8. Astrantia

1.2K 98 8
                                        

Enjoy the music enjoy the story

Sejauh aku mengenal Aidan sampai kami beranjak dewasa bersama-sama lewat video call, aku baru tau kalau Aidan punya malu dan aku akan mengejeknya di belakang Abel nanti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejauh aku mengenal Aidan sampai kami beranjak dewasa bersama-sama lewat video call, aku baru tau kalau Aidan punya malu dan aku akan mengejeknya di belakang Abel nanti.

"Hay!" sapa Aidan. Melambaikan tangan dengan senyuman konyol yang membuatku sempat-sempatnya tertawa. "Cantik banget, mau kemana?" tanya Aidan dengan suara serak dan dalam impian para gadis.

Abel melepaskan tas punggungnya dan meletakkan di atas meja. Aku menyisihkan diri ke pinggiran kursi agar Abel bisa duduk di sampingku. Kami sama-sama menatap ke arah layar. "Abel selalu cantik, nggak perlu pas mau pergi doang," sahut Abel dengan percaya diri.

Seketika terlihat perbedaan yang sangat kontras antara sisi kanan dan sisi kiri kamera. Sisi kanan, wajah Abel terlihat bersinar seperti cahaya bulan. Sedangkan di sisi kiri, aku terlihat seperti ban sepeda yang menggelinding di atas tanah berlumpur.

Aku tau ini berlebihan, Abel selalu menyuruhku merasa cantik. Tapi, katakan padaku! Bagaimana aku bisa merasa cantik kalau orang yang selalu berada di sampingku adalah gadis yang menyerupai malaikat? Bukan merasa cantik, justru aku merasa terbanting jatuh ke bumi.

"Aidan, kan?" tanya Abel. Matanya yang terbingkai bulu mata lentik berbinar ke arah kamera. Bukan cuma Aidan, Abel pun terlihat antusias.

"Udah lama banget nggak lihat lo semenjak ..." Abel menoleh ke arahku. "Semenjak kapan, Ra? Waktu lo lagi video call sama Aidan, terus gue datang ke rumah lo dan gabung sama kalian."

Sekilas aku melupakan rasa insecure-ku dan menatap ke arah Abel untuk mengingat-ingat kapan tepatnya peristiwa itu terjadi.

Itu sudah lama sekali. Sebelum ayah Abel meninggal dan Ibunya masih sehat sehingga Abel punya waktu untuk datang ke rumahku.

Abel menatap ke arah kayar lagi. "Pokoknya, waktu kita ngomongin masalah Texas."

"Oh ya, gue ingat!" seru Aidan dengan nada tak normal. Dia sedang berusaha menutupi rasa gugupnya. "Gue bilang kalau Texas nggak seindah yang internet perlihatkan. Lo harus percaya, gue nggak bohong. Gue kasih saran, mending ke New York aja sih kalau lo mau ke Amerika. Di Texas lo nggak akan lihat apa-apa."

Oh, sekarang aku ingat mereka pernah membicarakan itu di video call sebelumnya. Mereka berdikusi tentang Texas, Abel yang sangat ingin pergi ke Texas, tapi Aidan melarang, padahal Aidan cuma ingin menggoda Abel.

Di video call itu, mereka berdua mengobrol seru sampai aku terabaikan dan sepertinya malam ini akan terulang lagi.

"Makasih sarannya. Still, gue pengen ke Texas," sahut Abel sambil mengedikkan bahunya.

"Karena ada gue, kan?"

Abel memanyunkan bibir sambil melepas kuncir di belakang kepalanya sehingga rambutnya tergerai cantik menutupi lehernya. "Pede banget gila."

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang