15. Bougenville

944 70 7
                                        

A

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

A

ku baru saja ingin mendikte EJ punya niat jahat seandainya dia tidak membelokkan mobil ke jalan raya dan berhenti di Moonlight Blooms, sebuah toko bunga cukup populer di kota.

Kabar baiknya, aku sering ke sana. Kurang lebih sekali seminggu karena Mama adalah pemilik toko bunga tersebut.

Namun, aku tidak menemukan alasan kenapa EJ menghentikan mobilnya di parkiran Moonlight Blooms.

Mungkinkah dia tau kalau ibuku berada di sini dan berniat untuk mempertemukan seorang anak dengan ibunya?

Atau mungkin dia pernah memata-mataiku yang sering datang ke tempat ini?

Ada sesuatu yang tidak beres tentang EJ.

Dari tampangnya, aku menebak dia ingin membelikanku bunga dan berlagak romantis untuk menciptakan lebih banyak kupu-kupu di perutku.

"Come on!" katanya sambil melepas sabuk pengaman dan mematikan mesin. Dia membuka pintu mobil.

Aku tidak ingin diperlakukan seperti ratu lagi karena itu terkesan merendahkan, jadi aku buru-buru keluar sebelum dia membukakan pintu untukku.

Orang-orang berkelas datang ke tempat ini untuk membeli karangan bunga. Mama seringkali membanggakan bangunan berlantai tiga dengan etalase penuh warna itu sebagai bagian dari hidupnya.

Moonlight Blooms ini tersinpirasi dari namaku katanya. Dia suka bunga semenjak tau nama anak adopsinya terdiri dari tiga rangkaian nama bunga. Itu sebabnya tempat ini sangat istimewa bagiku.

EJ menggenggam pergelangan tanganku. Aku yang tidak terbiasa dengan genggaman seorang cowok merasa agak risih, tetapi dia menciptakan suasana yang berbeda. Dia menggenggam dengan lembut, erat, dan nyaman.

Dia melangkah antusias, membawaku masuk ke dalam melalui pintu yang terbuka secara otomatis.

Baru saja masuk, kami langsung disapa dua orang pekerja yang mengenakan pakaian bermotif bunga.

Ada hiasan mistletoe menggantung di langit-langit, juga tanaman ivy palsu merambat di dinding. Musik yang mengalun indah membuatku merasa seolah berada di kebun bunga.

EJ berhenti di sebuah vas yang penuh mawar. Dia memperhatikan titik kecil air di atas kelopak yang merah merona. "Kalau gue jadi Mama lo, gue akan kasih lo nama Rose." Dia meraih bunga mawar itu dan menyodorkan ke depan wajahku. Mata hijaunya menyala-nyala diterpa lampu terang. "Biar lo bisa ngerasain valentine setiap hari."

Aku berharap EJ tidak merasakan telapak tanganku berkeringat karena gugup. Dia memberiku semacam kejutan listrik yang menyenangkan dan membuatku ketagihan.

"Atau lo lebih suka ... kamboja." Dia memetik bunga kamboja dari tangkainya. Sebelum aku sempat memperingatkannya, dia lebih dulu menepis jarak di antara kami.

EVIDEN (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang