⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari yang cerah. Aku suka sinar matahari menerpa kulitku. Aku suka wajah ceria bercampur tegang para siswa yang sibuk membicarakan tentang rencana mereka di semester dua.
Ujian akhir semester atau di Triptha biasa disebut Final Assesment akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
Satu-satunya orang yang tidak tegang adalah Abel. Tiba-tiba saja dia mengajakku makan di kantin siang itu ketika aku ingin pergi ke rooftop untuk mencari Vicky.
"Tiket pertama, gue kasih buat lo." Abel memperlihatkan sebuah kertas tebal seukuran karcis ke atas meja tempat kami sedang meminum susu kotak.
Aku membaca sekilas tulisan di tiket itu. 'Dancing With Your Heart' sebuah konser dance perdana yang Abel ikuti sebagai penari utama. Sebuah konser yang Abel impi-impikan semenjak kami masih SMP.
"SERIUS?" tanyaku dengan nada tak menyangka dan mata membelalak. Mimpi yang selama ini Abel ucapkan setiap berdoa, yang selama ini Abel tunjukkan kepada semua orang, ternyata jadi nyata.
"Serius!" sahut Abel dengan nada tenang padahal seharusnya dia histeris.
Aku masih belum melupakan keantusiasan kami ketika mendengar Abel jadi ketua cheers, sekarang dia memberitahuku bahwa dia punya konsernya sendiri. Bagaimana aku bisa menahan teriakanku saat ini?
"AAA! Abel, mimpi lo jadi nyata!"
"Samara, stop!" Abel menarik tanganku yang kuangkat tinggi-tinggi di udara. Beberapa orang menatap ke arah kami dan aku tidak peduli. Aku duduk lagi, senyum bahagia di wajahku tidak bisa luntur.
"Maaf kalau selama ini gue selalu sibuk dan nggak pernah punya waktu buat lo, Ra. Gue tau lo pasti marah sama gue," katanya seolah berhasil membaca isi pikiranku yang selama ini kutunjukkan dengan senyuman palsu.
Jujur saja, aku memang agak kesal padanya karena dia tidak pernah melirikku dan hanya fokus dengan dance-nya. Sekarang aku menyesal karena pernah berpasangka buruk pada Abel padahal dia melakukan semua ini untuk menggapai mimpinya.
"Mulai sekarang, gue akan punya lebih banyak waktu buat lo, karena mimpi gue udah tercapai." Mata Abel berkaca-kaca. Aku sangat ingin memeluknya jika saja tidak ada meja di antara kami berdua.
"Jadi, lo akan konser di Wisma Kreativitas Triptha besok malam sebagai penari utama dan ..."
"Dan dapat beasiswa di Juilliard," sela Abel.
"Wait, what?!" senyumku pudar dan berubah menjadi ekspresi terkejut.
Abel tertawa melihat ekspresiku. "Jadi, sebenarnya konser itu didonaturi oleh pihak Juilliard, Ra. Dan, berkat konser itu, Juilliard nerima gue sebagai mahasiswanya lewat jalur beasiswa. Its okey, gue tau lo pasti akan kaget. Lo orang pertama yang tau."