⚠️⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG⚠️⚠️
ALUR SUDAH DIREVISI
TRIPTHA SERIES 1 : EVIDEN Memandang Semesta Dari Mata Yang Terluka
Semesta itu indah jika dilihat dari mata orang-orang yang bahagia, tapi bagaimana jika keindahan semesta dilihat dari mata yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langkahnya terhenti. Napasnya bisa kudengar. Aku takut tangannya yang terkepal akan dia gunakan untuk memukulku. Namun, aku tidak yakin apa yang membuatnya marah.
"Bukan," sahutnya dengan nada lugas yang membuatku takut untuk bertanya lagi.
"Oke ... sebelum lo pergi, gue mau minta saran dari lo."
Dia duduk lagi. Menatap ke arahku. Meskipun dengan ekspresi datar, aku senang dia memperlihatkan kepeduliannya dengan bertahan di sini meskipun dia terlihat sudah tidak sabar untuk pergi.
"Vicky ... gue bukan cewek yang berpengalaman. Gue ... lo tau kan, belum pernah pacaran. Tapi lo pernah. Lo bisa kasih tau gue nggak, apa yang bisa buat cowok tertarik sama seorang cewek? Lo tertarik sama Laras karena apa?" Aku melanjutkan dengan nada malu-malu. "Harusnya gue tanya ini ke Abel, tapi dia sibuk dengan ekskul dancenya jadi gue cuma bisa minta pendapat dari lo. Gue harus apain wajah jelek ini biar EJ suka?" tanyaku sambil menunjuk wajahku dengan ekspresi jijik.
Tatapannya melunak. Dia menarik tanganku agar tidak menghalanginya memandang secara utuh setiap sudut wajahku. "Nggak ada yang perlu diperbaiki."
"Oh ya?" tanyaku. "Terus, gue harus apa sebagai cewek? EJ itu terlalu cerdas cari topik pembicaraan. OH YA!" histerisku. "Dia berusaha mendapatkan kepercayaan dari gue. Dan gue nggak tau harus ngomong apa. Gue merasa ... nggak layak."
Harapanku pupus karena tau dia tidak akan mau memberiku solusi tentang pimikiran bodoh itu. "Gue nggak tau harus pakai apa," sambungku dengan nada putus asa. "Dia suka lengan panjang atau pendek, dia suka warna merah atau biru, gue nggak tau. Baru pertama kali ini gue bingung masalah pakaian."
"Nggak usah mikir ribet," selanya, kubalas dengan seruan marah.
"Gimana mungkin gue nggak ribet, Vicky! Gue harus kasih fisrtimpression yang baik buat keluarga EJ. Gue nggak bisa datang pakai kaos, pasti mereka akan berpikiran negatif tentang gue, tau nggak, sih."
Vicky terdiam. Seolah kaget melihat sikap asliku.
"Vicky, EJ satu-satunya orang yang menerima gue di sini selain Abel ... dan lo." Aku merendahkan suara. Tidak lagi menggebu-gebu. "Semuanya berubah semenjak lo ungkap kebenaran tentang Laras itu. Dan lo tau ... cuma EJ yang memperlihatkan betapa dia kagum sama gue. Lo tau, kan ... gimana rasanya dianggap istimewa oleh seseorang? Dan lo tau kan ... selama ini gue nggak pernah dianggap istimewa sama siapapun di sini? Gue nggak mau ngecewain EJ."
"Jadi, lo suka sama EJ, atau lo cuma merasa dianggap istimewa sama dia?" tanya Vicky. Ini pertama kalinya dia mengintimidasiku dan entah kenapa aku benci mendengarnya.