⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku memenuhi paru-paru dengan oksigen sebelum membuka pintu tempat Abel sedang berbaring di atas ranjang. Rasanya seperti membuka pintu menuju ke dunia lain. Dunia di mana aku harus berpura-pura tersenyum padahal sebenarnya aku sangat sedih melihat keadaan Abel.
Dia benar-benar terbaring ketika aku membuka pintu itu. Terdapat luka-luka kecil dan masih memerah di wajah sempurnanya. Tangannya masih diperban nyaris seluruh bagian, membuatnya tidak punya kesempatan untuk memeragakan salah satu gerakan tari seperti kebiasaannya ketika sehat dulu. Aku bersyukur bagian tubuhnya yang lain tertutup selimut sehingga aku tidak melihat lebih banyak luka di tubuh malang itu.
Aku mendekat dengan perasaan getir. Mata itu terbuka, menengadah ke atas, seolah mempertanyakan kepada Tuhan, apa yang membuatnya dihukum semenyakitkan ini?
Bagaimana bisa aku menahan tangis?
"Bel!" sapaku dengan nada bergetar dan aku menyesal menumpahkan setitik air mata.
Bola mata Abel bergerak ke arahku. Kedua alisnya bertaut sendu. Aku bisa merasakan keluhan yang dia ucapkan lewat tatapan matanya. Seolah dia bilang padaku kalau dia kesakitan.
Aku tersenyum. Mengusap pipi dan mengubah ekspresi menjadi lebih ceria. "Lihat!" aku memperlihatkan buket bunga di tanganku. "Ini dari ketua OSIS, Farel. Ada juga dari yang lain, tapi gue nggak bisa bawa semuanya karena terlalu banyak. Nanti dokter marah kalau gue bawa semuanya." Aku mendengus tertawa.
"Tadi di sekolah, Bu Andrea dan banyak orang doain lo supaya cepat sembuh. Banyak juga yang titip salam." Aku duduk di kursi dan mengendalikan diri untuk tetap ceria meskipun tidak tega melihat tatapan mata kesakitan Abel. "Lo cepat sembuh, ya. Orang-orang nungguin, loh."
Mulutnya yang tercekat masker oksigen itu bergerak seolah ingin bicara. Sayangnya aku tidak bisa mendengar apa-apa kecuali dentingan monitor dari mesin-mesin aneh di sampingku. "Kenapa, Bel? Niko?" aku berusaha menebak.
"Niko aman, kok. Mama udah suruh supir buat pergi jenguk dia di asrama. Udah dibilangin juga, kalau lo ada di rumah sakit. Mama bilang mau ajak Niko ke sini, tapi anak-anak nggak boleh masuk ke ruangan ini, kan? Jadi, kamu ketemu Niko pasa udah sembuh aja."
Tangan Abel yang lebih sehat, meskipun ada memar di siku dan pergelangan, bergerak meraih masker oksigen di mulutnya.
"Bel, jangan copot!" cegahku dan Abel lebih dulu melepas masker oksigen itu. Aku sempat takut, tapi Abel terlihat baik-baik saja. Dia tidak bereaksi apa-apa.
"Juilliard ...," bisiknya dengan suara mirip rintihan. "Pentas itu... ."
Aku teringat tentang acara pentas yang seharusnya Abel ikuti. Audisi berkedok kontes yang akan memberikan kesempatan kepada Abel untuk mendapatkan beasiswa di Juilliard, mimpinya. Dan aku tidak tau harus menjawab apa.
"I-iya ... pentasnya besok malam." Aku agak merasa bersalah ketika melihat ekspresi Abel yang semakin terpukul. "Its okey, masih ada banyak kesempatan. Semua orang juga tau gimana keadaan lo sekarang. Pokoknya lo fokus sembuh dulu. Kita pikirin itu nanti. Oke?"
"Enggak, Ra," sahut Abel dengan nada lebih solid dan jelas. "Seharusnya gue di sana sekarang. Seharusnya gue udah persiapan." matanya berkaca-kaca.
Aku menggeleng kecil. Menolak untuk mengerti rasa sakit Abel lewat suaranya, tapi aku dan Abel seperti sudah terkoneksi dengan sesuatu yang membuatku langsung tau bagaimana rasa sakit yang dia rasakan sekarang.
"Kalau nggak sekarang, kan bisa nanti, Bel, kalau lo udah sembuh. Tenang aja, intinya lo sembuh dulu. Kalau lo udah sembuh, gue akan antar lo audisi dimanapun sampai lo berhasil. Gue akan nemenin lo latihan dua puluh empat jam. Lo bisa nari dengan puas dan lampiasin semua amarah lo lagi. Tapi intinya satu ... apa? Sembuh!" aku berusaha menebarkan vibes positif.
"Samara!" sapa Mama dari arah pintu. Entah sejak kapan dia sudah berdiri di sana.
Aku menoleh. Apa yang begitu penting sampai Mama menyela percakapan antara aku dengan Abel?
"Bisa kita bicara sebentar?" pertanyaan Mama jelas membuatku gelisah setengah mati. Aku baru sadar ekspresi Mama berubah tidak seperti biasanya. Seolah ada sesuatu yang Mama pendam dan sesuatu itu sangat penting.
Apa karena aku pulang dengan Farel? Bukankah ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan tentang masalah itu?
"Kenapa, Ma?" tanyaku begitu tiba di depannya. Aku setengah bersiap untuk mendengar ceramahan Mama.
"Tadi Mama bicara sama Dokter. Katanya, Abel ..." Mama melirik ke arah Abel yang sedang menguping pembicaraan kami.
Otot-otot tubuhku agak menegang begitu mendengar ini ada hubungannya dengan Abel.
"Kata Dokter Abel lumpuh ..."
Aku pikir Mama masih akan mengucapkan kata 'Tapi,' dan berharap Mama bilang Abel akan sembuh dalam waktu dekat, tapi Mama terdiam. Lalu menunduk penuh rasa bersalah. Tidak ada kata 'Tapi'. Abel lumpuh dan tidak tau kapan dia akan sembuh.
Aku melirik Abel yang terkunci dalam keheningan. Pandangannya mendadak mengabur seolah kehidupan benar-benar hilang dari muka bumi ini. Seolah oksigen di dunia ini habis dan dia tidak tau bagaimana harus bernapas.
"Mama nggak bisa sembunyiin ini," jelas Mama, nyaris tidak terdengar di telingaku karena aku lebih dulu runtuh. Lalu aku sadar, Abel pasti lebih runtuh lagi dan dia tidak bisa melampiaskan perasaan hancurnya kecuali dengan terbaring, terkunci oleh alat-alat medis, dan menangis.
"Abel!" aku mengabaikan mama untuk meraih tangan Abel. Menenangkannya dan seandainya bisa aku ingin memeluknya.
"Ra, lo bohong! Gue nggak akan pernah bisa latihan lagi," katanya. Dia pernah ingin memberontak dengan air mata bercucuran ketika tau bahwa ayahnya meninggal, dan kini kejadian yang sama terulang lagi. Bedanya, bukan ayahnya Abel yang meninggal, melainkan Abel sendiri. Dia memang tidak benar-benar meninggal, tapi direnggut impiannya berkali-kali membuatnya tidak tersisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.