⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku baru saja pulang sekolah ketika melihat Abel sedang diperiksa oleh dokter di kamarnya. Kamar Abel terletak di samping kamarku. Sebelumnya, kamar itu adalah tempatku menaruh barang-barang lama yang sudah tidak terpakai. Bukan gudang, hanya saja, ruangan itu sudah lama tidak digunakan.
Aku dan Pak Prapto, salah satu pelayan di rumahku, sudah memperbaiki semuanya sebelum Abel tinggal di sana. Catnya sudah dilapisi dengan warna pink seperti kesukaan Abel, kasurnya sudah diganti dengan yang baru, dan tentu saja semua barang-barang tidak berguna dikeluarkan dari sana. Mama sempat ingin membakar semua barang itu, tapi aku melarangnya dan sekarang aku tak tau dimana barang-barang itu berada.
"Bagaimana perasaan kamu, Abel?" tanya dokter di sela-sela pemeriksaan. Dia sangat banyak bicara. Auranya positif seperti Farel, sayangnya Abel sebaliknya, jangankan tersenyum, menanggapi saja tidak.
Dokter sampai menyarankan untuk mendatangkan psikiater untuk memeriksa keadaan psikis Abel juga karena Abel tidak pernah berhenti melamun.
Begitu dokter pergi, aku duduk di samping Abel. Mama keluar sambil menutupkan pintu kamar. Senyuman yang kuperlihatkan tak lain adalah senyuman miris, ketika aku melihat Abel lebih kurus daripada biasanya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya dan alisnya yang lebat, terlihat tidak serapi biasanya.
"Eh, tau nggak, ada episode baru doraemon!" aku berusaha menggugah semangat Abel untuk kesekian kalinya dan kali ini tetap gagal. Abel sama sekali tidak peduli dengan kartun favoritnya padahal biasanya dia histeris dan langsung mengajakku menonton.
"Ra, gimana kabar lo hari ini?" tanya Abel padaku. Terdengar normal. Tapi itulah yang membuatku takut. Abel selalu bersemangat. Jika nadanya senormal ini, itu artinya dia tidak baik-baik saja.
"Baik, kok. Gue baru aja pulang sekolah." Aku memperlihatkan seragam yang masih kupakai. "Orang-orang udah nggak sabar pengen ketemu sama lo. Nanti gue tanya dokter kapan lo udah boleh sekolah, deh."
Abel menggeleng. Menarik tanganku yang bergerak antusias. Dia tersenyum miris. "Enggak, Ra. Kayaknya gue udah nggak mau sekolah lagi."
Aku terdiam.
"Gue akan fokus bahagian Niko aja. Dengan keadaan gue yang kayak gini, gue nggak bisa apa-apa, gue nggak bisa cari beasiswa, sedangkan uang peninggalan Papa nggak akan cukup untuk biayain sekolah Niko sekaligus biaya gue. Jadi, lebih baik gue berhenti dan ..."
"Nggak gitu, Bel," selaku nyaris seperti seorang ibu yang memarahi anaknya. Ya, aku marah kepada Abel karena dia menyerah, padahal Abel yang kukenal tidak pernah punya kata menyerah di kamus hidupnya.
"Nggak ada cara lain." Abel mengedikkan bahu. Menatap miris kakinya yang terbujur kaku di bawah sana.
"Emangnya beasiswa itu cuma dari dance doang?" tanyaku, lalu menyesal karena sudah menyebut kata dance, kata yang akan membuat Abel semakin sedih.
Seperti dugaanku, Abel langsung mengalihkan pandangan. Senyumnya masih ada, tapi senyuman itu terlihat getir. "Lo pasti mau ngerjain tugas, kan? Gue juga kayaknya mau tidur."
Aku tidak yakin dia benar-benar ingin tidur, apalagi di tengah topik kami yang belum selesai. Aku yakin setelah aku keluar dari sini, dia akan berbaring, bukan untuk tidur, tapi untuk menangis.
"Abel, lo harus percaya, pasti ada jalan keluar," pesanku sebelum meninggalkannya sendirian. Aku menutup pintu dengan pelan. Penuh rasa bersalah.
