⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kami menyantap masakan Tante Millie yang ternyata tidak kalah enak dengan masakan Mama.
Aku ditawari banyak sekali varian. Untuk menghormati mereka, aku mencoba setiap varian yang ditawarkan meskipun cuma sedikit.
Semakin lama, mereka semakin lupa dengan berdebatan menggemaskan antara Maddy dan EJ di atas meja. Meskipun begitu, aku tidak akan pernah melupakan momen ini.
Aku juga penasaran apa yang disembunyikan EJ di kamarnya dan aku penasaran bagaimana bisa anak sekecil Maddy bisa bicara sekasar itu.
"Samara, sering-sering datang ke sini," kata Tante Millie setelah menawarkan rendang kepadaku. "Selama ini EJ sering bawa temannya, tapi baru kali ini dia bawa teman cewek."
"He is gay," sela Maddy membuat satu meja menoleh padanya.
"WHAT?!" bahkan aku ikut berseru bersamaan dengan mereka. Tampaknya, seperti kakaknya, Maddy hobi sekali membuat orang jantungan.
"Maddy, bisa nggak si kamu diam!" EJ terlihat ingin meremukkan Maddy menjadi butiran pasir dan menaburkan pasir itu ke atas lautan.
"Bercanda," sahut Maddy. Menjulurkan lidah ke arah EJ.
"Anyway," Tante Millie mengambil alih obrolan. "Lain kali, ajak juga Mama sama Papa kamu. Mereka sudah lama sekali nggak ke sini."
"Ngomong-ngomong soal Papamu. Katanya, ada masalah bisnis di perusahaan keluargamu, ya?" Om Anton ikut bertanya setelah menelan saladnya.
Aku tidak biasa ditanya tentang kejadian di rumah. Apalagi tentang perusahaan Papa, tapi menurutku, cocok saja jika Om Anton bertanya seperti itu. Terutama karena mereka punya kerja sama. "Iya, Om."
Kami mengobrol sangat banyak. Aku jadi tau kalau mereka ternyata adalah keturunan asli Amerika Utara.
Mereka pindah ke Indonesia untuk mengikuti jejak nenek mereka. Hingga kini mereka tidak punya rencana untuk kembali ke Amerika karena Indonesia sudah menjadi rumah mereka sendiri.
Maddy sesekali menyahut dengan sarkas, tapi tidak pernah sekalipun dia berani sarkas padaku. Mungkin karena aku adalah orang asing di tempat ini.
Piring-piring mulai kosong. Aku menghabiskan setengah piring dengan susah payah karena merasa tidak terlalu bebas makan di rumah orang lain.
Satu-satunya piring yang masih terisi adalah piringnya Maddy. Gadis itu mengunyah lama sekali.
"Wah, ada acara. I need to go back." Om Anton melirik arlojinya. Bangkit dari kursi untuk berjalan keluar ruang makan.