⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya aku punya alasan untuk tersenyum. Aku berharap setelah takdir yang suram yang menimpaku dan Abel, akan selalu datang berita menyenangkan di depan sana.
Setelah mendapat kabar dari Aidan bahwa dia akan ke Indonesia, mulutku tidak pernah berhenti tersenyum. Aku ingin membagi kebahagiaan itu dengan Abel, tapi dia sudah tertidur.
Tentang rumah sakit itu, aku berusaha melupakannya. Mungkin Aidan ingin menjenguk temannya atau dia ingin melakukan check up untuk keperluan naik pesawat.
Aku mengenal Aidan sebagai manusia masa depan karena tubuhnya yang seolah kebal dengan sakit. Ketika kami kecil dulu, dia kehujanan berkali-kali dan tidak pernah masuk angin, sedangkan aku kelelahan sedikit saja akan langsung tumbang. Itu sebabanya aku tidak percaya dia sakit.
Tepat pukul tujuh malam, seperti rencanaku dengan Farel tadi siang. Aku sudah siap dengan pakaian santai. Aku tidak izin kepada Mama karena aku tau dia akan marah besar kalau tau aku akan keluar dengan Vicky.
Ngomong-ngomong, aku masih belum memberitahu tentang hubunganku dengan EJ yang sudah berakhir. Entah mama sudah tau sendiri dari tante Millie dan dia tidak mau membahasnya, atau memang dia belum tau sama sekali.
Aku menelfon Vicky, menyuruhnya untuk mengantarku ke mall. Tanpa basa-basi, Vicky langsung mengiyakan dan aku yakin sekarang dia dalam perjalanan menuju ke rumahku.
Aku menunggu Vicky di sebuah taman berjarak sepuluh meter dari rumah agar Mama tidak memata-matai kami. Vicky tiba dengan jaket denim dan kaos hijau tua. Wajahnya terlihat segar daripada biasanya. Aku tersenyum untuk menunjukkan betapa bahagia aku malam ini setelah lama sekali tidak menunjukkan senyum itu.
Vicky menautkan alis. "Lo nggak papa?" tanyanya.
Aku tidak menjawab, melainkan naik di motornya dan berpegangan di kedua bahunya. "Gue kasih tau di jalan. Ayo, jalan!"
Seperti janjiku, di tengah perjalanan yang ramai, aku menceritakan semuanya meskipun agak kesulitan karena suaraku tidak sekeras sauara angin. Setidaknya, aku bersyukur karena Vicky agak memelankan laju motor untuk bisa mendengarkan ceritaku bahwa Aidan akan datang ke Indonesia beberapa saat lagi.
"Lo suka sama Aidan?" tanya Vicky tiba-tiba.
Bibirku membungkam. Mendadak aku menyadari keantusiasan yang kutunjukkan sudah keterlaluan.
"Dia masuk ke kriteria papa lo nggak?" sambung Vicky ketika aku sedang bertanya-tanya dengan perasaanku sendiri.
Aku tidak tau apakah Vicky yang tidak berjarak denganku bisa mendengarkan detak jantungku yang begitu cepat.
"Keluarganya sama keluarga gue punya koneksi. Keluarganya punya perusahaan, karena dia anak tunggal, ya, pastinya dia jadi pewaris. Papanya juga beberapa kali meraih penghargaan di bidang bisnisnya. Aidan juga jago renang. Kenapa lo tanya kayak gitu?" tanyaku. Berusaha terlihat normal.