dia benar-benar baru saja latihan basket.
"Hay, Ra!" sapanya seperti biasa, ceria dan tanpa sedikitpun memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang pembohong.
"Hay, EJ!" sahutku. Tersenyum dramatis.
"Kenapa masih di sini? Harusnya lo siap-siap. Jam tujuh malam nanti gue jemput ... gue udah ada list restoran yang bisa lo pilih untuk makan malam khusus untuk kita berdua." Dia duduk di sampingku. Mencari-cari sesuatu di layar ponselnya.
Ada begitu banyak notifikasi, semuanya berasal dari sosial media dan aku yakin salah satunya berasal dari gadis lain yang sedang dia dekati.
"Jadi ... Lovi datang ke gue tadi siang," kataku membuat EJ refleks menoleh. Untuk pertama kalinya aku melihat ada ketakutan di wajahnya. "Dia kasih tau gue semuanya." Dia terbungkam.
"Mana cewek paling cantik di dunia ini selain gue? Gue mau lihat!" Aku melirik ke arah layar ponselnya.
"Siapa lagi HTS lo?" tanyaku, sengaja ingin membungkamnya. Tidak ingin memberinya kesempatan untuk bicara.
"Lo selingkuhin Lovi dengan jalan sama Laras? Sekarang, lo deketin gue? Lo masih sama Laras nggak?"
EJ membeku.
"Katanya lo lagi cari pelampiasan. Jadi, lo deketin gue cuma karena kesepian? Atau apa? Oh ya, lo bilang nggak bisa main gitar, kan? Lo nggak bisa ngertiin hati cewek juga ternyata."
"Ra ..."
"Iya?" sahutku pelan dan tenang padahal di dalam sana aku ingin berteriak. "Its okey, jujur gue baper sama perlakuan lo ke gue, gue merasa diistimewakan sama lo. Lo tau gue sering dibully, kan? Gue mana pernah diperlakukan istimewa sama orang lain.