⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketegangan menyelimuti kamar Abel. Aku berdiri di samping ranjang sambil menggigiti kuku, Mama berdiri di ambang pintu, membawa nampan berisi makan siang Abel, sedangkan Aidan duduk di ujung tempat tidur. Kami semua menatap penasaran ke arah dokter yang sedang memeriksa Abel dengan stetoskop.
Setidaknya Abel tidak seperti kami yang tegang, dia tersenyum seolah bisa memprediksi apa yang diucapkan dokter adalah kabar baik.
"Tidak bisa dipercaya---"
"Nah, kan!" seru Aidan. Nada antusiasnya berhasil membuat Mama menghela napas lega, senyum Abel semakin lebar dan aku menatap tak percaya. "Jadi, Abel sudah boleh sekolah?"
"Sudah dong, sudah sehat begini." Dokter menepuk pelan bahu Abel.
Semua orang menghela napas lega.
Abel berusaha duduk dengan tangannya sendiri.
"Dokter, jangan khawatir. Abel akan selalu ada di bawah pengawasan saya," jelas Aidan bahkan sebelum dokter mengatakan apa-apa. Tapi dari senyum bahagia di wajah dokter, berita yang akan dia sampaikan adalah berita bagus.
"Saya percaya, kok," kata dokter. Abel berteriak paling keras dari yang lain. Aku meloncat ke pelukannya.
Aku yakin dokter akan mengurung Abel lebih lama di sini seandainya Aidan tidak meyakinkannya.
🍁
Karena ini sudah teralu malam, aku menyuruh Abel untuk istirahat. Aku harus memaksa Aidan keluar dari kamar dengan menarik lengannya. Jika tidak, cowok itu tidak berhenti memuji Texas dan memaksa Abel mendengarnya sampai Abel bosan.
Saat tiba di ruang tamu, aku tidak menyangka akan melihat sepasang suami istri duduk di kursi tamu berhadapan dengan Mama.
Wanita paruh baya mengenakan blazer coklat dipadukan dengan celana bahan bermodel terompet, dia adalah mamanya Aidan. Lalu laki-laki yang mengenakan turtlenack rajut dan kacamata hitam yang sering kulihat bertahun-tahun lalu. Kaca mata hitam itu milik ayahnya Aidan dan sampai sekarang beliau belum menggantinya.
"Samara!" seru wanita paruh baya itu. Dia bangkit dari kursi, memperlihatkan tubuhnya yang sudah tidak seramping dulu. Dia merentangkan tangan untuk memelukku.
"Bunda Eren!" aku membalas pelukan itu. Beliau adalah wanita pertama yang kupanggil Bunda. Beliaulah yang mempertemukanku dengan bundaku saat aku masih di panti asuhan dulu.
"Look at you!" seru Bunda Eren sambil menatap wajahku dengan ekspresi takjub, Ayolah, aku tidak secantik itu. Tidak sampai kau melihat Abel berdiri di sampingku. Aku akan langsung jomplang. "Samara, Tante punya banyak hadiah buat kamu, pastinya bisa bikin penampilan kamu jadi makin cantik!" Dia menyuruhku duduk di sampingnya. Bahkan dia tidak melepaskan pegangan di lenganku. Dan karena aku duduk di samping Tante Eren, itu berarti di sisi kiriku ada Aidan.