Aku tidak tau lagi harus melakukan apa untuk mengembalikan Abel yang dulu. Andaikan bisa, aku ingin mengambil alih takdir Abel. Memberinya bahagia selamanya.
Aku masuk ke dalam kamar dengan setetes kecil air mata di pipi kiri. Tiba di sana, aku kaget melihat 3 panggilan tak terjawab dari seseorang. Bukan dari Vicky, bukan juga Farel, itu panggilan dari Aidan. Akhirnya si jamet itu ingat denganku.
Aku langsung menelfon balik, tak peduli dia mungkin sedang ujian dan aku membuatnya malu karena menlfonnya di saat yang tidak tepat.
Namun, Aidan sedang tidak ujian ketika dia menerima video call dariku. Dia sedang berada di sebuah tempat umum yang ramai. Dia mengenakan jaket abu-abu dan kaos merah. Rambutnya menaungi wajah putih bersihnya dari sinar lampu yang begitu terang.
"Kaget!" seruku ketika melihat wajahnya terpampang selayar penuh.
Aidan tertawa. Tawa bahagia yang akhir-akhir ini tidak pernah kudengar. Aidan membawa tawa kebahagiaan itu kembali ke telingaku. Lihatlah betapa bebas dirinya! Seolah tidak ada beban sama sekali.
"Paspor kedua setelah sekian lama!" katanya sambil menunjukkan buku bersampul biru sebesar telapak tangan.
Aku menautkan alis. Membaca judul buku kecil yang Aidan sebut paspor, belum sampai menemukan tulisan di sana, Aidan lebih dulu menarik pspor itu dari kamera.
"Mau liburan?" tanyaku. Mengingat sebentar lagi musim dingin dan libur panjang akhir semster.
"Surprise, Ra! Gue mau ke Indonesia!"
Aku mencerna selama beberapa detik. Lalu, mataku membelalak begitu sadar dengan ucapannya. "LO APA?!" tanyaku dengan nada antusias yang tidak bisa kupendam.
"Jadi takut kalau gue sampai di sana, pasti langsung digeprek sama lo karena saking kangennya." Aidan bergidik. Dan aku membelalak marah.
"Nggak deh," sahutku. "Nggak peduli gue, lo mau ke sini apa enggak, apa urusannya sama gue." Aku mengalihkan pandangan dari kamera.
"Sombong banget, anjir!"
Aku tertawa, menunjukkan bahwa kalimat yang kuucapkan hanyalah bercanda. Jujur saja, aku sangat bahagia sampai ingin menangis. Kedatangan Aidan mungkin akan jadi penenangku dalam keadaan yang sedang tidak karuan ini.
"Eh, kok lo tambah cantik si?" seru Aidan. Aku setengah tak percaya, tawaku semakin keras.
"Sejak kapan Aidan Nathaniel Edwarda muji gue?" sahutku sambil menahan perut yang kram karena tawa.
"Baru aja mau bilang kalau gue salah ngomong. Maksud gue, kok kamar lo tambah cantik si?"
Aku mendengus. "Ya udah, pacarin aja nih kamar gue."
Dia tidak menjawab. Kameranya bergoyang, menandakan kalau dia sedang bergerak entah untuk apa. Aku menunggu wajahnya muncul lagi dari kamera.
"Jadi, lo mau ke sini kapan?" tanyaku. Wajah Aidan belum muncul. Hanya suara keramaian yang terdengar. "Dan!"
Kamera berhenti bergerak, memperlihatkan orang-orang yang lewat di atasnya. Kelihatannya ponsel Aidan terjatuh di lantai. "Dan, ambil nggak hape lo?" seruku. "Halo! Kalau nggak jawab, gue matiin ya, soalnya berisik."
"Nanti gue telpon lagi. Gue harus ke rumah sakit sekarang!" sahut suara itu bersamaan ketika kamera bergoyang lagi.
"Kenapa? Lo sakit?"
Dan panggilan berakhir secara sepihak. Aku mengamati layar dengan pandangan kosong.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.