28. Alamanda

659 59 2
                                        

"Mama lo yang kasih tau gue tentang perjodohan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mama lo yang kasih tau gue tentang perjodohan itu. Gue bisa bantuin lo, Ra."

Aku membenci kenyataan bahwa EJ masih melanjutkan kalimatnya.

Vicky menggeleng padaku. Meskipun tidak terlalu kentara, aku bisa melihat dahinya berkerut. Dia menyuruhku untuk tidak percaya pada EJ, setidaknya itulah yang aku tangkap dari tatapannya.


"Lo pikir, yang selama ini gue lakuin ke elo untuk apa?" EJ kembali bicar. Dia berhasil menggoyahka kepercayaanku. "Ra, gue nggak melampiaskan kesepian gue setelah putus dari Lovi. Gue benar-benar tulus, gue suka sama lo. Udah gue bilang tadi, lo itu istimewa. Gue ... gue cinta sama lo, Ra. Kalau enggak, gue nggak akan kenalin lo ke orang tua gue."

Aku teringat ketika pertama kali bertemu dengan EJ dan ketika tau kenyataan bahwa dia ternyata mengenal keluargaku.

Di samping sikapnya yang buaya, EJ adalah satu-satunya cowok yang berhasil membuatku sadar bahwa aku layak untuk dicintai. Dia cowok pertama dalam hidupku  yang bilang bahwa dia mencintaiku.

EJ tidak salah, dia bisa jadi kesempatanku untuk terbebas dari perjodohan ini. Dia bisa saja membujuk Papa dengan mudah.

A

ku mengalihkan pandangan dari Vicky ke EJ. Bukannya ingin melepaskan diri dari Vicky karena tidak percaya padanya. Aku hanya ingin (mungkin) memberikan kesempatan kedua untuk EJ.

"Ra, dengerin gue dulu ..." EJ meraih tanganku.

"LO NGGAK DENGER GUE BILANG APA TADI?!" Vicky yang entah sejak kapan sudah memendam amarahnya, tiba-tiba muncul di antara kami berdua dan mengarahkan kepalan tangannya yang sekeras batu ke pipi EJ.

Aku berteriak, tapi tak ada suara dari mulutku. Atmosfir parkiran mendadak memanas dan aku membeku di tempat.

"KALAU DIA NGGAK MAU, NGGAK USAH MAKSA!" Vicky mendorong tubuh EJ ke tanah. Lalu menyuruhnya berdiri lagi untuk dipukulnya sebanyak tiga kali di area perut. Lalu di pipi, lalu di kening.

Aku pikir tampang mengerikan Vicky hanya semacam penghias untuk menakut-nakuti orang, ternyata tampang mengerikan itu adalah sebuah tanda awal sebelum dia bergerak untuk menyerang mangsa.

Dan yang lebih parah, Vicky tidak pernah sedikitpun memberikan kesempatan kepada EJ untuk sekedar bernapas. Dia tidak berhenti menghantamkan kepalan tangannya.

"Apa urusannya sama lo ... aughh!" raung EJ, berakhir dengan erangan karena pipinya digampar dengan tinjuan Vicky hingga bibirnya berdarah. "Ini urusan gue sama Samara ... aghh ... lo nggak usah sok ikut campur." Dia tergeletak di tanah. Seragam rapinya penuh lumpur. Darah mengalir di bibirnya. Dan dia tidak bisa bangkit.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang